
Seorang pria berusia 35 tahun di Hangzhou, Tiongkok, mengalami kejadian yang mengejutkan, kehilangan penglihatan parah pada mata kanannya setelah bermain game semalaman hingga pukul 02.00-03.00 pagi. Kondisi medis ini, yang dikenal sebagai oklusi arteri retina sentral (CRAO) atau "stroke mata", terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah arteri utama yang memasok oksigen ke retina, lapisan tipis di belakang mata yang penting untuk penglihatan. Kasus ini menambah daftar insiden yang menyoroti risiko serius dari paparan layar digital berlebihan dan kebiasaan begadang terhadap kesehatan mata, bahkan pada individu usia produktif.
Oklusi arteri retina merupakan kondisi kegawatdaruratan oftalmologis. Apabila aliran darah ke retina terhenti lebih dari beberapa jam, kerusakan dapat bersifat permanen, dengan peluang pemulihan penglihatan yang sangat kecil jika pengobatan terlambat dilakukan. Dalam banyak kasus, kondisi ini terjadi pada satu mata, meskipun ada kemungkinan memengaruhi kedua mata. Tingkat kejadian CRAO diperkirakan sekitar 0,85 per 100.000 orang per tahun, dengan usia rata-rata diagnosis 63,6 tahun. Namun, laporan menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan kasus pada usia yang lebih muda. Studi lain di India menemukan bahwa 71,40% pasien CRAO adalah laki-laki.
Para ahli medis mengidentifikasi beberapa faktor risiko oklusi arteri retina, termasuk hipertensi tidak terkontrol, diabetes melitus, penyakit katup jantung, penyakit jantung bawaan, hingga kondisi pengentalan darah. Meskipun demikian, paparan layar digital berlebihan telah diakui sebagai faktor pemicu utama gangguan mata pada era modern. Cahaya biru (blue light) yang dipancarkan oleh perangkat digital memiliki panjang gelombang pendek dengan energi tinggi yang dapat menembus retina, dan paparan berlebihan dapat memicu kerusakan sel fotoreseptor. Kebiasaan menatap layar dalam jarak dekat dalam waktu lama juga menyebabkan ketegangan pada otot mata, yang dikenal sebagai accommodative spasm, memicu mata lelah, pandangan buram sementara, dan sakit kepala. Sebuah studi menunjukkan bahwa 78% responden mengalami gejala mata kering dan pandangan kabur setelah bermain game lebih dari empat jam sehari. Selain itu, waktu layar berlebihan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko miopia (rabun jauh) dan degenerasi makula.
Kasus serupa pernah terjadi sebelumnya. Seorang pria bernama Wang di Tiongkok juga didiagnosis CRAO setelah bermain game di ponsel dalam kondisi gelap. Dokter yang menanganinya melaporkan melihat sekitar 20 pasien setiap bulan dengan kondisi serupa akibat penggunaan ponsel terlalu lama di tempat gelap, dengan sebagian besar adalah anak muda. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah menetapkan kecanduan game sebagai salah satu bentuk gangguan jiwa, menyoroti dampak psikis yang juga dapat berujung pada pengabaian kesehatan fisik.
Implikasi dari kasus seperti yang dialami pria 35 tahun ini sangat signifikan, menuntut peningkatan kesadaran publik dan edukasi mengenai dampak gaya hidup digital terhadap kesehatan mata. Rekomendasi ahli meliputi penerapan aturan 20-20-20 — mengistirahatkan mata setiap 20 menit dengan melihat objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik — untuk merelaksasi otot mata dan mengurangi ketegangan. Selain itu, penting untuk menyesuaikan pencahayaan layar, menjaga jarak pandang yang optimal (sekitar 50-70 cm dari layar komputer atau 30-40 cm dari ponsel), dan mengurangi paparan cahaya biru. Istirahat yang cukup dan menghindari begadang juga merupakan langkah pencegahan krusial untuk menjaga kesehatan mata dan kualitas hidup secara keseluruhan. Tanpa intervensi dan perubahan perilaku yang mendalam, prevalensi gangguan penglihatan serius pada usia muda berpotensi terus meningkat, membebani sistem kesehatan dan mengurangi produktivitas generasi mendatang.