:strip_icc()/kly-media-production/medias/2720086/original/097927000_1549257832-beef-close-up-cuisine-1352264.jpg)
Seiring pergantian tahun 2025 menuju 2026, tren masyarakat Indonesia untuk merayakan malam Tahun Baru di rumah dengan hidangan berkualitas restoran, khususnya steak ayam BBQ sederhana, semakin menguat. Fenomena ini didorong oleh pergeseran perilaku konsumen yang mencari nilai lebih dalam pengalaman kuliner di tengah kondisi ekonomi yang dinamis dan keinginan untuk kebersamaan yang lebih intim. Riset Nielsen yang dirilis Kementerian Perindustrian pada Mei 2020, misalnya, menunjukkan 49 persen konsumen menjadi lebih sering memasak di rumah setelah diberlakukannya imbauan tinggal di rumah. Perilaku ini, yang awalnya dipicu pandemi COVID-19, kini bertransformasi menjadi pilihan gaya hidup berkelanjutan.
Peralihan ini memiliki implikasi signifikan terhadap industri kuliner dan ekonomi rumah tangga. Data terbaru dari Jabatan Perangkaan Malaysia (DOSM) pada Oktober 2025 mengonfirmasi bahwa inflasi makanan di rumah tetap stabil pada angka nol persen, kontras dengan kenaikan 2,9 persen untuk makanan di luar rumah. Ini menjadikan memasak sendiri pilihan yang lebih ekonomis di tengah tantangan biaya hidup yang masih tinggi. Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, turut mengindikasikan adanya "fenomena Rojali" (Rombongan Jarang Beli) di pusat perbelanjaan, di mana pengunjung mal meningkat sekitar 10% namun transaksi cenderung selektif, utamanya mencari produk dengan harga satuan murah, yang menunjukkan penurunan omzet bagi sebagian besar pelaku usaha ritel, termasuk restoran.
Para ahli dan pengamat kuliner menyoroti bagaimana masyarakat kini menginginkan pengalaman bersantap istimewa tanpa harus mengeluarkan biaya besar atau menghadapi keramaian di luar. "Banyaknya waktu di rumah membuat masyarakat memilih untuk masak makanan mereka sendiri," jelas Fildzah Karunia Putri, Dosen Program Studi S1 Ilmu Gizi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, pada 2020. Ia menambahkan, kebiasaan ini memungkinkan kontrol bahan makanan dan cara pengolahan, yang juga meningkatkan status gizi. Ini sejalan dengan temuan bahwa memasak di rumah memberikan kepuasan tersendiri dan bahkan dapat menjadi terapi penghilang stres.
Konsep "steak ayam BBQ sederhana ala restoran" menjadi populer karena menggabungkan kemudahan, efisiensi biaya, dan hasil yang memuaskan. Resep-resep yang beredar luas di platform digital seringkali menonjolkan penggunaan bumbu marinasi minimalis namun efektif, seperti campuran madu, kecap manis, saus tiram, dan margarin, yang dapat mengkaramelisasi ayam hingga menghasilkan cita rasa manis dan gurih layaknya hidangan profesional. Pilihan ayam sebagai bahan utama juga lebih terjangkau dibandingkan daging sapi, namun tetap menawarkan profil rasa yang kaya saat diolah dengan teknik bakar atau panggang.
Ke depan, tren ini diproyeksikan akan terus berlanjut dan bahkan berkembang. Inovasi produk makanan siap masak (ready-to-cook) atau bumbu instan berkualitas tinggi akan menjadi kunci bagi pelaku industri. Dengan masyarakat semakin mahir dan berani berkreasi di dapur, kebutuhan akan bahan baku premium yang mudah diakses dan bumbu praktis untuk menciptakan hidangan "ala restoran" di rumah akan meningkat. Perusahaan teknologi makanan dan ritel yang mampu menawarkan solusi ini akan berada di posisi yang menguntungkan, sementara restoran perlu beradaptasi dengan menawarkan pengalaman unik yang tidak dapat direplikasi di rumah, atau mengembangkan produk siap saji premium untuk pasar rumah tangga. Pergeseran ini mencerminkan evolusi yang lebih luas dalam cara masyarakat mendefinisikan kemewahan dan kenyamanan dalam konsumsi kuliner, di mana nilai pengalaman personal dan kontrol atas apa yang dimakan menjadi prioritas utama.