Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Ilmuwan Ungkap Pemicu Kanker Kolorektal pada Usia Muda yang Sering Terabaikan

2026-01-22 | 20:07 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-22T13:07:01Z
Ruang Iklan

Ilmuwan Ungkap Pemicu Kanker Kolorektal pada Usia Muda yang Sering Terabaikan

Peningkatan signifikan kasus kanker kolorektal (KCR) pada individu di bawah usia 50 tahun, kelompok yang secara tradisional dianggap berisiko rendah, mendorong para ilmuwan di UT Southwestern meneliti pemicu yang selama ini kerap diabaikan. Penelitian mereka mengungkap kekakuan abnormal pada jaringan usus besar pasien muda sebagai faktor kunci yang mempercepat proliferasi sel dan meningkatkan risiko mutasi berbahaya.

Secara global, insiden KCR onset dini (didiagnosis sebelum usia 50 tahun) telah menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan. Laporan American Cancer Society pada tahun 2023 menunjukkan bahwa kasus KCR di antara orang dewasa berusia di bawah 55 tahun meningkat dari 11 persen pada tahun 1995 menjadi 20 persen pada tahun 2019. Di Indonesia, data International Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2022 mencatat sekitar 1.400 pasien KCR berusia di bawah 40 tahun dari total 25.997 kasus yang teridentifikasi, dengan 968 di antaranya berusia 30-39 tahun dan 446 kasus pada usia 20-29 tahun. Angka ini diproyeksikan terus meningkat jika tidak ada perubahan signifikan dalam gaya hidup dan pola konsumsi.

Tim peneliti di UT Southwestern menemukan bahwa pada pasien muda, usus besar menjadi sangat kaku dan keras. Pengerasan jaringan ini menyebabkan sel-sel bereplikasi lebih cepat dan berpotensi meningkatkan risiko mutasi berbahaya, sekaligus memicu pembentukan jaringan parut yang selanjutnya mendorong pertumbuhan sel. Para peneliti mengidentifikasi peradangan kronis sebagai penyebab kekakuan jaringan, yang mengubah kolagen – protein struktural utama di usus besar. Meskipun pemicu pasti peradangan kronis ini belum sepenuhnya jelas, faktor-faktor seperti pola makan yang buruk, merokok, kurang tidur, dan beberapa kondisi gastrointestinal kronis telah dikaitkan dengan peradangan. Seorang ahli bedah di UT Southwestern, yang memimpin penelitian ini, menegaskan bahwa studi ini merupakan yang pertama menyoroti peran kunci gaya biomekanik dalam patogenesis KCR onset dini.

Faktor genetik diketahui berperan dalam sebagian kasus KCR pada dewasa muda, dengan sekitar 20% pasien di bawah usia 50 tahun memiliki mutasi genetik bawaan. Namun, penelitian di negara berkembang, termasuk Indonesia, menunjukkan bahwa KCR pada usia di bawah 40 tahun tidak selalu berhubungan dengan kanker turunan, melainkan lebih sering sporadis. Ini mengindikasikan adanya pemicu lain yang lebih dominan dalam konteks populasi muda di negara berkembang.

Gaya hidup modern dan pola makan yang tidak sehat menjadi sorotan utama sebagai pemicu KCR pada usia muda. Pola makan tinggi daging merah dan olahan, kurang asupan serat dari buah dan sayur, serta konsumsi gula berlebihan adalah beberapa faktor diet yang meningkatkan risiko. Obesitas juga secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan risiko KCR kronis, dengan penelitian menunjukkan bahwa tingginya kadar lemak tubuh dapat memicu peradangan yang meningkatkan risiko kanker. Kurangnya aktivitas fisik atau gaya hidup sedenter, yang menyebabkan peradangan kronis dan pergerakan usus yang lebih lambat, juga diidentifikasi sebagai faktor risiko penting. Selain itu, perubahan mikrobioma usus dan penggunaan antibiotik berulang juga disebut sebagai faktor yang mungkin berkontribusi.

Deteksi dini menjadi tantangan signifikan karena gejala KCR pada dewasa muda sering kali diabaikan atau disalahartikan sebagai masalah kesehatan umum lainnya. Gejala seperti perubahan kebiasaan buang air besar (diare atau sembelit), darah pada feses, nyeri perut persisten, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, dan kelelahan kronis, harus diwaspadai. Dokter ahli gastroenterologi, Dr. Joseph Salhab, menekankan bahwa deteksi dini adalah kunci keberhasilan pengobatan, mengingat banyak kasus pada kalangan muda terdeteksi pada stadium lanjut.

Mengingat tren peningkatan yang mengkhawatirkan ini, ahli kesehatan, termasuk Dr. Sulpiana MBiomed dari Fakultas Kedokteran IPB University, serta dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dr. Annisa Zahra Mufida Sp.PD, menyerukan peningkatan kesadaran dan deteksi dini. Kementerian Kesehatan Indonesia sendiri berencana untuk melakukan skrining pada 33 juta populasi berisiko sebagai upaya menemukan kasus lebih dini. Temuan mengenai kekakuan jaringan usus besar membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut untuk memahami mekanisme spesifik di balik KCR onset dini dan mengembangkan strategi pencegahan serta pengobatan yang lebih efektif.