Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Menguak 13 Surga Babat Gongso Semarang: Dari Rasa Otentik Hingga Paling Ramah Kantong

2026-01-09 | 21:07 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-09T14:07:21Z
Ruang Iklan

Menguak 13 Surga Babat Gongso Semarang: Dari Rasa Otentik Hingga Paling Ramah Kantong

Babat gongso, hidangan tumisan jeroan sapi bercita rasa manis-pedas, telah lama menjadi ikon kuliner tak terpisahkan dari Kota Semarang. Keberadaannya bukan sekadar santapan biasa, melainkan cerminan sejarah panjang akulturasi budaya serta pilar ekonomi lokal yang terus berkembang. Makanan ini, yang secara harfiah berarti "babat yang ditumis" dengan bumbu khas Jawa hingga setengah kering, awalnya muncul dari kebutuhan masyarakat untuk mengolah bagian jeroan sapi secara optimal. Beberapa sejarawan kuliner bahkan menelusuri jejak pengaruh Tionghoa dalam teknik menumis dan penggunaan kecap manis pada Babat Gongso, yang diperkirakan masuk bersama kedatangan Laksamana Cheng Ho pada abad ke-15.

Pada awal abad ke-20, Babat Gongso mulai dikenal luas, khususnya di kalangan pekerja pelabuhan Semarang karena harganya yang terjangkau dan porsinya yang mengenyangkan. Kini, hidangan ini bertransformasi menjadi daya tarik utama pariwisata kuliner Semarang, menarik ribuan wisatawan domestik maupun mancanegara setiap tahunnya. Kementerian Pariwisata pada tahun 2015 bahkan menetapkan Semarang sebagai salah satu destinasi kuliner unggulan Indonesia, sebuah pengakuan atas kekayaan dan keunikan gastronominya. Keberadaan warung-warung Babat Gongso legendaris yang dikelola lintas generasi turut menjaga keaslian resep dan pengalaman bersantap yang otentik, sekaligus menopang perekonomian usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kota ini.

Berikut adalah beberapa rekomendasi tempat makan Babat Gongso di Semarang yang dikenal akan cita rasanya, mulai dari yang legendaris hingga pilihan yang ramah di kantong, mewakili keberagaman kuliner khas ibu kota Jawa Tengah ini:

Nasi Goreng Babat Pak Karmin Mberok, berlokasi di Jalan Pemuda Nomor 2, Dadapsari, menjadi salah satu warung Babat Gongso paling legendaris di Semarang, telah beroperasi sejak tahun 1971. Pak Karmin dikenal merebus babat halus selama tiga jam dan babat kasar hingga delapan jam untuk mencapai tekstur empuk yang sempurna, bebas amis. Perpaduan rasa manis, asin, pedas, dan gurihnya yang pas, menjadikan tempat ini selalu ramai pengunjung. Selain nasi babat gongso seharga sekitar Rp15.000, tersedia juga nasi goreng babat seharga Rp20.000. Cabang lain dari Pak Karmin juga dapat ditemukan di Pasar Johar, Jalan Hasanudin Nomor 13.

Tahu Pong Babat Gongso Pak Sabar, yang mulai berjualan sejak 1981, menawarkan spesialisasi ganda dengan tahu pong sebagai pelengkap. Berlokasi di Jalan Depok, Kembangsari, warung ini buka setiap hari mulai pukul 18.30 WIB hingga 01.00 WIB, dengan harga makanan mulai dari Rp25.000. Porsi yang melimpah dan rasa yang lezat telah menjadikannya pilihan favorit bagi pencinta kuliner malam.

Nasi Goreng Babat Gongso Hengky, yang telah berdiri sejak 1988, terkenal dengan Babat Gongso yang dimasak secara tradisional menggunakan tungku kayu bakar. Metode ini menghasilkan aroma smoky khas yang menggugah selera. Warung yang berlokasi di Jalan Puri Anjasmoro Blok K, Tawangsari ini buka dari pukul 17.00 hingga 23.00 WIB. Cita rasa Babat Gongsonya cenderung gurih, manis, dan pedas, sering disajikan dengan tambahan paru sapi goreng. Harga nasi goreng babat sekitar Rp17.500–Rp25.000, sedangkan Babat Gongso sekitar Rp30.000.

