Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Telur Puyuh Peringkat Pertama Kolesterol: Urutan Makanan dari Tertinggi ke Terendah

2026-01-08 | 15:28 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-08T08:28:04Z
Ruang Iklan

Telur Puyuh Peringkat Pertama Kolesterol: Urutan Makanan dari Tertinggi ke Terendah

Konsumsi telur puyuh, yang kerap dianggap sebagai alternatif makanan berukuran kecil, menempati peringkat teratas dalam daftar makanan dengan kandungan kolesterol tertinggi per 100 gram, sebuah fakta yang menantang persepsi umum dan memerlukan perhatian serius dalam konteks kesehatan jantung global. Data nutrisi terkini menunjukkan bahwa 100 gram telur puyuh mentah mengandung sekitar 844 miligram (mg) kolesterol, jauh melampaui 372 mg kolesterol dalam 100 gram telur ayam. Perbedaan signifikan ini terutama disebabkan oleh rasio kuning telur yang lebih tinggi pada telur puyuh dibandingkan telur ayam.

Perdebatan mengenai peran kolesterol diet dalam kesehatan manusia telah berlangsung selama beberapa dekade. Dulunya, rekomendasi kesehatan secara ketat membatasi asupan kolesterol harian. Namun, pemahaman ilmiah telah berkembang, dengan fokus bergeser pada dampak lemak jenuh dan trans, serta pola makan secara keseluruhan, terhadap kadar kolesterol darah. Pedoman Diet untuk Masyarakat Amerika Serikat 2015-2020, misalnya, menghapus batasan spesifik 300 mg per hari untuk kolesterol diet, meskipun tetap menyarankan untuk mengonsumsinya seminimal mungkin tanpa mengorbankan kecukupan gizi. Namun, bagi individu dengan hiperkolesterolemia atau kadar LDL (kolesterol jahat) di atas 100 mg/dL, pembatasan asupan kolesterol harian hingga kurang dari 300 mg/hari masih sangat dianjurkan.

Meskipun satu butir telur puyuh individual memiliki kadar kolesterol sekitar 76 mg, yang lebih rendah dari satu butir telur ayam yang mengandung sekitar 187-210 mg, kebiasaan mengonsumsi telur puyuh dalam jumlah banyak dapat dengan mudah menyebabkan asupan kolesterol berlebihan. American Heart Association (AHA) merekomendasikan pola makan sehat secara keseluruhan yang menekankan pada buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, serta sumber protein tanpa lemak, seraya membatasi lemak jenuh kurang dari 10 persen kalori harian, gula tambahan, dan natrium.

Selain telur puyuh, berbagai makanan lain juga dikenal memiliki kadar kolesterol tinggi per 100 gram. Otak sapi, misalnya, mengandung kolesterol mencapai 2.300 mg per 100 gram, menjadikannya salah satu yang tertinggi. Kuning telur ayam murni juga mencatatkan 2.000 mg kolesterol per 100 gram. Cumi-cumi mengandung 1.170 mg per 100 gram, diikuti jeroan kambing dengan 610 mg, kerang putih atau tiram dengan 450 mg, dan jeroan sapi dengan 380 mg. Mentega atau margarin komersial dapat mengandung sekitar 300 mg, sementara udang dan siput masing-masing sekitar 160 mg. Produk olahan seperti daging cepat saji, gorengan, dan beberapa jenis daging merah juga merupakan sumber kolesterol dan lemak jenuh yang patut diwaspadai.

Peningkatan kadar kolesterol, khususnya kolesterol Low-Density Lipoprotein (LDL) atau "kolesterol jahat", dapat memicu aterosklerosis, suatu kondisi di mana plak menumpuk di dinding arteri, menyebabkan penyempitan dan pengerasan pembuluh darah. Hal ini secara signifikan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular serius, termasuk serangan jantung dan stroke.

Para ahli gizi saat ini lebih menekankan pendekatan holistik dalam manajemen kolesterol. Rob Hobson, seorang ahli gizi terdaftar di Inggris, menyoroti pentingnya serat larut dalam diet, terutama saat sarapan, untuk membantu mengikat kolesterol di saluran pencernaan dan mencegah penyerapannya ke dalam darah. Pola makan yang kaya serat dari buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian utuh, serta protein tanpa lemak dan lemak sehat seperti asam lemak omega-3 yang ditemukan pada ikan salmon dan sarden, terbukti dapat menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida sekaligus meningkatkan kolesterol baik (HDL). Memilih metode memasak yang sehat seperti merebus atau mengukus, dibandingkan menggoreng, juga krusial dalam meminimalkan asupan kolesterol dan lemak trans. Oleh karena itu, bagi individu dengan riwayat kolesterol tinggi atau risiko penyakit jantung, sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi untuk menentukan batas aman konsumsi makanan tinggi kolesterol dan merancang pola makan yang sesuai.