:strip_icc()/kly-media-production/medias/3226406/original/096033700_1599038144-photo-1522844990619-4951c40f7eda__3_.jpg)
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan bahwa pada tahun 2023, 23,4% penduduk dewasa di Indonesia berusia di atas 18 tahun mengalami obesitas, dengan 36,8% populasi secara keseluruhan menghadapi kondisi tersebut berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dari 21,8% pada tahun 2018, menggarisbawahi urgensi penanganan obesitas yang kini diakui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai penyakit kronis kambuhan yang kompleks. Sementara fokus pada diet dan pembatasan kalori sering mendominasi diskusi publik, pakar kesehatan menekankan bahwa modifikasi gaya hidup holistik, yang mencakup aspek tidur, manajemen stres, dan aktivitas fisik, merupakan kunci fundamental untuk mengatasi epidemi obesitas secara berkelanjutan dan efektif.
Epidemi obesitas global terus memburuk, dengan 1 dari 8 orang di dunia hidup dengan obesitas pada tahun 2022. Prevalensi obesitas pada orang dewasa di seluruh dunia meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 1990, dan pada remaja meningkat empat kali lipat. World Obesity Federation dalam World Obesity Atlas 2024 juga memproyeksikan jumlah orang dewasa yang hidup dengan obesitas akan meningkat dari 0,81 miliar pada 2020 menjadi 1,53 miliar pada 2035, dengan 79% di antaranya akan tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMIC). Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang, mengalami peningkatan kasus paling cepat. Dampak ekonomi obesitas sangat besar, diproyeksikan mencapai lebih dari 3% dari PDB global pada tahun 2060 jika tren saat ini berlanjut. Di Indonesia, biaya perawatan kesehatan, hilangnya produktivitas akibat kematian dini, dan ketidakhadiran kerja merupakan kerugian ekonomi yang substansial akibat obesitas.
Pendekatan terhadap obesitas selama ini sering kali terlalu menyederhanakan masalah dengan hanya berfokus pada asupan kalori dan diet. Namun, studi sistematis dan meta-analisis menunjukkan bahwa program modifikasi perilaku yang komprehensif menghasilkan penurunan berat badan rata-rata sebesar 3,01 kg. Dr. Delvy Atriani, Pengamat Kesehatan dari UMRAH Tanjungpinang, pada September 2024, menekankan pentingnya mengonsumsi makanan sehat, berolahraga secara teratur, dan menjaga kualitas tidur sebagai langkah vital untuk mencegah penyakit jantung dan menjaga kesehatan secara keseluruhan. Kualitas tidur yang buruk, tingkat stres tinggi, dan kurangnya aktivitas fisik telah terbukti berkontribusi pada peningkatan berat badan dan risiko obesitas. Misalnya, durasi tidur yang kurang dari 6-7 jam per malam dikaitkan dengan peningkatan prevalensi obesitas, sebagian karena memengaruhi hormon leptin (pengontrol nafsu makan) dan ghrelin (peningkat nafsu makan). Stres juga dapat memicu perilaku makan berlebihan dan pilihan makanan yang tidak sehat.
Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah untuk mengatasi masalah ini melalui program seperti "Isi Piringku" yang diperkenalkan oleh Kementerian Kesehatan, menekankan gizi seimbang serta membatasi gula, garam, dan lemak. Selain itu, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) juga mempromosikan cek kesehatan berkala, tidak merokok, aktivitas fisik rutin, diet gizi seimbang, istirahat cukup, dan pengelolaan stres. Program-program ini mencerminkan pengakuan akan pentingnya aspek gaya hidup di luar sekadar diet. Namun, Wakil Menteri Kesehatan Dante S. Harbuwono pada Juli 2023 mengakui bahwa masalah obesitas bukan hanya terkait jenis pangan, tetapi juga pola hidup dan aktivitas fisik, dan menyerukan peran serta seluruh pemangku kepentingan.
Meskipun kesadaran akan obesitas sebagai penyakit terus meningkat, tantangan implementasi perubahan gaya hidup tetap signifikan. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Dr. Eva, pada Maret 2024, menyoroti teknologi yang tidak mendukung aktivitas fisik dan kurangnya ruang olahraga yang kondusif di daerah sebagai hambatan. Resistensi terhadap perubahan perilaku, terutama terkait kebiasaan makan dan aktivitas fisik, juga menjadi tantangan utama. Peran industri makanan dan media dalam membentuk preferensi konsumen, terutama anak-anak, dengan promosi makanan tinggi kalori, gula, dan lemak jenuh juga mempersulit upaya pencegahan.
Penanganan obesitas memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter spesialis gizi klinis, endokrinologi, kardiologi, hingga psikolog. RSUP Dr. Sardjito, misalnya, menyediakan Poli Obesitas yang menawarkan program skrining komplikasi, intervensi gizi, program olahraga, intervensi perilaku termasuk hipnoterapi, serta farmakoterapi dan bedah metabolik, dengan tim medis lintas spesialisasi. Upaya pencegahan dan penanganan harus menyasar bukan hanya individu tetapi juga lingkungan, dengan menciptakan sarana olahraga memadai dan regulasi yang mendukung gaya hidup sehat. Mengintegrasikan teknologi seperti aplikasi kesehatan, kemitraan lintas sektor, serta pendidikan digital dan kampanye daring juga merupakan peluang untuk meningkatkan efektivitas program di masa depan. Dengan memprioritaskan modifikasi gaya hidup secara komprehensif, masyarakat dapat secara efektif melawan epidemi obesitas dan mengurangi beban penyakit tidak menular yang terkait.