:strip_icc()/kly-media-production/medias/4664236/original/037374800_1701057833-20231127-Gunung-Etna-Italia-AP-5.jpg)
Pemerintah daerah Sisilia telah memberlakukan pengetatan signifikan terhadap peraturan wisata ke kawah puncak Gunung Etna, menyusul insiden keselamatan baru-baru ini dan kekhawatiran lingkungan, yang memicu mogok kerja puluhan pemandu tur berpengalaman sejak awal Januari 2026. Perubahan regulasi ini, yang secara drastis membatasi akses ke ketinggian tertentu dan memangkas jumlah tur harian, bertujuan untuk meminimalisir risiko bagi wisatawan dan mengurangi dampak ekologis pada salah satu gunung berapi paling aktif di dunia. Langkah tersebut telah menimbulkan gejolak serius di industri pariwisata lokal, yang sangat bergantung pada daya tarik Etna.
Peraturan baru, yang mulai berlaku pada 1 Januari 2026, membatasi kunjungan ke kawah puncak Etna hanya untuk kelompok kecil yang dipimpin oleh pemandu gunung bersertifikat dan hanya boleh naik hingga ketinggian 2.800 meter di atas permukaan laut. Sebelumnya, wisatawan dapat mencapai hingga 3.000 meter atau lebih, tergantung pada kondisi gunung berapi. Otoritas Taman Etna menyatakan bahwa keputusan ini didasarkan pada rekomendasi ilmiah dari Institut Nasional Geofisika dan Vulkanologi (INGV) Catania, menyusul peningkatan aktivitas eksplosif dan emisi gas berbahaya di sekitar kawah puncak selama enam bulan terakhir. "Keselamatan adalah prioritas utama kami. Data menunjukkan adanya peningkatan risiko di zona puncak, dan kami harus bertindak preventif," kata Kepala Otoritas Taman Etna, Dr. Vincenzo Bellini, dalam sebuah pernyataan resmi.
Para pemandu tur, yang sebagian besar tergabung dalam asosiasi seperti "Guide Alpine Etna," berargumen bahwa pengetatan ini berlebihan dan mengancam mata pencarian mereka. Sekitar 70 pemandu yang mewakili lebih dari 80% total pemandu bersertifikat di wilayah tersebut memulai aksi mogok tanpa batas waktu, menuntut dialog dengan pemerintah daerah dan revisi regulasi. "Kami adalah para ahli gunung ini, kami tahu kapan aman dan kapan tidak. Pembatasan ini menghancurkan bisnis kami dan menganggap remeh pengalaman kami," ujar Giovanni Russo, juru bicara asosiasi pemandu, dalam demonstrasi di kaki Etna. Ia menambahkan bahwa banyak pemandu telah berinvestasi dalam peralatan baru dan pelatihan khusus untuk mengelola risiko, dan pembatasan ketinggian menghilangkan daya tarik utama dari wisata lava.
Dampak ekonomi dari aksi mogok ini mulai terasa di kota-kota sekitar Etna seperti Nicolosi dan Zafferana Etnea, yang pendapatan utamanya berasal dari pariwisata vulkanik. Menurut data dari Kamar Dagang Catania, wisata ke Etna menyumbang sekitar 15% dari total pendapatan pariwisata provinsi, dengan rata-rata 500.000 hingga 700.000 pengunjung setiap tahunnya. Hotel, restoran, dan toko suvenir melaporkan penurunan signifikan dalam pemesanan dan penjualan sejak dimulainya mogok kerja. Sebuah studi oleh Universitas Catania memperkirakan kerugian harian bagi ekonomi lokal dapat mencapai puluhan ribu euro jika situasi ini berlanjut.
Secara historis, Gunung Etna telah lama menjadi daya tarik bagi petualang dan ilmuwan. Selama beberapa dekade terakhir, pertumbuhan pariwisass massal telah memicu perdebatan mengenai keseimbangan antara aksesibilitas turis dan konservasi lingkungan serta keselamatan. Insiden tragis pada tahun 2017, ketika sepuluh orang terluka akibat ledakan tak terduga di area puncak, memicu revisi protokol keselamatan sebelumnya, meskipun tidak seketat regulasi terbaru ini.
Para ahli vulkanologi dan lingkungan memiliki pandangan yang berbeda mengenai pengetatan ini. Dr. Elena Rossi, seorang vulkanolog independen, mendukung langkah-langkah baru tersebut. "Etna adalah gunung berapi yang sangat dinamis dan tidak terduga. Semakin dekat Anda ke kawah aktif, semakin tinggi risikonya, terlepas dari keahlian pemandu," jelasnya. Namun, beberapa kritikus berpendapat bahwa pembatasan terlalu kaku dan dapat mendorong wisatawan untuk mencari rute tidak resmi yang lebih berbahaya. Situasi ini menyoroti dilema abadi antara kepentingan ekonomi pariwisata, keselamatan publik, dan perlindungan lingkungan di situs alam yang unik dan berbahaya. Negosiasi antara pemandu dan pemerintah daerah terus berlanjut tanpa kesepakatan yang jelas hingga saat ini, meninggalkan ketidakpastian bagi ribuan orang yang menggantungkan hidupnya pada pariwisata Etna.