Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Jeda Pendakian Rinjani: Demi Keamanan dan Pemulihan Ekosistem hingga Maret 2026

2026-01-14 | 07:59 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-14T00:59:39Z
Ruang Iklan

Jeda Pendakian Rinjani: Demi Keamanan dan Pemulihan Ekosistem hingga Maret 2026

Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) menutup seluruh jalur pendakian Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat, mulai 1 Januari hingga 31 Maret 2026. Keputusan ini diambil sebagai langkah mitigasi risiko bencana hidrometeorologi serta untuk pemulihan ekosistem kawasan gunung api stratovolcano tertinggi kedua di Indonesia tersebut, yang secara langsung berdampak pada keselamatan pendaki dan keberlanjutan alam.

Penutupan rutin tahunan ini diperketat setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Klas I Mataram mengeluarkan peringatan prakiraan cuaca ekstrem. Wilayah Nusa Tenggara Barat sedang memasuki masa peralihan menuju puncak musim hujan 2025/2026, dengan potensi hujan lebat, angin kencang, banjir, dan tanah longsor yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan bersifat lokal. Adanya Bibit Siklon Tropis 93S turut memperparah kondisi ini, meningkatkan risiko bencana di jalur pendakian.

Kepala Balai TNGR, Budhy Kurniawan, menegaskan bahwa penutupan sementara ini merupakan bentuk perlindungan keselamatan pendaki dan kelestarian kawasan. "Musim hujan di awal 2026 membawa risiko tinggi curah hujan, membuat jalur licin, kabut tebal, hingga aliran air yang menutup lintasan. Risiko hipotermia dan kecelakaan meningkat signifikan, keselamatan adalah prioritas utama," ujar Budhy Kurniawan. Ia menambahkan bahwa penutupan tersebut bukan sebuah larangan, melainkan upaya untuk menjaga Rinjani bagi masa depan.

Selama periode penutupan tiga bulan ini, enam jalur pendakian resmi Gunung Rinjani, yaitu Senaru, Torean, Sembalun, Timbanuh, Tetebatu, dan Aik Berik, ditutup total. Penutupan layanan pemesanan tiket melalui aplikasi eRinjani telah dilakukan paling lambat pada 28 Desember 2025, dengan batas akhir check-in pada 31 Desember 2025 dan check-out terakhir pada 3 Januari 2026.

Aspek konservasi menjadi alasan mendasar lainnya. Aktivitas pendakian yang tinggi sepanjang musim kemarau memberikan tekanan besar terhadap jalur, vegetasi, dan kebersihan kawasan. Penutupan ini memberikan kesempatan bagi alam Rinjani untuk beristirahat dan memulihkan diri secara alami, memungkinkan flora dan fauna beregenerasi tanpa gangguan aktivitas manusia. Kepala Balai TNGR Yarman, yang menjabat sebelumnya, pernah menyatakan bahwa upaya konservasi ini penting karena "Rinjani bukan hanya untuk dikunjungi hari ini, tetapi dijaga untuk generasi esok hari."

Di samping faktor alam, TNGR juga memanfaatkan masa penutupan untuk melakukan perbaikan jalur pendakian, pemeliharaan fasilitas, serta evaluasi pengelolaan demi meningkatkan kelestarian dan keselamatan kawasan saat dibuka kembali. Langkah ini sejalan dengan perubahan tata kelola pendakian yang diperkenalkan Kementerian Kehutanan pada Agustus 2025, termasuk persyaratan pendaki memiliki pengalaman mendaki gunung lain dan kewajiban membayar asuransi untuk penanganan kecelakaan, termasuk evakuasi helikopter. Rasio pendampingan pemandu juga direvisi, dari maksimal satu pemandu untuk lima pendaki menjadi satu pemandu untuk empat pendaki mulai 1 Januari 2026.

Jumlah pengunjung pendakian Gunung Rinjani pada tahun 2025 tercatat sekitar 132.000 orang, menurun dibandingkan 180.000 pendaki pada tahun 2024. Meskipun demikian, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari Rinjani justru meningkat signifikan, mencapai sekitar Rp25,9 miliar pada 2025, melebihi target dan naik sekitar Rp3 miliar dari tahun 2024. Peningkatan PNBP ini mencerminkan dampak kenaikan tarif tiket setelah beberapa jalur diklasifikasikan ke Kelas I, sebuah langkah yang juga bertujuan membatasi jumlah pengunjung demi menjaga daya dukung lingkungan.

Penutupan ini mencerminkan pendekatan pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan. Meskipun menimbulkan jeda bagi para pendaki dan sektor pariwisata yang bergantung pada Rinjani, keputusan ini dipandang krusial untuk menjaga integritas ekologis gunung dan memastikan pengalaman pendakian yang lebih aman dan berkualitas di masa mendatang.