
Seorang pria berusia 21 tahun harus dilarikan ke rumah sakit setelah kebiasaannya mengonsumsi delapan gelas minuman berenergi setiap hari menyebabkan kerusakan ginjal parah. Pria yang tidak disebutkan identitasnya ini didiagnosis dengan penyakit ginjal akut stadium tiga.
Insiden ini menyoroti bahaya serius dari konsumsi minuman berenergi berlebihan. Pasien tersebut dilaporkan mengonsumsi sekitar dua liter minuman berenergi setiap hari selama sebulan penuh. Kebiasaan ini dilakukan dalam rangka mempersiapkan diri untuk lomba lari, atau dalam kasus serupa yang juga terjadi pada mahasiswa lain, untuk mendukung sesi belajar hingga larut malam.
Ketika tiba di unit gawat darurat, pasien mengeluhkan mual dan muntah yang sudah berlangsung sehari sebelumnya. Gejala lain yang muncul termasuk kaki bengkak, kelelahan ekstrem, dan berkurangnya frekuensi buang air kecil. Meskipun riwayat kesehatannya dinilai baik, tanpa merokok, obesitas, atau penyakit kronis sebelumnya, hasil tes darah menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Kadar kreatinin, penanda fungsi ginjal, melonjak hingga lima kali lipat dari batas normal, dan kadar fosfornya juga tiga kali lebih tinggi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa ginjal gagal menyaring limbah dengan baik, dan jika dibiarkan dapat memicu gangguan organ vital, serangan jantung, hingga stroke. Fungsi ginjalnya dilaporkan telah turun di bawah 20 persen.
Para ahli kesehatan telah berulang kali memperingatkan tentang dampak buruk minuman berenergi. Minuman ini umumnya mengandung kafein tinggi, gula atau pemanis buatan, serta aditif seperti taurin, ginseng, dan guarana. Kafein memiliki efek diuretik, yang meningkatkan frekuensi buang air kecil dan menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan garam (natrium), meningkatkan risiko dehidrasi. Dehidrasi pada gilirannya dapat mengurangi aliran darah ke ginjal dan mengganggu fungsinya. Selain itu, konsumsi berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah dan detak jantung, yang memengaruhi kinerja organ kardiovaskular dan berpotensi merusak ginjal.
Kandungan gula yang tinggi dalam minuman berenergi juga berkontribusi pada kerusakan ginjal dan risiko masalah metabolik seperti diabetes tipe 2. Dosis kafein yang direkomendasikan untuk remaja (12-18 tahun) adalah kurang dari 100 mg per hari, namun satu porsi minuman berenergi seringkali mengandung 100-200 mg kafein. Konsumsi jangka panjang dan berlebihan, seperti yang dialami pria 21 tahun ini, dapat memicu gagal ginjal akut maupun kronis.
Meskipun dalam beberapa kasus yang dilaporkan, fungsi ginjal dapat kembali normal setelah penghentian total minuman berenergi, pemulihan penuh fungsi ginjal seringkali tidak dapat dijamin. Kasus ini menjadi pengingat serius bagi masyarakat, terutama kaum muda, untuk membatasi atau menghindari konsumsi minuman berenergi guna menjaga kesehatan ginjal dan organ tubuh lainnya. Para dokter menekankan bahwa gaya hidup tidak sehat, terutama penyalahgunaan minuman berenergi, merupakan faktor signifikan penyebab kerusakan ginjal.