Nasi Goreng Babat Pak Sumarsono, terletak di Jalan Anjasmoro Raya Nomor 64, juga mempertahankan metode memasak tradisional dengan kompor tungku kayu bakar, menciptakan aroma otentik. Tempat ini menyajikan Babat Gongso dengan bumbu rempah yang seimbang antara gurih, manis, dan pedas, serta potongan babat, paru, dan usus. Harga seporsi nasi goreng babat sekitar Rp17.000-an dan Babat Gongso sekitar Rp30.000-an.

Nasi Goreng Babat Pak Taman, yang telah berjualan sejak tahun 1986, berlokasi di dekat Stadion Diponegoro atau kawasan Stadion Selatan. Warung ini merebus babat selama kurang lebih empat jam agar teksturnya lembut dan tidak alot, menghasilkan hidangan dengan paduan bumbu manis pedas khas Jawa Tengah. Meskipun sederhana, rasa yang konsisten dan porsi yang memuaskan membuat banyak pelanggan setia kembali, dengan harga seporsi Babat Gongso sekitar Rp28.000.

Nasi Goreng Babat Akbar, yang dikabarkan telah mulai berjualan sejak 1968, dikenal akan popularitasnya yang luar biasa, seringkali ludes hanya dalam waktu tiga jam operasionalnya di malam hari. Warung ini membuktikan daya tarik Babat Gongso yang kuat di kalangan masyarakat.

Nasi Goreng Babat "Pak Di" merupakan warung legendaris yang kini dikelola oleh generasi ketiga, berlokasi di Jalan Kranggan. Buka dari pukul 11.00 pagi hingga 22.00 malam, warung ini menawarkan isian babat, paru, dan usus sapi, dengan keunikan tambahan berupa pilihan pete, irisan cabai, atau bawang merah utuh dalam sajiannya.

Nasi Goreng Babat Bahagia, yang beroperasi sejak tahun 1970-an di kawasan Kranggan, menawarkan pengalaman bersantap lesehan pinggir jalan yang merakyat. Bumbu Babat Gongso di sini sangat mantap, dan pembeli dapat menyesuaikan tingkat kepedasannya sesuai selera.

Nasi Goreng & Babat Gongso Pak Andik juga menjadi salah satu destinasi kuliner Babat Gongso yang direkomendasikan di Semarang, dikenal dengan cita rasanya yang klasik dengan dominasi rasa asin gurih dan manis kecap.

Selain warung-warung mandiri ini, Waroeng Semawis, sebuah pasar kuliner malam di kawasan Pecinan (Gang Warung), yang hanya buka pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu, juga menjadi surga bagi pencinta Babat Gongso dan berbagai hidangan khas Semarang lainnya. Di tempat ini, pengunjung dapat menemukan berbagai penjaja Babat Gongso yang menawarkan variasi rasa dan harga, menjadikannya pilihan ideal untuk mencicipi keberagaman kuliner lokal dalam satu lokasi yang hidup dan meriah.

Dinamika pasar kuliner Semarang memang terus bergerak, dengan munculnya tren-tren baru seperti makanan Korea yang digemari generasi muda. Namun, Babat Gongso tetap menjadi pondasi kuliner kota, sebuah hidangan yang melampaui tren karena akarnya yang dalam dalam sejarah dan budaya lokal. Pemerintah Kota Semarang dan komunitas kuliner terus berupaya melestarikan dan mempromosikan hidangan tradisional ini melalui berbagai festival dan program, memastikan Babat Gongso akan terus menjadi bagian integral dari identitas Semarang dan daya tarik wisatanya di masa mendatang.