Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Telur dan Kolesterol: Ahli Ungkap Fakta Sebenarnya, Bukan Sekadar Mitos

2026-01-09 | 20:45 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-09T13:45:33Z
Ruang Iklan

Telur dan Kolesterol: Ahli Ungkap Fakta Sebenarnya, Bukan Sekadar Mitos

Mitos lama yang mengaitkan konsumsi telur dengan peningkatan kadar kolesterol darah tinggi dan risiko penyakit jantung kini secara signifikan telah dibantah oleh penelitian ilmiah terbaru. Para ahli nutrisi dan kardiolog dari berbagai institusi terkemuka secara konsisten menekankan bahwa kolesterol makanan, termasuk yang terdapat dalam telur, memiliki dampak minimal pada kolesterol darah bagi sebagian besar individu sehat. Justru, asupan lemak jenuh dan lemak trans dari makanan lainlah yang menjadi pemicu utama peningkatan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam tubuh.

Selama beberapa dekade, telur, khususnya bagian kuningnya yang mengandung sekitar 185-200 mg kolesterol per butir, kerap menjadi kambing hitam dalam diet sehat. Hal ini berakar pada pemahaman awal tentang bagaimana kolesterol dari makanan berkontribusi pada kolesterol darah. Namun, pengetahuan mengenai metabolisme kolesterol telah berkembang pesat. Hati manusia memproduksi sebagian besar kolesterol yang dibutuhkan tubuh untuk berbagai fungsi vital seperti pembentukan sel sehat, hormon, dan vitamin D. Ketika asupan kolesterol dari makanan meningkat, hati secara alami akan mengurangi produksinya untuk menjaga keseimbangan.

Studi terbaru dari University of South Australia, yang diterbitkan dalam The American Journal of Clinical Nutrition pada Juli 2025, secara gamblang menunjukkan bahwa konsumsi telur tidak meningkatkan kolesterol jahat. Profesor Jon Buckley, peneliti utama studi tersebut, menyatakan bahwa telur memang mengandung kolesterol tinggi tetapi rendah lemak jenuh. Ia menegaskan bahwa lemak jenuhlah yang menjadi penyebab utama naiknya kadar kolesterol jahat, bukan kolesterol dari telur. Bahkan, dalam studi tersebut, peserta yang mengonsumsi dua butir telur per hari mengalami penurunan kadar kolesterol LDL, selama pola makan mereka tetap rendah lemak jenuh.

American Heart Association (AHA) dan berbagai organisasi kesehatan terkemuka lainnya telah merevisi pedoman mereka, tidak lagi memberikan batasan ketat pada kolesterol makanan untuk orang dewasa sehat. AHA merekomendasikan orang dewasa yang sehat dapat mengonsumsi hingga satu butir telur utuh setiap hari sebagai bagian dari pola diet sehat yang menyehatkan jantung. Beberapa ahli gizi bahkan memperbolehkan konsumsi hingga tujuh butir telur seminggu tanpa memengaruhi kesehatan jantung. Bagi lansia yang tidak memiliki gangguan kesehatan, konsumsi hingga enam butir telur per minggu juga dianggap aman.

Siti Kumairoh, S.Gz., dari RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, menjelaskan bahwa diet kolesterol modern lebih menitikberatkan pada pembatasan lemak jenuh dan lemak trans, serta peningkatan konsumsi serat dan lemak tak jenuh sehat, dibandingkan hanya membatasi kolesterol dari makanan. Lemak jenuh dapat ditemukan dalam daging merah, produk susu tinggi lemak, mentega, minyak kelapa, dan minyak sawit, sementara lemak trans ada pada margarin dan makanan yang digoreng. Sumber lemak tak jenuh yang sehat meliputi alpukat, kacang-kacangan, dan minyak nabati seperti minyak zaitun atau minyak jagung.

Selain kolesterol, telur adalah sumber nutrisi yang padat dan terjangkau. Satu butir telur besar mengandung sekitar 75 kalori, 6 gram protein, dan 5 gram lemak. Telur juga kaya akan vitamin A, D, B12, kolin yang penting untuk kesehatan otak, serta lutein dan zeaxanthin yang baik untuk mata. Putih telur, khususnya, dikenal sebagai sumber protein berkualitas tinggi yang rendah lemak dan kalori, menjadikannya pilihan yang baik untuk mereka yang ingin mengurangi asupan lemak.

Implikasi dari perubahan pemahaman ini sangat signifikan. Masyarakat tidak lagi perlu merasa bersalah atau khawatir berlebihan saat mengonsumsi telur dalam batas wajar. Fokus seharusnya beralih pada kualitas diet secara keseluruhan, dengan membatasi lemak jenuh dan lemak trans, serta mengedepankan pola makan seimbang yang kaya buah, sayuran, biji-bijian, dan protein tanpa lemak. Meskipun demikian, individu dengan kondisi kesehatan tertentu seperti diabetes tipe 2, kolesterol tinggi yang sudah ada, atau riwayat penyakit jantung, tetap disarankan untuk membatasi konsumsi telur hingga 3-4 butir per minggu dan berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi. Mengolah telur dengan cara direbus atau dikukus, daripada digoreng dengan banyak minyak, juga dapat membantu menjaga profil nutrisinya tetap optimal. Pergeseran paradigma ini memungkinkan telur untuk kembali menempati posisinya sebagai bagian berharga dari pola makan sehat dan seimbang.