Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Terungkap: Komplikasi Flu Langka yang Menyerang Balita 4 Tahun Ini

2026-01-05 | 17:40 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-05T10:40:38Z
Ruang Iklan

Terungkap: Komplikasi Flu Langka yang Menyerang Balita 4 Tahun Ini

Seorang anak perempuan berusia empat tahun di Indonesia baru-baru ini berjuang melawan komplikasi neurologis langka yang dipicu oleh infeksi influenza serius, menyoroti ancaman tersembunyi dari virus musiman yang sering diremehkan ini pada kelompok usia rentan. Kasus ini, yang oleh beberapa media disebut sebagai "super flu," menunjukkan bahwa flu dapat menyebabkan kondisi serius dan berpotensi fatal, jauh melampaui gejala pernapasan biasa.

Komplikasi neurologis akibat influenza pada anak-anak bukanlah hal yang asing, namun kerap luput dari perhatian. Anak-anak, terutama yang berusia di bawah lima tahun, memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami komplikasi parah terkait flu dibandingkan orang dewasa. Meskipun sebagian besar anak yang terinfeksi flu pulih dengan istirahat dan cairan, sebagian kecil dapat mengalami kondisi yang mengancam jiwa. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat mencatat, influenza dapat menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk pneumonia, dehidrasi parah, perburukan kondisi medis kronis, infeksi sinus dan telinga, serta disfungsi otak seperti ensefalopati. Dalam kasus yang jarang terjadi, komplikasi ini dapat berujung pada kematian.

Salah satu komplikasi neurologis paling parah adalah ensefalopati nekrotik akut terkait influenza (ANE), yang menyebabkan pembengkakan otak dan respons imun yang tak terkendali. Kondisi ini dapat berakibat fatal, dengan sekitar 27% anak yang terkena meninggal dunia. Dari para penyintas, 63% masih mengalami disabilitas sedang hingga berat tiga bulan setelah sakit. ANE dilaporkan meningkat jumlah kasusnya dalam dua musim flu terakhir, dengan puluhan anak di AS mengembangkan penyakit mematikan ini. Dr. Keith Van Haren, seorang profesor neurologi dan pediatri di Stanford Medicine, menjelaskan bahwa ANE adalah komplikasi flu yang paling parah, namun hanya "puncak gunung es" dari potensi bahaya flu yang lebih luas, termasuk bentuk lain pembengkakan otak, pneumonia, dan gagal napas. Menariknya, studi menunjukkan bahwa tiga perempat dari anak-anak yang menderita ANE sebelumnya dianggap sehat.

Selain ANE, influenza juga diketahui berhubungan dengan komplikasi neurologis lain seperti sindrom Reye, sindrom Guillain-Barré, mielitis transversa, dan kejang. Sindrom Reye, kondisi langka namun serius, dapat menyebabkan kerusakan hati dan otak, paling sering menyerang anak-anak dan remaja yang baru sembuh dari infeksi virus seperti flu. Penggunaan aspirin pada anak yang terinfeksi virus diduga dapat memicu atau memperparah kerusakan mitokondria hati yang menyebabkan sindrom Reye. Gejala awal sindrom Reye pada anak di atas dua tahun dapat meliputi lesu, mudah mengantuk, dan muntah terus-menerus.

Miokarditis, atau peradangan otot jantung, juga merupakan komplikasi langka namun berpotensi fatal dari infeksi virus, termasuk influenza, pada anak-anak. Peradangan ini dapat menyebabkan gangguan fungsi jantung dan berisiko henti jantung mendadak. Virus influenza terdaftar sebagai salah satu penyebab umum miokarditis pada anak.

Para ahli menekankan pentingnya vaksinasi flu tahunan sebagai pertahanan paling efektif untuk mencegah influenza dan komplikasi seriusnya. Vaksin tidak hanya melindungi individu yang divaksinasi tetapi juga membantu mengurangi penularan flu dalam komunitas. Dr. Keith Van Haren menegaskan, "Vaksin benar-benar membantu melindungi secara luar biasa terhadap semua komplikasi tersebut." Survei menunjukkan, tingkat vaksinasi flu pada anak-anak di AS masih rendah, sekitar 50% selama musim 2023-2024 dan 2024-2025, jauh lebih rendah dari yang direkomendasikan. Tingkat cakupan Vaksinasi Influenza Musiman (SIV) untuk anak usia enam bulan hingga di bawah dua tahun di Hong Kong juga masih rendah, sekitar 25 persen.

Selain vaksinasi, langkah pencegahan lainnya meliputi praktik kebersihan yang baik seperti sering mencuci tangan, membatasi paparan terhadap individu yang sakit, menjaga pola makan bergizi, memastikan tidur yang cukup, dan mendorong aktivitas fisik teratur. Orang tua juga didesak untuk segera mencari pertolongan medis jika anak menunjukkan gejala flu yang tidak biasa atau tanda-tanda neurologis seperti kejang, kesulitan bernapas, atau perubahan kesadaran. Diagnosis dan penanganan dini sangat penting untuk meningkatkan peluang pemulihan dan mengurangi risiko disabilitas jangka panjang.

Musim flu telah merenggut banyak nyawa anak-anak di berbagai belahan dunia. Di Amerika Serikat, lebih dari 100 kematian anak terkait influenza dilaporkan selama musim flu terakhir. CDC memperkirakan, setidaknya delapan kematian anak akibat flu dilaporkan hingga awal Januari di AS pada musim saat ini, dengan total sekitar 7,5 juta kasus, 81.000 rawat inap, dan 3.100 kematian akibat flu secara keseluruhan. Di Indonesia sendiri, influenza diperkirakan bertanggung jawab atas sekitar 2.000-4.000 kematian per tahun. Angka-angka ini menggarisbawahi urgensi bagi orang tua dan penyedia layanan kesehatan untuk tetap waspada terhadap potensi keparahan influenza pada anak-anak dan memastikan langkah-langkah pencegahan serta penanganan yang tepat diambil.