:strip_icc()/kly-media-production/medias/4791086/original/086931400_1711978568-young-asian-businesswoman-feeling-stressed_36356-4.jpg)
Manusia cenderung mengingat pengalaman pahit lebih intens dan detail dibandingkan kenangan bahagia, sebuah fenomena yang berakar pada mekanisme evolusi otak dan memiliki implikasi signifikan terhadap kesehatan mental. Ilmu pengetahuan, khususnya bidang neurosains dan psikologi kognitif, menguak bahwa bias negativitas ini bukanlah suatu "cacat" mental, melainkan adaptasi bertahan hidup yang vital bagi nenek moyang manusia.
Secara neurologis, pengalaman emosional, terutama yang bersifat negatif, mengaktifkan area otak tertentu dengan lebih kuat. Amigdala, pusat emosi di otak yang bertanggung jawab memproses rasa takut dan ancaman, memainkan peran sentral dalam memodulasi kekuatan konsolidasi memori. Ketika seseorang menghadapi situasi mengancam atau traumatis, amigdala bekerja sama dengan hipokampus, yang mengorganisir memori, dan korteks prefrontal, yang menafsirkan konteks emosional, untuk memastikan memori tersebut tersimpan dengan kuat dan mudah diakses kembali. Pelepasan hormon stres seperti epinefrin dan kortisol selama kejadian negatif semakin memperkuat proses ini, membuat insiden pahit terukir lebih jelas baik secara memori maupun emosi.
"Dari sudut pandang evolusi, memprioritaskan kenangan negatif sangat masuk akal," jelas Sam Goldstein, Ph.D., seorang psikolog dan penulis di Psychology Today. "Mengingat bahwa buah beri tertentu menyebabkan muntah atau bahwa predator tertentu mengintai di dekat sumber air sangat penting untuk kelangsungan hidup." Meskipun kenangan positif bermanfaat untuk ikatan sosial dan kesejahteraan jangka panjang, kenangan tersebut tidak memiliki urgensi yang sama untuk kelangsungan hidup. Dengan demikian, seleksi alam telah memilih sistem kognitif yang "bias-negatif," sebuah fenomena di mana organisme lebih peka dan dipengaruhi oleh stimulus negatif.
Bias ini, yang dikenal sebagai "negativity bias" atau asimetri positif-negatif, menjelaskan mengapa satu komentar negatif dapat lebih membekas daripada sepuluh pujian, atau mengapa kesan pertama yang buruk sulit dihilangkan. Penelitian menunjukkan bahwa bias negativitas mulai muncul sejak masa bayi, di mana bayi mampu membentuk ingatan yang kuat terkait pengalaman negatif. Dalam kehidupan sehari-hari, bias ini termanifestasi dalam berbagai cara, termasuk penekanan berlebihan pada kritik, ingatan negatif yang persisten, dan kepekaan yang tinggi terhadap berita buruk.
Implikasi bias memori negatif ini meluas ke kesehatan mental. Kecenderungan untuk mengingat peristiwa negatif secara lebih akurat dan seringkali berkontribusi pada perkembangan dan pemeliharaan kondisi seperti depresi, kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD). Individu dengan gejala depresi cenderung lebih sering mengingat pengalaman negatif dibandingkan positif atau netral, yang dapat memperburuk suasana hati yang tertekan. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Neuroscience menemukan bahwa hipokampus pada wanita depresi 9% hingga 13% lebih kecil dibandingkan wanita tanpa depresi, dengan perbedaan volume yang lebih jelas pada mereka yang mengalami episode depresi lebih banyak. Ini menunjukkan korelasi antara jumlah episode depresi dan volume hipokampus, dengan beberapa studi mengusulkan bahwa gangguan neurogenesis atau kurangnya perkembangan hipokampus mungkin menjadi penyebab depresi, bukan sekadar konsekuensi.
Trauma masa kanak-kanak dan bias memori negatif juga terbukti menjadi faktor risiko umum untuk psikopatologi dan komorbiditas berbagai gangguan kejiwaan. Sebuah studi pada sampel pasien psikiatri alami menemukan bahwa frekuensi trauma masa kanak-kanak dan bias memori negatif secara positif terkait dengan komorbiditas psikiatri. Ini menunjukkan bahwa bias memori negatif mungkin relevan untuk spektrum diagnosis psikiatri yang lebih luas di luar gangguan afektif yang umum dipelajari.
Meskipun demikian, sains juga menawarkan harapan. Intervensi terapeutik, seperti modifikasi bias kognitif (Cognitive Bias Modification/CBM) dan terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy/CBT), sedang dieksplorasi untuk mengurangi dampak bias memori negatif. CBM, misalnya, dirancang untuk secara langsung memanipulasi proses kognitif otomatis yang berkontribusi pada pengembangan dan pemeliharaan psikopatologi, termasuk melatih individu untuk menafsirkan memori secara lebih positif. Terapi pemaparan tertulis (written exposure therapy) di bawah bimbingan terapis juga terbukti efektif dalam mengobati PTSD, membantu individu belajar bahwa memori traumatis tidak berbahaya dan dapat diingat kembali dengan tingkat stres yang berkurang seiring waktu. Selain itu, praktik mindfulness juga menunjukkan potensi untuk meningkatkan penilaian positif dan mengurangi bias negativitas.
Memahami dasar ilmiah di balik kecenderungan otak untuk lebih mengingat kenangan pahit merupakan langkah krusial dalam mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk menjaga kesehatan mental dan meningkatkan kualitas hidup individu.