:strip_icc()/kly-media-production/medias/5473361/original/031999400_1768433762-cokelat_dubai2.jpg)
Gelombang euforia kuliner telah melanda Korea Selatan, dipicu oleh kemunculan "Dujjonku," sebuah kudapan manis lokal yang terinspirasi dari cokelat viral Dubai, yang kini tidak hanya mengubah lanskap bisnis makanan kecil tetapi juga menekan rantai pasokan bahan baku kunci. Fenomena ini, yang mulai mengemuka pada September 2024 setelah dipopulerkan oleh sejumlah figur publik Korea, telah menciptakan antrean panjang, memicu inovasi ritel, dan bahkan melahirkan pasar gelap daring untuk camilan yang sulit didapat ini.
Dujjonku, yang namanya merupakan akronim dari "Dubai chewy cookie," adalah reinterpretasi Korea dari cokelat yang mendunia dari Fix Dessert Chocolatier yang berbasis di Uni Emirat Arab. Cokelat Dubai orisinal terkenal dengan isian pasta pistachio, tahini, dan remah-remah pastry knafeh yang renyah, yang menjadi sensasi global berkat video TikTok seorang influencer pada Desember 2023 yang ditonton lebih dari 300 juta kali. Berbeda dengan inspirasi cokelat batangan, Dujjonku Korea menggabungkan krim pistachio dan kataifi, sejenis pastry Timur Tengah yang diparut halus, kemudian dibungkus dalam marshmallow leleh dan ditaburi bubuk kakao. Hasilnya adalah tekstur yang kenyal dan lengket, lebih menyerupai kue beras daripada kue konvensional, meskipun disebut "cookie".
Penyebaran Dujjonku secara massal di Korea Selatan sebagian besar didorong oleh dukungan selebriti. Idol K-pop Jang Won-young dari grup Ive menjadi pemicu utama ketika ia membagikan foto camilan ini di Instagram pada September 2024, yang segera memicu lonjakan minat. Aktris Kim Se-jeong, serta anggota grup idol WOODZ dan Seungchan dari RIIZE, juga turut memperkuat tren melalui unggahan media sosial mereka. Bahkan Chef Ahn Sung-jae, seorang juri di program "Culinary Class Wars," sempat memicu perdebatan online dengan interpretasi Dujjonku buatannya sendiri di saluran YouTube-nya, yang kemudian ia tanggapi dengan video "A/S" (after-service).
Dampak ekonominya sangat signifikan. Platform analisis kata kunci Blackkiwi melaporkan bahwa pencarian untuk "Dubai Chewy Cookie" melonjak 3.700% hanya dalam satu bulan, dengan perkiraan total pencarian mencapai 1,33 juta pada akhir Januari 2025. Toko-toko makanan penutup kecil melaporkan penjualan ratusan Dujjonku per hari, dengan stok 200 hingga 300 unit seringkali ludes dalam hitungan menit setelah pembukaan toko. Rantai toko serba ada juga cepat menanggapi; CU meluncurkan kue beras kenyal bergaya Dubai pada Oktober 2024 dan telah menjual lebih dari 1,8 juta unit, dengan batas pasokan harian per toko diberlakukan akibat kendala produksi pabrik. Kompetitornya, GS25, juga merilis serangkaian makanan penutup cokelat Dubai, berhasil menjual lebih dari 1 juta unit dengan tingkat penjualan 97%, yang menghasilkan peningkatan penjualan bulanan rata-rata 4,3 kali lipat dari bulan pertama.
Permintaan yang melambung ini menyebabkan kelangkaan dan inflasi harga. Satu Dujjonku yang biasanya dijual antara 5.000 hingga 10.000 won (sekitar $3 hingga $7 USD) di kafe dan toko serba ada, kini diperdagangkan hingga 15.000 won (sekitar $10 USD) di platform pasar barang bekas seperti Carrot Market. Cokelat Fix Dessert Chocolatier orisinal, yang awalnya berharga $20, bahkan dilaporkan dijual kembali di Korea dengan harga lebih dari 70.000 won (sekitar $50 USD). Lonjakan permintaan juga membebani rantai pasokan bahan baku. Harga pistachio, salah satu bahan utama, telah naik sekitar 20% secara domestik tahun ini, didorong oleh kenaikan harga global dan pelemahan mata uang won. Harga pistachio internasional mencapai sekitar $12 per pon, naik dari sekitar $8 setahun sebelumnya. Penjualan marshmallow, bahan penting lainnya, juga melonjak hampir lima puluh kali lipat karena banyaknya konsumen yang mencoba membuat Dujjonku sendiri di rumah.
Beberapa ahli menjelaskan daya tarik Dujjonku terletak pada "kelebihan fisik" dan "daya tarik visualnya yang melimpah," sebuah karakteristik yang konsisten dengan tren makanan viral sebelumnya di Korea Selatan, seperti "macaron gemuk" yang menampilkan isian krim yang jauh lebih tebal daripada versi Prancis aslinya. Kritikus makanan Lee Yong-jae mengamati bahwa tren ini mencerminkan budaya makanan Korea di mana "kelebihan visual lebih penting daripada keseimbangan atau harmoni bahan dan rasa". Min, seorang pakar tren lokal, memprediksi bahwa Dujjonku akan bertransisi dari sekadar tren viral menjadi klasik yang dicintai di kafe-kafe makanan penutup premium.
Implikasi tren ini meluas jauh melampaui sektor kuliner, membentuk kembali operasional bisnis kecil, pemanfaatan platform pengiriman makanan, dan penetapan harga bahan baku. Restoran yang tidak memiliki kaitan sebelumnya dengan roti atau kue, termasuk restoran jokbal, sushi, dan ceker ayam pedas, mulai menawarkan Dujjonku sebagai item promosi untuk meningkatkan visibilitas di aplikasi pengiriman. Fenomena ini telah memunculkan "peta Dujjonku" daring yang melacak toko-toko yang menjual camilan tersebut serta tingkat stoknya secara real-time, mendorong praktik "open run" di mana konsumen antre berjam-jam sebelum toko buka. Dujjonku tidak lagi sekadar makanan penutup; ia telah menjadi "fenomena budaya" dan bahkan disebut sebagai "mata uang" di pasar tertentu. Namun, seiring dengan popularitasnya, beberapa pihak juga mulai mengkhawatirkan aspek kesehatan, mengingat satu Dujjonku berukuran 50 gram diperkirakan mengandung sekitar 245 kalori, 28 gram karbohidrat, 14 gram gula, 4 gram protein, dan 13 gram lemak.