
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyerukan kewaspadaan tinggi terhadap peningkatan kasus influenza A subclade K, yang populer disebut "super flu," di Indonesia, dengan sebagian besar pasien teridentifikasi pada usia anak-anak. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) per akhir Desember 2025 menunjukkan 62 kasus "super flu" telah terdeteksi di delapan provinsi, dengan Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat mencatat jumlah kasus terbanyak. Istilah "super flu" sendiri, menurut Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Nastiti Kaswandani, bukan terminologi medis resmi, melainkan istilah awam yang merujuk pada influenza tipe A subvarian H3N2 dengan subclade K yang memiliki tingkat penularan cepat.
Dokter Nastiti menjelaskan bahwa influenza A (H3N2) subclade K dilaporkan menyebar dengan cepat, seperti yang terlihat di New York, Amerika Serikat, dengan 71 ribu kasus dalam satu minggu. Meskipun demikian, belum ada penelitian pasti yang mengonfirmasi bahwa subclade K menyebar lebih cepat atau menyebabkan gejala yang lebih parah dibandingkan influenza biasa. Gejala klinisnya serupa dengan influenza pada umumnya, meliputi demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan. Namun, pada kelompok rentan seperti balita dan lansia, infeksi ini berpotensi menimbulkan keparahan yang lebih tinggi. Ketua Umum IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, menekankan bahwa anak-anak dengan penyakit penyerta atau komorbid, seperti penyakit jantung bawaan, gangguan paru kronis, diabetes, obesitas, kelainan saraf, atau gangguan sistem imun, memiliki risiko jauh lebih besar mengalami perburukan kondisi jika terinfeksi influenza subclade K.
Kerentanan anak-anak terhadap infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), termasuk influenza, secara umum disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh mereka yang belum berkembang sempurna. Balita bahkan bisa mengalami ISPA tujuh hingga sembilan kali dalam setahun, terutama di perkotaan yang padat penduduk dan tinggi polusi. Kondisi lingkungan seperti musim hujan dan bencana alam seperti banjir di Sumatera dan Kalimantan Selatan juga meningkatkan risiko penularan. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi ISPA pada balita di Indonesia mencapai 34,2% dengan 86.364 kasus, dan pada anak usia 6-23 bulan mencapai 17,30%. Angka kejadian ISPA di Indonesia menempati peringkat pertama dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya dalam hal kematian balita.
Rendahnya cakupan vaksinasi influenza di Indonesia juga menjadi perhatian serius. Data menunjukkan cakupan vaksin influenza hanya kurang dari 1% dari populasi, jauh di bawah negara lain seperti Thailand (10%), Singapura (90 per 1.000 populasi), Jepang (250 per 1.000 penduduk), dan Korea (311 per 1.000 penduduk). IDAI merekomendasikan imunisasi influenza mulai usia enam bulan dan diulang setiap tahun. Meskipun vaksin yang tersedia saat ini masih efektif dalam menurunkan penularan dan keparahan subclade K, kesadaran dan akses masyarakat terhadap vaksinasi masih rendah.
Implikasi jangka panjang dari infeksi pernapasan berat pada anak bisa sangat serius. Pneumonia, salah satu komplikasi ISPA, merupakan penyebab utama kematian pada anak di bawah lima tahun secara global, merenggut lebih dari 650.000 jiwa setiap tahunnya di seluruh dunia. Di Indonesia, pneumonia menduduki peringkat kedua penyebab kematian tertinggi pada balita usia 29 hari hingga 11 bulan dengan persentase 15,9% pada tahun 2019. Infeksi kronis atau berulang dapat menyebabkan gangguan status nutrisi, menghambat kenaikan berat badan, dan bahkan berujung pada stunting atau gangguan pertumbuhan linier anak. IDAI terus mengimbau orang tua untuk lebih waspada, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika gejala memburuk atau disertai tanda bahaya seperti sesak napas. Peningkatan jaringan surveilans influenza-like illness (ILI) dan ISPA di Indonesia dari 46 situs pada 2023 menjadi 74 situs pada 2024 merupakan langkah penting untuk memantau situasi secara lebih akurat.