
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti urgensi pemulihan trauma psikologis pada anak-anak yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera dan Aceh, menekankan bahwa penyembuhan luka batin jauh lebih krusial dibandingkan penanganan fisik. Pernyataan ini disampaikan pada Minggu, 4 Januari 2026, menyusul serangkaian bencana yang melanda wilayah tersebut sejak November 2025, yang telah mengganggu layanan kesehatan di 87 rumah sakit dan 867 puskesmas di Sumatera, termasuk empat puskesmas di Aceh yang masih dalam tahap pemulihan.
Menkes Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan apresiasinya terhadap dedikasi para relawan, termasuk kisah inspiratif Kak Mull, seorang perawat dari RS Wahidin Sudirohusodo Makassar yang memanfaatkan ventriloquisme dengan boneka 'Aco' untuk menciptakan tawa di posko kesehatan Kuala Simpang, Aceh. "Obat yang manjur tidak melulu berbentuk pil, tapi bisa juga berupa tawa," ujar Menkes, mengutip unggahan pribadinya. Pendekatan ini merupakan bagian integral dari upaya trauma healing yang dilakukan Kementerian Kesehatan, yang telah mengerahkan dan merotasi sekitar 3.200 relawan ke daerah terdampak.
Psikolog klinis Maharani Octy Ningsih menggarisbawahi kerentanan anak-anak terhadap trauma pascabencana. Anak-anak rentan mengalami ketakutan akan air, hujan, atau lokasi kejadian akibat memori menakutkan, dengan kapasitas emosional yang belum memadai untuk memahami peristiwa traumatis tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa 15-20% populasi dapat mengalami gangguan mental ringan hingga sedang setelah bencana, dan anak-anak, terutama perempuan, sangat rentan terhadap gangguan seperti Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), depresi, dan kecemasan, yang bermanifestasi dalam gejala seperti ketakutan berlebihan dan kesulitan tidur. Jika tidak ditangani, trauma semacam ini dapat menyebabkan dampak jangka panjang, memengaruhi kepribadian anak, seperti kurang percaya diri, mudah marah, sulit bekerja sama, ketidakpercayaan pada orang lain, kewaspadaan berlebihan, dan menarik diri dari lingkungan sosial.
Sejarah panjang bencana di Aceh, termasuk tsunami 2004, memberikan konteks mendalam mengenai tantangan pemulihan trauma. Studi yang melibatkan penyintas tsunami Aceh 2004 menunjukkan bahwa gejala depresi dan kecemasan dapat tetap konstan dan tidak menurun bahkan bertahun-tahun setelah peristiwa, khususnya pada anak-anak dan remaja. Sebuah penelitian mengidentifikasi 42,2% masyarakat penyintas tsunami Aceh mengalami tingkat kecemasan tinggi. Realitas ini menyoroti bahwa pemulihan psikologis bukan sekadar respons cepat darurat, melainkan proses berkelanjutan yang membutuhkan strategi komprehensif dan dukungan jangka panjang.
Berbagai lembaga, termasuk Dinas Sosial Aceh, Forum Generasi Berencana (GenRe) Aceh, PT PLN (Persero), Taman Zakat, serta Kementerian Agama Aceh Besar, aktif menyediakan layanan dukungan psikososial dan trauma healing. Program-program ini mencakup pendampingan di posko pengungsian, inisiatif "Zona Anak" yang diprakarsai oleh Dongeng Ceria bekerja sama dengan BNPB, yang menyediakan ruang aman untuk bermain dan belajar dengan metode seperti terapi seni, permainan kooperatif, dan regulasi emosi. Pentingnya peran keluarga dan komunitas dalam mendukung pemulihan anak juga ditekankan, mengingat anak-anak yang tidak mendapat dukungan cenderung mengalami gejala traumatis yang lebih lama.
Implikasi ke depan dari pengalaman ini menuntut integrasi layanan kesehatan mental anak dalam setiap rencana mitigasi dan respons bencana nasional. Membangun resiliensi psikologis masyarakat sejak dini, khususnya anak-anak, menjadi investasi krusial untuk mengurangi dampak jangka panjang trauma bencana. Keterlibatan multi-sektoral, dari pemerintah hingga organisasi masyarakat sipil dan sektor swasta, memastikan pendekatan holistik yang mencakup tidak hanya penyediaan kebutuhan dasar tetapi juga pemulihan jiwa yang berkelanjutan. Transformasi posko bencana menjadi ruang aman yang kondusif bagi tumbuh kembang anak, sebagaimana dicontohkan oleh peran para relawan, menjadi model penting untuk direplikasi di seluruh wilayah rawan bencana di Indonesia.