
Peningkatan kasus gagal ginjal kronis kini tidak lagi didominasi oleh kelompok usia lanjut, melainkan telah bergeser secara mengkhawatirkan ke usia produktif, termasuk Generasi Z. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan pada 2018 menunjukkan prevalensi penyakit ginjal kronis (PGK) mencapai 1,33 persen pada usia 15-24 tahun dan 2,28 persen pada usia 25-34 tahun. Tren ini semakin ditegaskan oleh Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, yang mencatat proporsi hemodialisis atau tindakan cuci darah untuk kelompok usia 25-34 tahun melonjak signifikan dari 19,29 persen pada 2018 menjadi 31,4 persen pada 2023, mengindikasikan kerusakan ginjal yang lebih parah pada usia muda.
Fenomena ini, menurut para ahli, sangat berkaitan erat dengan gaya hidup instan dan budaya "self-reward" yang kerap diterjemahkan dalam konsumsi berlebihan makanan dan minuman tidak sehat, serta kurangnya aktivitas fisik. Dr. Tunggul D Situmorang, SpPD-KGH, spesialis penyakit dalam, menuturkan bahwa PGK pada usia 20-an atau Generasi Z sangat dipengaruhi oleh pola hidup yang tidak sehat secara keseluruhan. "Pola hidup sangat berpengaruh. Misalnya, konsumsi junk food berlebihan dan segala macamnya bisa memicu kondisi ini lebih sering terjadi pada usia yang lebih muda," ungkap Dr. Tunggul, seraya menyoroti kebiasaan "self-reward" dengan minuman boba atau kopi kekinian tinggi gula sebagai "investasi buruk" bagi kesehatan ginjal di masa produktif.
Kebiasaan konsumsi minuman manis yang tinggi gula menjadi salah satu faktor risiko paling menonjol. Minuman kemasan, kopi kekinian, dan boba, yang seringkali dipilih sebagai bentuk "self-reward", mengandung kadar gula dan bahan tambahan seperti pengawet serta pemanis buatan yang memberatkan kerja ginjal. Dr. Iip dari RSUD Cilacap menjelaskan bahwa jika dikonsumsi terus-menerus dalam jangka panjang, ginjal akan bekerja lebih keras untuk menyaring racun dan menjaga keseimbangan cairan tubuh, yang pada akhirnya dapat merusak sel-sel ginjal. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bahkan telah mengingatkan Generasi Z untuk membatasi asupan gula maksimal 50 gram atau setara 4 sendok makan per hari, guna mencegah penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan gagal ginjal. Data SKI 2023 menunjukkan bahwa 56,2 persen penduduk Indonesia di atas 3 tahun mengonsumsi makanan manis 1-6 kali seminggu, dan 33,7 persen lebih dari sekali sehari, mencerminkan pola konsumsi gula yang mengkhawatirkan.
Selain minuman manis, konsumsi makanan olahan tinggi natrium dan fosfor, seperti nugget, sosis, dan mi instan, juga turut berkontribusi pada kerusakan ginjal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa asupan fosfor berlebihan dari makanan olahan dapat membahayakan kesehatan ginjal dan tulang. Gaya hidup minim gerak atau sedentary lifestyle juga menjadi pemicu signifikan. Dr. dr. Widi Atmoko, SpU(K), FECSM, FACS, spesialis urologi dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), mengungkapkan bahwa duduk terlalu lama, kurang olahraga, dan lupa minum air yang cukup dapat memicu dehidrasi dan penumpukan limbah dalam tubuh, yang berisiko mempercepat pembentukan batu ginjal dan kerusakan ginjal. Kurang minum air putih dan sering menahan buang air kecil adalah kebiasaan sepele lain yang memperburuk kondisi.
Penggunaan suplemen atau obat-obatan bebas tanpa pengawasan medis juga disebut sebagai salah satu faktor risiko yang mengkhawatirkan di kalangan anak muda. Dr. Rifda Savirani MHPE dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah, serta Dr. Debby Christiana Soemitha, Sp.PD dari Heartology Hospital, menegaskan bahwa konsumsi suplemen berlebihan, terutama kalsium dan vitamin D tanpa pengawasan dokter, dapat menumpuk di ginjal dan membahayakan fungsi organ tersebut.
Implikasi dari pergeseran tren PGK ke usia muda sangat besar, tidak hanya bagi individu tetapi juga sistem kesehatan nasional. BPJS Kesehatan melaporkan peningkatan pembiayaan gagal ginjal kronis secara signifikan, dari Rp 6,59 triliun pada 2019 menjadi Rp 11,06 triliun pada 2024, dengan peningkatan 30 persen pada pasien muda dari 2023 ke 2024. Kondisi ini mengancam produktivitas generasi muda dan membebani keuangan negara. Para ahli kesehatan menyoroti bahwa penyakit ginjal kronis seringkali tidak menunjukkan gejala berarti pada tahap awal, sehingga deteksi dini menjadi sangat krusial. Tanpa intervensi gaya hidup yang serius, Dr. Debby Christiana Soemitha memperingatkan bahwa "jika dibiarkan 5-10 tahun lagi tidak terbayangkan akan seperti apa generasi muda Indonesia nantinya."