
Seorang remaja berusia 14 tahun harus menghadapi kenyataan pahit diagnosis kanker vagina, suatu kondisi medis yang secara mengejutkan langka pada kelompok usia muda dan umumnya menyerang wanita pascamenopause. Kasus ini menyoroti betapa pentingnya kewaspadaan terhadap gejala yang tidak biasa, terlepas dari usia.
Liliana Castaneda, seorang remaja, mulai mengalami gejala aneh pada awal 2020, termasuk bercak darah di celana dalamnya. Mengira itu adalah awal menstruasinya, ia tidak terlalu khawatir pada awalnya. Namun, pendarahan yang tidak kunjung berhenti dan justru semakin memberat, hingga harus mengganti pembalut setiap 10-15 menit, membuatnya merasakan pusing dan kelelahan ekstrem yang berujung pada anemia. Awalnya, dokter menduga pendarahan tersebut disebabkan oleh stres akibat pandemi COVID-19 dan perubahan hidup lainnya. Meskipun diberikan alat kontrasepsi untuk menghentikan pendarahan, gejala tersebut terus berlanjut selama lima bulan.
Setelah serangkaian pemeriksaan lebih lanjut, termasuk USG dan biopsi, Liliana didiagnosis menderita karsinoma sel jernih, bentuk kanker vagina langka yang sebagian besar ditemukan pada wanita pascamenopause. Kanker vagina sendiri adalah jenis kanker yang jarang terjadi, bahkan tercatat hanya sekitar 3% dari semua kasus kanker ginekologi. Penyakit ini umumnya didiagnosis pada wanita di atas usia 60 tahun, dengan hampir separuh kasus terjadi pada usia 70 tahun atau lebih. Sangat jarang ditemukan pada wanita di bawah 40 tahun, dengan hanya sekitar 15 persen kasus yang terjadi di kelompok usia tersebut.
Dokter Dario Roque, spesialis onkologi ginekolog yang merawat Liliana di Northwestern Medicine, menyatakan bahwa Liliana adalah pasien termuda yang pernah ditanganinya untuk jenis kanker ini. Diagnosis ini menjadi sangat mengejutkan karena karsinoma sel jernih pada vagina sering dikaitkan dengan paparan dietilstilbestrol (DES) pada ibu hamil di masa lalu, yang kini sudah dilarang, atau lebih umum terjadi pada wanita lanjut usia.
Gejala kanker vagina pada tahap awal sering kali tidak spesifik atau bahkan tidak menunjukkan gejala sama sekali, sehingga seringkali baru terdeteksi saat stadium lanjut atau melalui pemeriksaan rutin. Namun, seiring berkembangnya penyakit, beberapa tanda umum dapat muncul seperti perdarahan abnormal dari vagina (termasuk setelah berhubungan seksual, di luar periode menstruasi, atau setelah menopause), keputihan yang encer, berbau, atau mengandung darah, benjolan pada vagina, nyeri saat buang air kecil, nyeri panggul, dan sembelit. Liliana mengalami perdarahan abnormal yang merupakan salah satu gejala utama.
Penyebab pasti kanker vagina belum diketahui sepenuhnya, namun beberapa faktor risiko telah teridentifikasi, antara lain infeksi virus Human Papillomavirus (HPV), usia lanjut, riwayat kelainan sel prakanker (seperti vaginal intraepithelial neoplasia/VAIN), riwayat histerektomi, kebiasaan merokok, berhubungan seksual pada usia dini, sering berganti pasangan seksual, dan infeksi HIV.
Pengobatan kanker vagina umumnya melibatkan radioterapi sebagai metode utama, dapat juga dikombinasikan dengan pembedahan, kemoterapi, imunoterapi, atau brakiterapi, tergantung pada stadium dan kondisi pasien. Kasus Liliana Castaneda menjadi pengingat penting bagi masyarakat dan tenaga medis tentang kemungkinan munculnya penyakit langka pada populasi yang tidak umum, menekankan perlunya deteksi dini dan penanganan yang tepat untuk meningkatkan peluang kesembuhan.