Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Terungkap! Dokter Paru Bongkar Gejala Super Flu di Indonesia: Seberapa Parah?

2026-01-04 | 15:33 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-04T08:33:31Z
Ruang Iklan

Terungkap! Dokter Paru Bongkar Gejala Super Flu di Indonesia: Seberapa Parah?

Pulmonolog di Indonesia menyuarakan peringatan terhadap varian influenza A (H3N2) subclade K yang kini terdeteksi di delapan provinsi, dengan gejala yang diklaim lebih parah daripada flu musiman biasa, meskipun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan situasi masih terkendali. Sebanyak 62 kasus terkonfirmasi telah tercatat hingga akhir Desember 2025, dengan mayoritas kasus menyerang perempuan dan anak-anak usia 1-10 tahun.

Istilah "super flu" yang berkembang di masyarakat merujuk pada gelombang peningkatan aktivitas influenza yang cepat dan meluas, didorong oleh mutasi pada virus H3N2 yang menyebabkan gejala lebih intens. Dokter spesialis paru dari RS Paru Persahabatan, Prof. dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), menegaskan bahwa infeksi subclade K dapat memicu keluhan yang cukup berat, termasuk demam tinggi mendadak antara 39-41 derajat Celcius, nyeri otot dan sendi yang signifikan, sakit kepala hebat, batuk kering kuat yang melemahkan, lemas ekstrem, serta tenggorokan yang berat. Gejala ini cenderung berlangsung lebih lama, antara 7 hingga 14 hari atau bahkan lebih, berbeda dengan pilek biasa yang umumnya membaik dalam 3-5 hari. Komplikasi serius seperti pneumonia, infeksi sekunder, hingga gagal ginjal dan hati dapat terjadi, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis.

Kemenkes, melalui Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penyakit Menular dr. Prima Yosephine, mengonfirmasi deteksi subclade K sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI), dengan kasus pertama terdeteksi di Jawa Tengah dan temuan terbaru di Jawa Barat. Provinsi Jawa Timur melaporkan kasus terbanyak dengan 23 kasus, diikuti Kalimantan Selatan dengan 18 kasus, dan Jawa Barat 10 kasus. Meskipun demikian, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan dr. Prima Yosephine menegaskan bahwa varian ini tidak lebih mematikan dibandingkan influenza biasa maupun COVID-19, dan tren kasus influenza nasional justru menunjukkan penurunan dalam dua bulan terakhir. Mereka mengimbau masyarakat untuk tidak panik namun tetap waspada.

Varian H3N2, yang telah bersirkulasi sejak 1968, terus mengalami mutasi genetik kecil (antigenic drift) yang membuat sistem kekebalan tubuh kesulitan mengenalinya, bahkan pada individu yang sudah pernah terinfeksi atau divaksinasi sebelumnya. Lonjakan kasus di awal 2026 ini dipicu oleh kombinasi penurunan imunitas populasi terhadap strain lama dan mutasi virus, diperparah oleh mobilitas masyarakat pasca libur panjang serta cuaca ekstrem. Tingkat penularan subclade K juga relatif cepat, dengan satu orang dapat menularkan kepada dua hingga tiga orang lainnya.

Meskipun Kemenkes menyatakan vaksin influenza yang tersedia tetap efektif dalam mencegah sakit berat, rawat inap, dan kematian, masyarakat diimbau untuk memperkuat pertahanan tubuh melalui perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, dan rutin berolahraga. Penggunaan masker di transportasi umum atau saat berinteraksi dengan penderita, serta kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, terbukti menurunkan risiko penularan. Ahli juga menekankan pentingnya isolasi diri di rumah jika mengalami gejala, hingga demam mereda selama 24 jam tanpa obat. Jika gejala memburuk atau tidak kunjung membaik, terutama pada kelompok berisiko tinggi, konsultasi medis dan penggunaan antivirus sesuai resep dokter dalam 48 jam pertama sangat dianjurkan. Penguatan surveilans epidemiologi dan edukasi publik oleh pemerintah menjadi kunci dalam mengelola dinamika penyebaran varian influenza ini.