:strip_icc()/kly-media-production/medias/5411839/original/014280000_1763022491-ilustrasi_nonton_drama_korea.png)
Fenomena penonton kembali menonton serial-serial lama seperti drama Korea "Reply 1988" secara berulang bukan sekadar kebiasaan iseng, melainkan sebuah mekanisme psikologis kompleks yang menyediakan kenyamanan, mengurangi stres, dan memulihkan kapasitas kognitif di tengah ketidakpastian hidup. Kecenderungan ini mengindikasikan bahwa otak manusia secara intrinsik mencari stabilitas dan koneksi emosional melalui narasi yang telah dikenal.
Para ahli psikologi dan ilmuwan perilaku menyoroti nostalgia sebagai salah satu pendorong utama. Ziyan Yang, seorang profesor di Institute of Psychology, Chinese Academy of Sciences, menjelaskan bahwa nostalgia memicu perasaan kehangatan, kebersamaan, dan kepemilikan, bahkan memungkinkan "perjalanan waktu mental" yang menjadi sangat menenangkan di masa-masa sulit, baik personal maupun global. Secara neurologis, pengalaman nostalgia mengaktifkan pusat penghargaan di otak, termasuk hipokampus dan area midbrain, yang melibatkan dopamin untuk memicu keinginan dan perilaku pencarian. Clarissa Silva, seorang ilmuwan perilaku, menambahkan bahwa rewatching memberikan "pelarian yang sangat dibutuhkan" dari beban mental sehari-hari.
Aspek kenyamanan dan prediktabilitas menjadi krusial. Dalam dunia yang penuh keputusan dan informasi baru, otak mengalami "beban kognitif" yang tinggi. Menonton ulang serial yang sudah dikenal memangkas upaya kognitif ini. Dr. Kate Jansen, seorang psikolog klinis, menekankan bahwa sistem saraf pusat kita lebih menyukai familiaritas, konsistensi, dan prediktabilitas karena membuat kita merasa aman. Lauren Freymuth, seorang terapis, menimpali bahwa kita tahu karakter, alur cerita, dan apa yang akan terjadi, menghilangkan risiko reaksi emosional tak terduga dari kejutan atau plot twist, yang kurang menarik saat seseorang merasa cemas atau lelah. Sebuah studi yang dipimpin oleh Jaye Derrick, profesor psikologi di University of Houston, menemukan bahwa menonton ulang acara favorit membutuhkan lebih sedikit upaya kognitif, memberikan kelegaan emosional, dan menawarkan rasa prediktabilitas, menjadikannya mekanisme penanggulangan umum untuk mengelola stres dan emosi negatif. Studi lain oleh Shian-Ling Keng, profesor di Sunway University, menunjukkan bahwa partisipan dengan tingkat kecemasan tinggi yang menonton film familiar melaporkan tingkat kecemasan yang jauh lebih rendah dan ketegangan kognitif yang berkurang dibandingkan yang menonton konten asing.
Selain kenyamanan, rewatching juga memupuk rasa koneksi sosial. Lori Bindig Yousman, seorang profesor komunikasi dan media, menyatakan bahwa acara TV yang familiar dapat mengembalikan penonton ke periode hidup saat mereka pertama kali menontonnya, membangkitkan kenangan positif dari masa lalu. Dr. Patricia Dixon, seorang psikolog klinis, menambahkan bahwa koneksi ini sangat berharga saat seseorang merasa "tersesat atau terputus dari identitas mereka." Hubungan parasosial, yaitu ikatan satu sisi dengan karakter fiksi, juga berperan. Michael T. Smith, seorang profesor di American University of Armenia, menjelaskan bahwa kita merasakan kebersamaan dengan karakter ini, yang membantu mengurangi rasa kesepian.
Popularitas serial seperti "Reply 1988" di Indonesia secara spesifik mencerminkan fenomena ini. Drama ini berlatar belakang era 1980-an, menonjolkan nilai-nilai kekeluargaan, persahabatan, dan romansa yang mendalam, menciptakan narasi yang "sangat seimbang" menurut beberapa penonton. Riset Mukti Bella Ayu dkk. pada 2015-2022 menunjukkan bahwa penonton di Indonesia memiliki opini positif terhadap drama ini, terutama pada nilai kekeluargaan, persahabatan, dan percintaan yang disajikan. Banyak penonton merasakan koneksi emosional pribadi, bahkan menggunakannya untuk merefleksikan proses tumbuh dewasa dan menerima perubahan, sebagaimana diungkapkan dalam diskusi online.
Tren rewatching ini juga tercermin dalam data konsumsi global. Laporan dari Digital i menunjukkan bahwa di paruh pertama tahun 2025, 37% dari total waktu penayangan di layanan streaming besar di Amerika Serikat dialokasikan untuk serial yang tayang perdana lebih dari satu dekade sebelumnya, naik dari 32% pada paruh pertama tahun 2021. Riset National Research Group (NRG) pada Juni 2024 juga menemukan bahwa 60% dari total waktu menonton TV dihabiskan untuk menonton ulang favorit lama atau menonton konten lama untuk pertama kalinya. Ini menunjukkan bahwa ketersediaan konten lama di platform streaming telah menjadi faktor penting bagi konsumen.
Meskipun rewatching dapat menjadi strategi koping yang sehat, para ahli memperingatkan perlunya kesadaran. Dr. Aimee Daramus, seorang psikolog klinis, menyarankan untuk "waspada jika kebiasaan ini mulai menggantikan cara sehat lainnya untuk mengatasi emosi sulit." Namun, sebagian besar waktu, tindakan mencari kenyamanan melalui acara favorit adalah "tidak berbahaya dan menyenangkan." Fenomena ini menggarisbawahi bagaimana media hiburan telah berevolusi menjadi alat penting untuk regulasi emosi dan menjaga kesejahteraan mental, menawarkan jangkar psikologis dalam menghadapi dinamika kehidupan modern yang serba cepat.