Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Resep Tumis Buncis Telur: Solusi Cepat, Lezat, dan Bergizi untuk Keluarga Aktif

2026-01-07 | 15:51 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-07T08:51:15Z
Ruang Iklan

Resep Tumis Buncis Telur: Solusi Cepat, Lezat, dan Bergizi untuk Keluarga Aktif

Di tengah derasnya arus gaya hidup serbacepat dan tantangan malnutrisi di Indonesia, hidangan sederhana seperti tumis buncis telur mengemuka sebagai solusi praktis dan bergizi yang semakin relevan bagi keluarga modern. Pergeseran pola makan masyarakat urban yang semakin memperhatikan label gizi dan preferensi makanan berbasis nabati mendorong resep-resep rumahan yang efisien namun tetap kaya nutrisi.

Keluarga Indonesia masih menghadapi tantangan gizi yang kompleks, dikenal sebagai "triple burden of malnutrition", meliputi gizi kurang (stunting), gizi lebih (obesitas), dan defisiensi zat gizi mikro. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 menunjukkan sekitar 21,6% anak di Indonesia mengalami stunting. Selain itu, Survei Kesehatan Indonesia 2023 mengungkapkan lebih dari 96% masyarakat Indonesia masih kekurangan konsumsi sayur dan buah, dengan rata-rata konsumsi per kapita hanya 240,5 gram per hari, jauh di bawah target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Kesibukan orang tua di era modern seringkali menjadi penghalang utama dalam menyiapkan makanan sehat di rumah, menyebabkan banyak yang beralih ke makanan cepat saji atau olahan.

Tumis buncis telur menawarkan kombinasi nutrisi esensial yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal, khususnya bagi anak-anak. Buncis, atau Phaseolus vulgaris, kaya akan serat, vitamin (C, K, A, B6, folat), serta mineral penting seperti kalsium, zat besi, magnesium, fosfor, kalium, seng, dan mangan. Dalam 100 gram buncis mentah, terkandung sekitar 1,83 gram protein dan 2,7 gram serat, yang berperan vital dalam menjaga kesehatan jantung, mengontrol kadar gula darah, memperkuat sistem kekebalan tubuh, dan melancarkan pencernaan. Telur, sebagai komponen protein hewani, melengkapi kebutuhan asam amino esensial dan dikenal sebagai sumber protein tinggi yang membantu membangun dan mempertahankan massa otot. Kombinasi keduanya tidak hanya praktis disiapkan, tetapi juga menyediakan asupan gizi seimbang yang mendukung perkembangan otak dan fungsi kognitif anak, serta mencegah malnutrisi.

Diah Lestari, ahli gizi dan pendiri komunitas Makan Baik, menyoroti bahwa konsumen tidak hanya menginginkan makanan sehat tetapi juga yang ramah lingkungan dan mendukung petani lokal. Tren makanan sehat 2024 menunjukkan lebih dari 68% masyarakat urban lebih memperhatikan label gizi dan memilih makanan berbasis nabati. Chef Andra Wijaya, pelopor restoran berbasis pangan lokal sehat di Jakarta, menegaskan bahwa ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan transformasi jangka panjang dalam cara masyarakat memandang makanan. Integrasi bahan pangan lokal yang mudah didapat, seperti buncis dan telur, merupakan wujud nyata dari adaptasi terhadap perubahan pola konsumsi ini.

Meskipun buncis dan telur umumnya terjangkau, fluktuasi harga tetap menjadi perhatian. Pada awal Januari 2026, harga rata-rata telur ayam ras secara nasional mencapai Rp31.366 per kilogram, naik 4,55% di atas harga acuan pembelian nasional Rp30.000 per kilogram. Sementara itu, harga buncis di Medan pada awal Januari 2026 terpantau naik dari Rp22.000 menjadi Rp24.000 per kilogram, dipicu oleh penurunan pasokan akibat libur panjang. Namun, secara umum, kedua komoditas ini tetap menjadi pilihan ekonomis dibandingkan sumber protein dan sayuran lain yang lebih mahal.

Pemerintah juga mengintensifkan upaya peningkatan gizi keluarga melalui berbagai program. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto menargetkan seluruh anak Indonesia memiliki akses gizi yang baik pada akhir 2025, dengan fokus pada pemberian makan bergizi di sekolah dan bantuan gizi bagi balita serta ibu hamil berisiko stunting. Dewan Pakar Bidang Gizi Badan Gizi Nasional (BGN), Ikeu Tanziha, menjelaskan bahwa BGN mendorong penerima manfaat untuk memahami prinsip gizi seimbang sesuai karakter individu dan kondisi psikologis, serta mengedukasi tentang porsi makan yang seimbang. Inisiatif ini selaras dengan rekomendasi ahli gizi untuk melibatkan seluruh anggota keluarga dalam proses perencanaan dan penyiapan makanan sehat guna membentuk kebiasaan makan yang berkelanjutan dan menyenangkan. Momen makan bersama keluarga juga terbukti menurunkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, anemia, dan gangguan metabolik lainnya, sekaligus meningkatkan keterampilan sosial anak.

Dengan demikian, tumis buncis telur bukan sekadar resep masakan, melainkan representasi dari strategi adaptif keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi di tengah keterbatasan waktu dan tantangan gizi makro-mikro, sekaligus mendukung visi pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas di masa depan.