:strip_icc()/kly-media-production/medias/5465708/original/048326000_1767774503-memasak_pakcoy8.jpg)
Jakarta, 7 Januari 2026 – Tantangan mengolah pakcoy agar tidak pahit, tetap renyah, dan lezat saat disajikan menjadi sorotan penting di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat akan pola makan sehat. Banyak koki rumahan menghadapi kesulitan mempertahankan tekstur dan rasa sayuran cruciferous ini, seringkali berujung pada hidangan yang layu dan getir, padahal pakcoy kaya nutrisi esensial. Permasalahan ini menghambat upaya meningkatkan konsumsi sayuran hijau di Indonesia, di mana rata-rata konsumsi buah dan sayur per kapita per hari pada tahun 2019 masih 209,89 gram, jauh di bawah ambang batas rekomendasi WHO dan Kementerian Kesehatan.
Rasa pahit pada pakcoy, yang termasuk dalam famili Brassicaceae bersama brokoli dan kale, umumnya disebabkan oleh senyawa glukosinolat dan diperparah oleh teknik memasak yang keliru, terutama memasak terlalu lama. Paparan panas berlebih mengubah struktur senyawa alami dalam daun, menghilangkan kesegaran dan memunculkan rasa pahit yang tidak diinginkan. Padahal, pakcoy merupakan sumber vitamin A, C, K, B6, serta mineral seperti kalsium, kalium, dan magnesium, yang bermanfaat untuk kesehatan tulang, mata, pencernaan, dan sebagai antioksidan.
Para ahli kuliner dan pakar gizi menekankan pentingnya beberapa tahapan krusial dalam pengolahan pakcoy untuk memaksimalkan rasa dan teksturnya. Langkah pertama dimulai dari pemilihan bahan baku. Pakcoy segar memiliki ciri daun hijau cerah tanpa bintik kuning atau cokelat, serta batang putih yang kokoh dan berair. Pakcoy yang layu cenderung memiliki rasa getir yang lebih kuat. Setelah dicuci bersih di bawah air mengalir, merendam pakcoy sebentar dalam air garam juga disebut dapat membantu mengurangi rasa pahit.
Teknik blanching atau perebusan singkat merupakan kunci utama. Merebus pakcoy dalam air mendidih selama 1 hingga 2 menit, kemudian segera merendamnya dalam air es, efektif mengurangi senyawa pahit alami sambil mempertahankan warna hijau cerah dan tekstur renyah. Proses ini menghentikan pematangan lebih lanjut dan menjaga integritas sel sayuran. Mantan kontestan MasterChef Indonesia, Adit Gurnawijaya, pernah membagikan tips serupa untuk mendapatkan pakcoy yang renyah.
Selanjutnya, waktu menumis pakcoy harus sangat singkat, idealnya 2 hingga 3 menit dengan api besar, untuk memastikan kematangan tanpa membuatnya layu dan pahit. Penggunaan bumbu yang tepat, seperti tumisan bawang putih cincang, saus tiram, kecap asin, sedikit gula, dan merica, berperan vital dalam menetralkan rasa pahit dan menciptakan keseimbangan rasa gurih-manis. Gula secara spesifik membantu menetralkan komponen pahit dalam sayuran. Joseph Jez, seorang ahli biologi tanaman dari Universitas Washington, menjelaskan bahwa senyawa glukosinolat yang menimbulkan rasa pahit pada sayuran brassica adalah mekanisme pertahanan tanaman terhadap serangga. Memahami mekanisme ini memberikan konteks ilmiah mengapa penanganan panas menjadi sangat penting.
Peningkatan kemampuan mengolah sayuran seperti pakcoy bukan hanya soal kenikmatan kuliner semata, tetapi juga memiliki implikasi jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat. Dengan teknik yang benar, sayuran yang sering dianggap sulit dan kurang disukai dapat menjadi pilihan hidangan sehari-hari yang lezat dan bergizi. Ini berkontribusi pada diversifikasi asupan sayuran dan mendukung target peningkatan konsumsi sayur nasional, yang pada akhirnya akan memperkuat ketahanan pangan dan kesehatan populasi di masa depan. Upaya edukasi tentang teknik memasak yang tepat menjadi esensial untuk mendorong adopsi pola makan yang lebih sehat di seluruh lapisan masyarakat.