Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Ilmuwan Peringatkan Krisis Kanker Global: Mengungkap Faktor Pemicu Lonjakan Kasus

2026-01-09 | 00:33 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-08T17:33:39Z
Ruang Iklan

Ilmuwan Peringatkan Krisis Kanker Global: Mengungkap Faktor Pemicu Lonjakan Kasus

Para ilmuwan telah mengeluarkan peringatan keras mengenai lonjakan kasus kanker global yang diproyeksikan, dengan perkiraan mencapai 30 juta kasus baru per tahun pada tahun 2050. Angka ini merupakan peningkatan signifikan sebesar 77% dari 20 juta diagnosis pada tahun 2022, menurut laporan terbaru dari Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Peningkatan tajam ini didorong oleh kombinasi faktor demografi seperti pertumbuhan dan penuaan populasi, serta faktor risiko gaya hidup yang dapat dimodifikasi secara substansial.

Laporan Global Burden of Disease, yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet, menyoroti bahwa kasus kanker di seluruh dunia telah meningkat dua kali lipat sejak tahun 1990. Sekitar 42% dari kematian akibat kanker atau sekitar 4,3 juta jiwa pada tahun 2023, berkaitan erat dengan 44 faktor risiko yang sebenarnya dapat diubah. Dr. Lisa Force dari University of Washington menekankan bahwa data ini harus menjadi "alarm" bagi pemerintah di seluruh dunia, memperingatkan bahwa mengandalkan pengobatan saja tidak akan cukup untuk membendung "tsunami" kanker di masa depan.

Faktor risiko utama yang teridentifikasi meliputi penggunaan tembakau, yang masih menjadi pemicu utama dan menyumbang 21% dari total kematian kanker global. Pola makan tidak sehat dan kadar gula darah tinggi menjadi pemicu dominan di negara-negara dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Obesitas dan polusi udara juga merupakan dua faktor yang terus meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup modern dan urbanisasi. Selain itu, perilaku seks tidak aman menjadi faktor risiko utama di negara-negara berpenghasilan rendah, terutama terkait penularan virus pemicu kanker seperti HPV.

Secara historis, peningkatan kasus kanker telah diamati seiring dengan transisi ekonomi suatu negara, di mana insiden kanker cenderung lebih tinggi di negara-negara yang mengalami pembangunan ekonomi. Namun, negara-negara berkembang seringkali menanggung beban kematian akibat kanker yang tidak proporsional. Kanker paru-paru diproyeksikan tetap menjadi penyebab utama kematian akibat kanker pada tahun 2050, mencakup sekitar 19,2% dari seluruh kematian akibat kanker secara global, naik dari 18,7% pada tahun 2022. Pada tahun 2022, kanker payudara adalah jenis yang paling sering didiagnosis secara global, diikuti oleh kanker paru-paru dan kolorektal.

Implikasi dari proyeksi ini sangat besar, terutama bagi sistem kesehatan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang sudah menghadapi tantangan sumber daya. Laporan IARC menunjukkan bahwa jumlah kasus dan kematian akibat kanker diperkirakan akan meningkat hampir tiga kali lipat pada tahun 2050 di negara-negara dengan Indeks Pembangunan Manusia (HDI) rendah, dibandingkan dengan negara-negara dengan HDI sangat tinggi. Kesenjangan dalam perawatan kanker ini juga menjadi perhatian utama, dengan hanya 39% negara yang disurvei oleh WHO mencakup dasar-dasar manajemen kanker sebagai bagian dari layanan kesehatan inti yang dibiayai untuk semua warga negara.

Selain faktor gaya hidup dan demografi, penelitian juga menunjukkan adanya lonjakan kasus kanker pada usia muda. Analisis data kesehatan global yang diterbitkan dalam jurnal BMJ Oncology menemukan lonjakan sebesar 30% pada kasus kanker dini antara tahun 2019 dan 2030, dengan kanker payudara, pankreas, dan lambung menjadi jenis yang banyak diderita di kalangan muda. Para ilmuwan masih meneliti penyebab pasti peningkatan ini, meskipun peradangan kronis, faktor reproduksi, perubahan mikrobioma usus, dan kurangnya pemeriksaan rutin sejak dini telah diidentifikasi sebagai kemungkinan pemicu.

Masa depan penanggulangan kanker menuntut pendekatan yang lebih komprehensif. Prof. Maksum Radji, Guru Besar Prodi Farmasi FIKES Universitas Esa Unggul Jakarta, memperkirakan bahwa kanker akan mencapai 30 juta kasus baru pada tahun 2040 dan menekankan bahwa kesulitan akses perawatan terutama dialami oleh masyarakat dengan latar belakang sosial ekonomi rendah. Para peneliti menekankan bahwa beban kanker yang meningkat ini membutuhkan tindakan pemerintah yang lebih kuat, termasuk memperluas pencegahan, diagnosis lebih awal, dan akses yang lebih baik pada pengobatan yang efektif di tingkat nasional, regional, dan global. Hal ini mencakup investasi dalam pencegahan dan penanganan faktor risiko utama seperti merokok, kelebihan berat badan dan obesitas, serta infeksi.