:strip_icc()/kly-media-production/medias/5166850/original/034756100_1742287804-full-shot-woman-dealing-with-imposter-syndrome_23-2149692356.jpg)
Studi terbaru menyoroti pola perilaku yang secara signifikan mengikis kesehatan mental individu, dengan keinginan untuk selalu menyenangkan orang lain menjadi salah satu pemicu utama kelelahan mental yang meluas. Fenomena "people-pleasing" ini, yang ditandai oleh kecenderungan menempatkan kebutuhan orang lain di atas diri sendiri secara konsisten, kini menjadi subjek perhatian serius di kalangan praktisi kesehatan mental dan peneliti sosial. Data menunjukkan bahwa tekanan untuk memenuhi ekspektasi eksternal, seringkali mengabaikan batasan pribadi, berkorelasi kuat dengan peningkatan tingkat stres kronis, kecemasan, dan depresi di berbagai demografi.
Di luar people-pleasing, setidaknya lima kebiasaan lain turut memperparah kondisi kelelahan mental yang saat ini banyak dialami masyarakat modern. Pertama, perfeksionisme yang tidak sehat, di mana individu menetapkan standar yang tidak realistis untuk diri sendiri dan terus-menerus merasa tidak cukup, menciptakan siklus kritik diri yang tak berkesudahan. Profesor psikologi Dr. Sarah J. Greenberg dari University of California, Berkeley, dalam salah satu publikasinya, menyatakan bahwa perfeksionisme seringkali merupakan topeng bagi ketakutan akan kegagalan dan penolakan, yang pada akhirnya memicu burnout. Kebiasaan ini tidak hanya menghambat penyelesaian tugas tetapi juga menguras energi mental secara drastis karena fokus berlebihan pada detail dan ketakutan akan kesalahan sekecil apa pun.
Kedua, terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain, terutama di era media sosial, telah terbukti memupuk perasaan tidak aman dan ketidakpuasan. Paparan terus-menerus terhadap kehidupan yang "sempurna" di dunia maya dapat memicu perbandingan sosial ke atas yang menyebabkan individu merasa kurang berharga atau tertinggal. Sebuah survei tahun 2023 menunjukkan bahwa 60% pengguna media sosial melaporkan perasaannya memburuk setelah melihat postingan orang lain. Kebiasaan ini tidak hanya memicu kecemasan tetapi juga mengalihkan fokus dari pencapaian pribadi dan perjalanan individu.
Ketiga, bekerja berlebihan tanpa istirahat yang cukup merupakan kebiasaan yang secara langsung terkait dengan burnout dan kelelahan mental. Budaya kerja yang menghargai jam kerja panjang dan konektivitas tanpa henti telah menormalisasi kebiasaan ini, padahal kurangnya waktu untuk pemulihan fisik dan mental berdampak buruk pada fungsi kognitif, suasana hati, dan produktivitas jangka panjang. Sebuah laporan dari Organisasi Buruh Internasional (ILO) pada tahun 2023 menyoroti bahwa pekerja yang secara teratur bekerja lebih dari 48 jam per minggu memiliki risiko signifikan lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental.
Keempat, menunda-nunda pekerjaan (prokrastinasi) secara kronis menciptakan siklus tekanan dan rasa bersalah. Meskipun terlihat sepele, kebiasaan ini menumpuk beban mental karena tugas-tugas yang belum selesai terus menghantui pikiran, memicu kecemasan dan menghabiskan energi yang seharusnya bisa digunakan untuk penyelesaian tugas itu sendiri. Peneliti menemukan bahwa penundaan dapat meningkatkan tingkat stres dan mengurangi kesejahteraan emosional.
Kelima, kegagalan menetapkan batasan yang sehat, baik dalam hubungan pribadi maupun profesional, memungkinkan orang lain untuk secara berlebihan menguras waktu, energi, dan sumber daya seseorang. Tanpa batasan yang jelas, individu rentan terhadap eksploitasi dan merasa terbebani, yang pada akhirnya mengarah pada kelelahan emosional dan mental. Psikolog klinis Dr. Vera Maheswari, Ph.D. dari Universitas Gadjah Mada, menekankan pentingnya menegaskan batasan sebagai bentuk perlindungan diri, terutama di lingkungan kerja yang menuntut.
Para ahli mengamati bahwa interaksi kompleks antara kebiasaan-kebiasaan ini dan tekanan sosial, ekonomi, serta digital kontemporer memperburuk krisis kesehatan mental global. Data dari World Health Organization (WHO) pada tahun 2022 menunjukkan peningkatan signifikan prevalensi gangguan kecemasan dan depresi secara global, dengan faktor-faktor stres terkait pekerjaan dan gaya hidup memainkan peran substansial. Kelelahan mental yang berkepanjangan tidak hanya mengurangi kualitas hidup individu tetapi juga memiliki implikasi makroekonomi, termasuk penurunan produktivitas dan peningkatan biaya perawatan kesehatan. Memahami akar penyebab dan mekanisme di balik kebiasaan-kebiasaan ini menjadi krusial untuk mengembangkan intervensi yang efektif dan mempromosikan lingkungan yang lebih mendukung kesehatan mental di masa depan.