:strip_icc()/kly-media-production/medias/4589327/original/083458700_1695724189-bozhin-karaivanov-3TmhC2vquPk-unsplash.jpg)
Fenomena umum makanan beku yang menjadi keras atau alot setelah dimasak bukanlah sekadar mitos dapur, melainkan konsekuensi langsung dari kerusakan seluler yang terjadi selama siklus pembekuan dan pencairan. Masalah tekstur ini, yang sering kali mengurangi kenikmatan kuliner dan bahkan dapat menyebabkan pemborosan pangan, berakar pada pembentukan kristal es dan "kejutan suhu" ekstrem yang dialami bahan pangan, demikian penjelasan para ahli teknologi pangan dan praktisi kuliner.
Inti dari masalah ini terletak pada proses pembekuan itu sendiri. Saat air di dalam sel makanan membeku, ia membentuk kristal es. Jika proses pembekuan berlangsung lambat, kristal es yang terbentuk akan berukuran besar dan tajam, merusak dinding sel. Kerusakan ini menyebabkan hilangnya air atau "drip loss" yang signifikan saat pencairan (thawing), membawa serta zat gizi penting dan membuat tekstur daging menjadi keras, hambar, dan kering. Universitas Ciputra menyebutkan bahwa kerusakan sel akibat kristal es ini sangat jelas terjadi pada buah dan sayuran, membuat mentimun menjadi lemas dan susu mengalami pemisahan saat dicairkan. Sementara pada daging, sel-selnya yang berserat dan lentur relatif lebih tahan, namun pembekuan lambat tetap menyebabkan "frozen burn" di mana daging berubah warna dan teksturnya rusak.
Pencairan yang tidak tepat memperparah kondisi. Mencairkan makanan beku dengan air panas atau pada suhu ruangan yang terlalu lama adalah kesalahan fatal. Air panas menyebabkan bagian luar makanan matang sebagian sementara bagian dalam masih beku, menciptakan "kejutan suhu" yang mengakibatkan serat makanan menciut cepat dan kehilangan kelembapan alami, sehingga teksturnya menjadi keras dan alot. Di sisi lain, membiarkan makanan mencair terlalu lama di suhu ruangan berisiko tinggi terhadap pertumbuhan bakteri berbahaya karena makanan berada dalam "zona bahaya" suhu antara 4°C hingga 60°C.
Untuk mengatasi tantangan ini, strategi kunci berfokus pada teknik pencairan dan pemasakan yang terkontrol. Metode "slow thawing" di kulkas adalah yang paling direkomendasikan. Memindahkan bahan makanan dari freezer ke bagian pendingin (chiller) kulkas setidaknya 12 hingga 24 jam sebelum dimasak memungkinkan suhu naik secara perlahan. Proses bertahap ini memberikan waktu bagi serat daging atau sayuran untuk menyerap kembali kelembapan dari kristal es yang mencair, mempertahankan tekstur empuk dan juicy. Metode ini dianggap paling aman karena meminimalkan risiko kontaminasi bakteri.
Alternatif lain untuk pencairan yang lebih cepat namun tetap aman adalah menggunakan air dingin mengalir. Bahan makanan beku harus dibungkus rapat dalam plastik kedap udara sebelum direndam dalam air dingin, dan air perlu diganti setiap 30 menit untuk menjaga suhu tetap rendah. Metode ini disarankan tidak lebih dari dua jam untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Microwave dengan fitur "defrost" juga dapat digunakan untuk pencairan cepat, namun makanan harus segera dimasak setelah proses ini untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan menjaga kualitas.
Setelah pencairan, teknik memasak memegang peran krusial. Penggunaan larutan garam (brining) untuk daging setelah dicairkan dapat membantu memecah protein yang kaku akibat pembekuan, sehingga daging mampu menahan lebih banyak cairan saat dimasak, menghasilkan tekstur yang empuk. Untuk sayuran beku, penting untuk menghindari perebusan berlebihan yang dapat membuatnya lembek dan menghilangkan nutrisi. Metode mengukus atau menumis dengan durasi singkat (sekitar 5-7 menit) atau memanggang (20-25 menit) lebih disarankan untuk mempertahankan tekstur renyah dan kandungan gizinya. Beberapa sayuran beku bahkan sudah direbus sebagian sebelum dibekukan, sehingga pengukusan menjadi metode yang sangat tepat.
Menghindari "kejutan suhu" saat memasak adalah prinsip utama. Untuk makanan beku yang digoreng, pastikan minyak sudah panas sebelum dimasukkan, lalu segera kecilkan api agar matang merata tanpa mengeras di bagian luar. Menggunakan panci presto juga dapat menghasilkan daging beku yang empuk karena tekanan tinggi membantu panas menembus daging lebih cepat dan efektif. Selain itu, beberapa ahli menyarankan untuk membiarkan daging "beristirahat" sebentar setelah dimasak sebelum dipotong, sebuah tahap yang dikenal sebagai "resting," untuk memungkinkan jus tersebar merata dan menjaga daging tetap juicy.
Implikasi dari pemahaman teknik memasak makanan beku ini melampaui sekadar kepuasan kuliner. Di tengah tren gaya hidup urban yang serba cepat, di mana makanan beku menjadi solusi praktis untuk stok bahan pangan, menguasai metode ini berarti mengurangi pemborosan makanan, menjaga nilai gizi, dan memastikan keamanan konsumsi. Pedoman dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bahkan menegaskan bahwa pangan olahan beku merupakan pangan berisiko tinggi jika penanganannya tidak tepat, menggarisbawahi pentingnya proses yang benar dari penyimpanan hingga pengolahan akhir.
Masa depan kuliner rumahan dan industri pangan beku akan terus menekankan inovasi dalam teknik pembekuan cepat yang menghasilkan kristal es lebih kecil, serta panduan yang lebih jelas bagi konsumen. Edukasi mengenai pentingnya suhu stabil di freezer (-18°C atau lebih rendah) dan penggunaan kemasan kedap udara untuk mencegah "freezer burn" – kondisi di mana makanan kehilangan kelembapan dan menjadi kering serta berubah warna akibat paparan udara dingin – juga menjadi krusial. Dengan penerapan praktik yang tepat, makanan beku dapat terus menjadi pilar efisiensi dapur modern tanpa mengorbankan kualitas rasa dan tekstur.