:strip_icc()/kly-media-production/medias/5227977/original/038458900_1747832621-steptodown.com538258.jpg)
Ketertarikan masyarakat terhadap gosip selebriti, sebuah fenomena yang tampak sefenomena hiburan ringan, ternyata berakar pada kebutuhan psikologis dan sosiologis manusia yang kompleks, menurut pandangan para psikolog. Ini mencakup dorongan untuk membentuk ikatan sosial, memenuhi kebutuhan akan perbandingan sosial, hingga mencari pelarian dari tekanan hidup sehari-hari. Pada tahun 2019, sebuah penelitian dalam jurnal Social and Psychological Personality Science terhadap 467 partisipan menemukan bahwa sekitar 75% gosip bersifat netral dan tidak bermuatan negatif, menunjukkan bahwa fungsi gosip lebih luas dari sekadar menjatuhkan.
Secara historis, daya tarik pada individu yang berada di puncak hirarki sosial adalah hal yang natural. Sejak era 1990-an di Indonesia, program gosip di televisi berkembang pesat sebagai respons terhadap dinamika industri media, dan kini, platform media sosial mempercepat penyebaran informasi tentang kehidupan selebriti, memudahkan masyarakat untuk mengakses dan mencerna cerita tanpa konfirmasi langsung. Hal ini membentuk suatu "hubungan parasosial," sebuah ikatan emosional satu arah di mana individu merasa dekat dengan tokoh media tanpa interaksi langsung. Menurut American Psychological Association (APA), gosip adalah komunikasi personal tentang informasi yang sering kali belum terverifikasi, namun berperan besar dalam membentuk norma sosial dan ikatan kelompok. David Ludden, PhD, Ketua Departemen Psikologi Georgia Gwinnett College, menyatakan bahwa gosip hanyalah berbagi informasi sosial.
Beberapa alasan utama mengapa gosip selebriti begitu menarik, menurut para ahli, antara lain:
* Kebutuhan Sosial dan Ikatan Kelompok: Berbagi gosip dapat mempererat ikatan sosial antar individu. Ketika orang membahas topik yang sama, mereka merasa lebih terhubung, bahkan dapat menurunkan kecemasan dalam situasi ambigu. Stephen Benning, PhD, Associate Professor di University of Nevada, menjelaskan bahwa gosip membantu manusia memahami lingkungan sosialnya, "Kita adalah makhluk sosial. Gosip membantu kita mengetahui apa yang terjadi di lingkungan sosial."
* Perbandingan Sosial: Membandingkan kehidupan pribadi dengan kehidupan glamor selebriti seringkali menjadi pendorong. Individu menemukan penghiburan atau perasaan superioritas dengan mengetahui bahwa selebriti pun memiliki kekurangan dan masalah, membuat hidup mereka terasa tidak seburuk yang dibayangkan.
* Eskapisme dan Hiburan Instan: Kehidupan sehari-hari yang penuh tekanan dapat mendorong seseorang mencari pelarian. Drama percintaan, perseteruan, hingga masalah hukum selebriti menawarkan sensasi dan hiburan instan, menjadi pengalihan sementara dari realitas membosankan. Dalam konteks ini, gosip dapat menjadi aktivitas yang mudah dan menyenangkan untuk mengisi waktu luang.
* Identifikasi Diri dan Empati: Banyak orang mengidentifikasi diri dengan selebriti, melihat mereka sebagai representasi impian atau kelemahan. Skandal justru menunjukkan sisi manusiawi selebriti yang biasa, memicu empati. Penelitian dalam bidang psikologi sosial menunjukkan bahwa identifikasi diri dengan tokoh publik dapat meningkatkan rasa keterikatan emosional.
* Dorongan Ego dan Rasa Berkuasa: Mengetahui informasi yang tidak banyak orang lain tahu dapat memicu pelepasan hormon serotonin dan dopamin, menciptakan rasa bahagia dan kepuasan. Ini menjadi "dorongan ego" bagi penggosip, memberikan perasaan berkuasa atas subjek gosip.
Namun, ketertarikan berlebihan ini juga memiliki implikasi jangka panjang terhadap kesehatan mental. Keterikatan emosional yang intens dapat berkembang menjadi celebrity worship, suatu kondisi obsesif yang mengganggu kehidupan nyata dan relasi sosial. Penelitian oleh McCutcheon, Lange, & Houran (2002) yang mengembangkan Celebrity Attitude Scale (CAS) menunjukkan bahwa pada level ekstrem, celebrity worship dapat menyebabkan perilaku obsesif, mengganggu relasi sosial, dan memengaruhi kesehatan mental. Ummu 'Afifah, Mahasiswa Magister Sains Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, menjelaskan bahwa hubungan parasosial yang terlalu intens bisa merusak banyak aspek dalam hidup seseorang, mulai dari cara memandang diri sendiri hingga kehilangan arah hidup. Selain itu, terlalu banyak mengonsumsi gosip dapat menyebabkan kelelahan, kecemasan, dan depresi karena perasaan terus-menerus dinilai atau reputasi memburuk, serta memunculkan perasaan bersalah.
Di ranah sosial yang lebih luas, fokus berlebihan pada gosip selebriti berpotensi mengalihkan perhatian publik dari isu-isu sosial dan politik penting. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk memanipulasi opini publik dan menyebarkan informasi palsu, yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas demokrasi. Memahami akar psikologis di balik daya tarik gosip selebriti menjadi krusial untuk mendorong konsumsi informasi yang lebih bijak dan menjaga keseimbangan antara hiburan dan kesehatan mental individu.