Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Hidup Tergantung Cuci Darah: Kisah Pemuda 23 Tahun Melawan Gagal Ginjal Kronis

2026-01-04 | 11:59 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-04T04:59:41Z
Ruang Iklan

Hidup Tergantung Cuci Darah: Kisah Pemuda 23 Tahun Melawan Gagal Ginjal Kronis

Seorang pemuda berusia 23 tahun kini harus menjalani rutinitas cuci darah seumur hidup setelah didiagnosis gagal ginjal kronis stadium lima, sebuah kondisi yang memperlihatkan peningkatan mengkhawatirkan pada kelompok usia produktif di Indonesia. Kasus ini menyoroti dampak serius gaya hidup modern yang memicu kerusakan organ vital pada usia muda. Pemuda bernama Kyle tersebut mengungkapkan penyesalannya atas pilihan konsumsi makanan serba instan dan minuman tidak sehat di masa lalu, yang kini memaksanya terikat pada mesin dialisis.

Fenomena gagal ginjal kronis (GGK) bukan lagi dominasi kelompok lanjut usia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan pada 2018 menunjukkan 0,38 persen atau sekitar 3,8 dari setiap 1.000 penduduk Indonesia menderita PGK, dengan 60 persen di antaranya memerlukan dialisis. Angka ini setara dengan 739.208 jiwa di atas usia 15 tahun yang didiagnosis PGK. Lebih lanjut, prevalensi PGK di kelompok usia dewasa 35-44 tahun tercatat 3,31 persen, sementara pada usia di atas 65 tahun mencapai 8,23 persen.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Dr. Eva Susanti, sempat menyatakan bahwa Indonesia saat ini menghadapi bonus demografi, namun justru pada usia 35 tahun mulai menampakkan orang dengan usia produktif menderita penyakit ginjal kronis, yang menurutnya harus diwaspadai.

Penyebab utama gagal ginjal kronis di usia muda sangat bervariasi, namun didominasi oleh faktor gaya hidup dan kondisi medis yang mendasari. Spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, dr. Pringgodigdo Nugroho, SpPD-KGH, menyebut hipertensi dan diabetes sebagai penyebab terbanyak PGK di Indonesia. Selain itu, nefropati diabetik dan glomerulopati juga menjadi penyakit dasar PGK yang banyak menjalani dialisis. Kebiasaan konsumsi makanan olahan tinggi natrium dan fosfor, asupan garam berlebih, merokok, kurang minum air putih, minuman manis berlebihan termasuk minuman bersoda, serta penggunaan obat penghilang rasa sakit secara berlebihan, semuanya berkontribusi pada kerusakan ginjal. Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ghufron Mukti, juga menyoroti bahaya minuman berenergi karena bahan pengawetnya, serta pentingnya memilah makanan akibat potensi kontaminasi zat berbahaya seperti antibiotik pada ikan lele atau pewarna pada buah-buahan.

Dampak finansial dari peningkatan kasus gagal ginjal kronis sangat besar. Biaya cuci darah (hemodialisis) yang harus dilakukan rutin, berkisar antara Rp820 ribu hingga Rp1,2 juta per sesi, menurut Ghufron Mukti pada 2023. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menanggung prosedur hemodialisis dan Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD), termasuk penggantian biaya kantong darah hingga empat kantong per bulan sebesar Rp360.000 per kantong. Namun, total pembiayaan gagal ginjal kronis di BPJS Kesehatan melonjak dari Rp6,59 triliun pada 2019 menjadi Rp11,06 triliun pada 2024. Pada tahun 2023, 1,5 juta kasus membutuhkan biaya Rp2,92 triliun. Beban biaya ini menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan pembiayaan kesehatan nasional.

Perhimpunan Nefrologi Indonesia mencatat bahwa akses pelayanan kesehatan bagi pasien penyakit ginjal di Indonesia belum merata, termasuk jumlah dokter ahli nefrologi yang masih terbatas. Hal ini menjadi tantangan bagi para pemangku kebijakan. Untuk meningkatkan kualitas hidup pasien, dukungan penuh dari keluarga dan lingkungan sosial juga sangat dibutuhkan agar pasien merasa tidak sendiri dalam berjuang.

Pencegahan menjadi krusial untuk menghadapi tren peningkatan PGK pada usia muda. Kementerian Kesehatan merekomendasikan pemeriksaan kesehatan rutin, konsumsi air putih cukup, pembatasan garam, menghindari obat-obatan tanpa resep dokter, serta mengendalikan faktor risiko seperti tekanan darah tinggi dan diabetes sejak dini. Deteksi dini penting karena gejala PGK seringkali tidak terasa pada tahap awal. Bagi pasien yang sudah membutuhkan terapi pengganti ginjal, transplantasi ginjal menjadi opsi. Idealnya, pasien yang menjalani transplantasi adalah mereka yang baru memulai dialisis, setidaknya kurang dari satu tahun. Tanpa penanganan yang efektif, PGK diperkirakan akan menjadi penyebab kematian utama global kelima pada 2040.