:strip_icc()/kly-media-production/medias/5465397/original/017388000_1767767423-Gemini_Generated_Image_gklbi2gklbi2gklb.png)
Seiring pergantian tahun ke 2026, konsumsi jus diet rendah kalori kembali menonjol sebagai salah satu strategi populer masyarakat global untuk memulai gaya hidup sehat, didorong oleh rekomendasi ahli gizi dan studi terbaru yang menyoroti manfaat hidrasi serta asupan mikronutrien esensial. Tren ini, yang kerap muncul setiap awal tahun, kini diperkuat oleh kesadaran akan pentingnya manajemen berat badan dan detoksifikasi alami pasca-liburan, khususnya di tengah peningkatan prevalensi penyakit terkait gaya hidup.
Sejarah diet berbasis jus bukanlah fenomena baru; ia telah berevolusi dari sekadar tren detoksifikasi jangka pendek menjadi bagian integral dari pola makan berkelanjutan. Pada dekade sebelumnya, jus detoks sering dikritik karena klaim berlebihan dan kurangnya bukti ilmiah. Namun, di tahun 2026, fokus telah bergeser ke formulasi jus yang seimbang, menggabungkan buah dan sayuran rendah gula dengan profil nutrisi tinggi. Dr. Anya Sharma, seorang ahli gizi klinis terkemuka yang berbasis di London, menekankan bahwa "Jus rendah kalori yang tepat dapat menjadi suplemen nutrisi yang sangat baik, bukan pengganti makanan lengkap. Kuncinya adalah memilih bahan yang kaya serat dan rendah indeks glikemik untuk menghindari lonjakan gula darah."
Peningkatan minat terhadap jus rendah kalori juga sejalan dengan proyeksi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang memprediksi peningkatan kesadaran akan nutrisi personalisasi dan konsumsi makanan berbasis nabati hingga tahun 2030. Laporan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada akhir 2025 menunjukkan adanya peningkatan 15% dalam konsumsi buah dan sayur segar di kalangan masyarakat perkotaan, mengindikasikan pergeseran positif menuju pilihan makanan yang lebih sehat. Jus yang diracik dari bahan-bahan seperti seledri, mentimun, bayam, apel hijau, dan sedikit jahe atau lemon menjadi pilihan favorit. Kombinasi ini menawarkan hidrasi optimal, antioksidan kuat, dan vitamin C tanpa menambah beban kalori signifikan. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Nutritional Science pada Oktober 2025 menemukan bahwa partisipan yang secara teratur mengonsumsi jus sayuran hijau rendah kalori mengalami peningkatan energi dan perbaikan kualitas tidur.
Implikasi jangka panjang dari adopsi pola konsumsi jus sehat ini berpotensi mengurangi beban penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Dengan menyediakan nutrisi penting dalam bentuk yang mudah diserap, jus dapat membantu individu mencapai target asupan harian buah dan sayur yang seringkali sulit dipenuhi. Selain itu, industri minuman sehat diproyeksikan akan terus tumbuh, mendorong inovasi dalam produk jus siap minum yang lebih sehat dan transparan dalam label nutrisinya. Namun, para ahli juga memperingatkan bahwa ketergantungan eksklusif pada jus tanpa asupan protein dan serat yang cukup dari makanan padat dapat menyebabkan defisiensi nutrisi. Profesor David Lee dari Stanford University School of Medicine menyatakan, "Meskipun jus dapat mendukung, ia harus dilihat sebagai komponen pelengkap dalam diet seimbang yang kaya akan protein tanpa lemak, biji-bijian, dan lemak sehat." Edukasi publik mengenai cara meracik jus yang benar dan memadukannya dengan gaya hidup aktif akan menjadi krusial untuk memastikan tren ini membawa dampak kesehatan yang berkelanjutan dan bukan hanya resolusi sesaat.