Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tragedi Menyelam Bali: Turis Australia Tewas Akibat Serangan Panik Bawah Air

2026-01-01 | 03:26 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-31T20:26:06Z
Ruang Iklan

Tragedi Menyelam Bali: Turis Australia Tewas Akibat Serangan Panik Bawah Air

Seorang wisatawan asal Australia, Nathan John Scott (50), dilaporkan meninggal dunia saat melakukan aktivitas menyelam (diving) di perairan Pantai Tulamben, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Bali, pada Selasa (30/12/2025) sekitar pukul 11.30 WITA, setelah diduga mengalami serangan panik di kedalaman 15 meter dan melepas regulator pernapasan. Scott melakukan penyelaman bersama dua instruktur di lokasi yang berjarak sekitar 150 meter dari bibir Pantai Tulamben, destinasi populer bagi penyelam rekreasi global karena keberadaan bangkai kapal USAT Liberty. Insiden ini menyoroti kembali aspek keselamatan dalam wisata bahari Bali yang menarik minat ribuan wisatawan setiap tahunnya.

Menurut Kepala Seksi Humas Polres Karangasem, Ipda I Nengah Artono, korban panik dan melepaskan regulator selamnya, kemudian meluncur cepat ke permukaan laut tanpa prosedur keselamatan yang semestinya. Instruktur yang mendampingi segera berupaya memberikan pertolongan dan meminta bantuan warga di sekitar pantai. Seorang nelayan, IYS, yang melihat sinyal minta tolong, mendekat dengan perahunya, namun saat tiba di lokasi, Scott sudah ditemukan mengambang tidak sadarkan diri dan tidak bernyawa. Korban segera dievakuasi ke Puskesmas Kubu, dan tim medis menyatakan ia telah meninggal dunia, diperkirakan sekitar satu jam sebelum pemeriksaan. Pemeriksaan awal tim medis menemukan tanda-tanda lebam pada dada dan punggung, lidah tergigit, serta busa keluar dari hidung korban, yang konsisten dengan insiden penyelaman fatal. Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) telah mengonfirmasi bahwa mereka memberikan bantuan konsuler kepada keluarga korban.

Peristiwa tragis ini menggarisbawahi risiko yang melekat dalam kegiatan menyelam, meskipun Bali dikenal memiliki kondisi bawah laut yang menawan dan umumnya tenang di beberapa situs seperti Tulamben. Serangan panik di bawah air dapat memicu reaksi berbahaya. Secara psikologis, serangan panik ditandai dengan perasaan takut, cemas, dan panik berlebihan, kesulitan berkonsentrasi, serta gejala fisik seperti jantung berdebar kencang, napas cepat, pusing, dan gemetar. Di lingkungan bawah air, reaksi ini dapat diperparah oleh aquaphobia atau fobia air, yang menyebabkan ketakutan berlebihan saat berhadapan dengan air. Melepas regulator dan melakukan ascent cepat yang tidak terkontrol, seperti yang diduga dilakukan Scott, adalah tindakan sangat berbahaya yang dapat menyebabkan cedera serius hingga kematian, termasuk penyakit dekompresi.

Regulasi keselamatan menyelam di Indonesia, termasuk Bali, diatur oleh Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 7 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Wisata Selam Rekreasi dan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 4 Tahun 2021 tentang Standar Usaha Wisata Selam. Regulasi ini mengharuskan seluruh kegiatan wisata selam rekreasi di perairan terbuka didampingi atau diawasi oleh pemandu selam (dive guide) atau instruktur selam bersertifikat. Perusahaan wisata selam juga wajib memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikat standar. Penyelaman rekreasi dianggap sebagai salah satu aktivitas wisata paling aman di Indonesia berkat dukungan sistem pelatihan yang kuat dari lembaga internasional seperti PADI dan SSI, serta kehadiran instruktur berlisensi. Namun, insiden ini menunjukkan perlunya pengawasan yang lebih ketat dan konsisten di lapangan.

Peran instruktur selam sangat krusial dalam memastikan keselamatan penyelam, terutama bagi pemula. Mereka bertanggung jawab untuk memberikan pengarahan pra-penyelaman yang komprehensif, memeriksa peralatan, dan memonitor kondisi penyelam di bawah air. Instruktur juga harus memiliki keahlian dan kapasitas psikologis untuk mengantisipasi dan merespons skenario darurat bawah air. Insiden seperti yang dialami Scott menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas protokol keamanan, kesiapan mental penyelam, dan kemampuan instruktur dalam menangani situasi panik yang mendadak.

Pihak kepolisian, melalui Satpolair Polres Karangasem, masih melakukan pendalaman untuk memastikan penyebab pasti meninggalnya korban. Tragedi ini menjadi pengingat penting bagi para wisatawan dan operator selam di Bali. Calon penyelam harus jujur mengenai riwayat kesehatan dan tingkat kenyamanan mereka dengan air, serta mempertimbangkan kursus penyegaran jika sudah lama tidak menyelam. Bagi operator, insiden ini menekankan urgensi untuk terus mematuhi standar keselamatan internasional dan nasional secara ketat, serta memastikan instruktur memiliki pelatihan yang memadai dalam penanganan krisis dan aspek psikologis penyelaman, guna menjaga reputasi Bali sebagai destinasi penyelaman kelas dunia dan mencegah terulangnya kejadian serupa.