:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474545/original/072821600_1768484569-WhatsApp_Image_2026-01-14_at_21.42.52__1_.jpeg)
Kementerian Pariwisata Republik Indonesia melaporkan kenaikan signifikan dalam jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia sepanjang periode Januari hingga November 2025, mencapai 13,98 juta kunjungan, meningkat 10,44 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 12,66 juta kunjungan. Kunjungan tersebut mayoritas disumbangkan oleh lima negara utama, yaitu Malaysia, Australia, Singapura, Tiongkok, dan Timor Leste, menegaskan kembali dominasi pasar regional dalam lanskap pariwisata nasional. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyatakan bahwa komposisi ini mengindikasikan kuatnya pasar regional dan pentingnya penguatan konektivitas, promosi yang tepat sasaran, serta peningkatan kualitas layanan guna memperluas pasar ke kawasan lainnya.
Lonjakan ini menandai momentum pemulihan dan pertumbuhan berkelanjutan sektor pariwisata Indonesia pascapandemi COVID-19. Sepanjang Januari hingga November 2025, jumlah wisman mencapai 13,98 juta kunjungan, melebihi angka 12,66 juta pada periode yang sama tahun 2024. Angka ini mendekati target total 14 juta hingga 16 juta wisman yang dipatok Kementerian Pariwisata untuk keseluruhan tahun 2025. Kinerja positif ini turut didukung oleh rata-rata lama tinggal wisman yang meninggalkan Indonesia pada Agustus 2025 mencapai 11,02 malam, lebih tinggi dibandingkan 8,27 malam pada Agustus 2024.
Berdasarkan kebangsaan, data menunjukkan Malaysia menjadi kontributor kunjungan wisman terbesar ke Indonesia, menyumbang 17,3 persen dari total kunjungan hingga November 2025, diikuti oleh Australia 11,3 persen, Singapura 10,5 persen, dan Tiongkok 8,8 persen. Secara kumulatif, kelima negara ini berkontribusi lebih dari 56 persen dari total kunjungan wisman pada November 2025. Konsentrasi kunjungan wisman dari sisi pintu masuk udara masih terfokus pada lima bandara utama: Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Bandara Soekarno–Hatta Jakarta, Bandara Juanda Surabaya, Bandara Kualanamu Medan, dan Bandara Internasional Yogyakarta. Pintu masuk ini dianggap simpul strategis konektivitas pariwisata internasional Indonesia.
Pemerintah Indonesia secara aktif mengimplementasikan berbagai strategi untuk menjaga dan meningkatkan tren positif ini. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah menyepakati beberapa pilar utama penguatan sektor pariwisata, termasuk akselerasi pembangunan infrastruktur dan penguatan konektivitas, optimalisasi jaringan antarbandara, serta sinkronisasi program pusat dan daerah di destinasi prioritas. Selain itu, evaluasi kebijakan visa kunjungan juga masuk dalam agenda untuk menyederhanakan akses masuk wisman. Transformasi tata kelola melalui digitalisasi perizinan penyelenggaraan acara dan penguatan standar keselamatan wisata, termasuk skema asuransi, juga menjadi fokus.
Dampak ekonomi dari peningkatan kunjungan wisman ini signifikan terhadap perekonomian nasional. Kontribusi pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 3,96 persen pada kuartal III 2025, dengan proyeksi devisa pariwisata mencapai US$13,82 miliar. Rata-rata pengeluaran wisman pada kuartal III 2025 tercatat sebesar US$1.259 per kunjungan. Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, pada Mei 2025, menekankan pentingnya memastikan bahwa seluruh bentuk akomodasi, termasuk yang dipesan melalui aplikasi digital, memberikan dampak ekonomi positif bagi Bali, memastikan bahwa "ekonomi Bali tidak mendapatkan dampak sama sekali dari kenaikan kunjungan wisatawan" jika mereka memilih akomodasi non-hotel. Beliau juga menyoroti pentingnya pariwisata berkelanjutan sebagai tren yang menarik wisatawan saat ini, baik lokal maupun mancanegara, dengan pendekatan konservasi, khususnya untuk wisata alam.
Meskipun pertumbuhan positif, tantangan pemerataan destinasi tetap menjadi perhatian, mengingat lebih dari 61 persen perjalanan wisatawan nusantara masih terkonsentrasi di lima provinsi di Pulau Jawa. Kementerian Pariwisata terus mendorong diversifikasi destinasi melalui penguatan destinasi prioritas, destinasi regeneratif, serta pengembangan desa wisata di luar Pulau Jawa untuk mengatasi konsentrasi ini. Pemerintah menargetkan kunjungan wisman pada 2026 menjadi 16 hingga 17,6 juta orang, dengan proyeksi devisa mencapai Rp22–24,7 triliun serta kontribusi PDB naik ke kisaran 4,5–4,7 persen. Target ambisius ini menuntut penguatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui program upskilling dan dukungan pembiayaan berkelanjutan, termasuk persiapan stimulus menjelang Idulfitri seperti diskon transportasi dan belanja.