
Jakarta - Fenomena mata yang tampak sayu atau "ngantuk" seringkali diasumsikan sebagai kondisi medis ptosis, yaitu kelopak mata atas yang turun. Namun, evaluasi mendalam oleh para ahli medis internasional mengungkap bahwa kondisi ini jauh lebih kompleks, melibatkan serangkaian penyebab beragam mulai dari gangguan saraf langka, penyakit autoimun kronis, hingga dampak gaya hidup modern yang semakin intensif. Pemahaman yang keliru atau terbatas dapat menunda diagnosis dan penanganan tepat, berpotensi memengaruhi kualitas penglihatan dan kesehatan secara keseluruhan.
Ptosis, atau blepharoptosis, secara medis didefinisikan sebagai turunnya kelopak mata atas yang disebabkan oleh kelemahan atau disfungsi otot levator palpebra superior, otot yang bertanggung jawab mengangkat kelopak mata, atau masalah pada saraf yang mengendalikannya. Kondisi ini dapat bersifat bawaan sejak lahir (kongenital) atau didapat seiring waktu akibat usia, cedera, atau penyakit tertentu. Menurut American Academy of Ophthalmology, ptosis parah dapat membatasi bahkan menghalangi penglihatan normal.
Namun, penampilan mata yang sayu tidak selalu identik dengan ptosis. Dermatochalasis adalah salah satu kondisi yang seringkali disalahartikan sebagai ptosis. Kondisi ini dicirikan oleh kulit kelopak mata yang kendur, berlebihan, dan melorot, terutama pada orang dewasa dan lansia. Berbeda dengan ptosis yang melibatkan kelemahan otot, dermatochalasis terjadi karena kulit kelopak mata kehilangan elastisitasnya seiring penuaan, menciptakan tampilan kelopak mata yang "berkerudung" atau bengkak. Meskipun penyebabnya berbeda, dermatochalasis juga dapat mengganggu lapang pandang perifer dan menyebabkan mata terasa berat.
Selain masalah struktural dan otot, beberapa kondisi neurologis dan autoimun juga dapat bermanifestasi sebagai "mata ngantuk". Miastenia gravis (MG), sebuah penyakit autoimun yang menyerang komunikasi antara saraf dan otot, seringkali menyebabkan kelopak mata turun (ptosis) yang bersifat fluktuatif. Kelemahan otot pada penderita MG cenderung memburuk setelah beraktivitas atau di penghujung hari dan membaik dengan istirahat, yang dapat memengaruhi otot mata, wajah, tenggorokan, bahkan pernapasan.
Sindrom Horner, sindrom neurologis langka, merupakan penyebab lain dari kelopak mata yang turun secara unilateral. Kondisi ini muncul akibat kerusakan pada jalur saraf simpatik dari otak ke mata dan wajah, yang tidak hanya menyebabkan ptosis tetapi juga pupil mata mengecil (miosis) dan berkurangnya keringat pada sisi wajah yang terkena (anhidrosis). Pentingnya diagnosis dini pada Sindrom Horner adalah karena kondisi ini bisa menjadi indikasi adanya gangguan kesehatan serius, seperti stroke, tumor, atau cedera saraf. Neuropati kranial, kerusakan pada salah satu dari dua belas saraf kranial, juga dapat menyebabkan kelopak mata turun dan penglihatan ganda, tergantung pada saraf kranial mana yang terpengaruh.
Lebih jauh, faktor gaya hidup modern telah menjadi pemicu signifikan bagi tampilan mata yang lelah dan sayu. Kurang tidur adalah penyebab paling umum dari mata yang terlihat ngantuk atau bengkak. Sebuah penelitian di Swedia bahkan menemukan bahwa kurang tidur dapat membuat kelopak mata terlihat lebih turun dan menggantung, mata tampak merah, bengkak, dan muncul lingkaran gelap di bawah mata. Hal ini terjadi karena kurangnya oksigen di area mata dan pelebaran pembuluh darah yang menyebabkan penumpukan cairan. Penggunaan layar digital yang berlebihan (digital eye strain) juga membebani otot-otot mata, menyebabkan kelelahan dan penampilan mata yang sayu. Mata kering, kondisi di mana mata tidak mendapatkan pelumasan yang cukup, dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, iritasi, dan membuat mata terlihat lelah.
Mengingat banyaknya penyebab "mata ngantuk" yang melampaui ptosis, diagnosis yang akurat membutuhkan pemeriksaan menyeluruh oleh dokter spesialis mata atau neurolog. Everett & Hurite, sebuah klinik mata, menyoroti bahwa kelopak mata turun yang tidak diobati dapat memburuk seiring waktu, mengurangi lapang pandang, meningkatkan risiko jatuh atau kecelakaan, serta menyebabkan sakit kepala kronis dan nyeri leher akibat kompensasi postur tubuh. Pada anak-anak, ptosis yang tidak tertangani dapat menyebabkan ambliopia (mata malas) yang berisiko mengganggu perkembangan penglihatan permanen. Oleh karena itu, kesadaran akan berbagai penyebab dan implikasinya sangat krusial agar individu tidak menunda pencarian pertolongan medis dan mendapatkan penanganan yang sesuai.