:strip_icc()/kly-media-production/medias/3135262/original/070218800_1590163766-15132.jpg)
Banyak orang memulai program diet dengan harapan besar untuk mencapai berat badan ideal, namun seringkali berakhir dengan frustrasi ketika hasil yang diharapkan tak kunjung tiba. Menurunkan berat badan bukanlah perkara sederhana "kalori masuk dan kalori keluar" semata, melainkan melibatkan berbagai faktor kompleks dalam tubuh. Menurut ahli gizi Amy Gorin, genetika, lingkungan, pola tidur, dan massa otot, hanyalah sebagian dari banyak aspek yang berperan dalam penurunan berat badan. Jika Anda sedang berjuang, berikut delapan faktor yang sering menjadi penghambat berat badan sulit turun:
1. Stres dan Kurang Tidur
Stres adalah faktor yang sering diabaikan dalam program diet. Saat stres, tubuh melepaskan hormon kortisol yang dapat meningkatkan nafsu makan, terutama keinginan untuk mengonsumsi makanan manis dan berlemak. Selain itu, kurang tidur yang berkualitas dapat mengganggu keseimbangan hormon pengatur nafsu makan seperti ghrelin (hormon lapar) dan leptin (hormon kenyang). Kurangnya tidur menyebabkan ghrelin meningkat dan leptin menurun, membuat seseorang cenderung merasa lebih lapar dan makan lebih banyak. Kurang tidur juga menghambat produksi hormon melatonin yang berperan penting dalam laju metabolisme pembakaran kalori.
2. Ekspektasi yang Tidak Realistis
Banyak orang memulai diet dengan harapan penurunan berat badan yang cepat dalam waktu singkat. Ekspektasi yang tidak realistis ini seringkali menjadi bumerang. Ketika target yang terlalu tinggi tidak tercapai, rasa frustrasi dapat memuncak dan membuat banyak orang akhirnya menyerah pada diet yang sedang dijalani. Penurunan berat badan yang sehat dan berkelanjutan membutuhkan waktu dan konsistensi.
3. Pola Makan yang Salah dan Tidak Seimbang
Beberapa kebiasaan makan justru menggagalkan diet. Makan terlalu sedikit secara ekstrem dapat memperlambat laju metabolisme tubuh, membuat tubuh masuk ke mode hemat energi dan hanya membakar sedikit kalori. Kekurangan protein juga menjadi masalah karena protein penting untuk membangun massa otot dan memberikan efek kenyang lebih lama. Asupan karbohidrat olahan dan camilan tinggi gula dapat menyebabkan kadar gula darah naik dan turun dengan cepat, memicu rasa lapar lebih cepat. Melewatkan sarapan atau makan tidak teratur juga dapat memperlambat metabolisme dan memicu makan berlebihan di waktu berikutnya. Mengikuti "fad diet" atau diet ekstrem yang menjanjikan penurunan berat badan instan seringkali tidak berkelanjutan dan dapat menyebabkan berat badan kembali naik dengan cepat setelah diet dihentikan.
4. Kurang Olahraga atau Salah Memilih Jenis Olahraga
Aktivitas fisik sangat penting untuk membakar kalori dan mempertahankan berat badan. Kurangnya olahraga menyebabkan pembakaran kalori yang sedikit. Selain itu, olahraga merangsang sintesis mitokondria di dalam otot sebagai pembangkit energi pada sel. Kehadiran otot juga berfungsi sebagai mesin pembakar lemak dan karbohidrat yang lebih baik. Oleh karena itu, orang yang berhasil menurunkan berat badan adalah mereka yang rutin berolahraga. Pemilihan jenis olahraga yang salah atau berlebihan juga bisa mengacaukan program diet.
5. Faktor Genetika
Tidak semua orang bisa mencapai bentuk tubuh ideal hanya dengan diet. Faktor genetik memiliki pengaruh besar terhadap bagaimana tubuh menyimpan lemak, tingkat metabolisme, dan kapasitas untuk berolahraga. Ahli fisiologi olahraga Jason R. Karp menyebutkan bahwa genetika adalah salah satu pengaruh besar, meskipun banyak orang tidak suka mendengarnya.
6. Kesehatan Usus yang Buruk
Penelitian menunjukkan bahwa kumpulan bakteri dalam usus sangat memengaruhi kesehatan seseorang. Sebuah tinjauan studi yang diterbitkan dalam Preventive Nutrition and Food Science pada Juni 2020 menunjukkan bahwa individu dengan keragaman mikrobioma usus yang rendah cenderung memiliki indeks massa tubuh (IMT) yang lebih tinggi. Probiotik, prebiotik, dan sinbiotik dapat membantu mencegah kenaikan berat badan. Prebiotik adalah serat yang menjadi makanan bagi bakteri baik di usus; tanpa prebiotik, bakteri baik sulit berkembang biak.
7. Pengaruh Obat-obatan Tertentu
Beberapa jenis obat dapat berkontribusi pada peningkatan berat badan atau menghambat usaha untuk menurunkannya. Contohnya termasuk insulin untuk diabetes, antipsikotik, antidepresan tertentu, beberapa terapi epilepsi, steroid, antihistamin, dan obat penurun tekanan darah seperti beta blocker. Obat-obatan ini dapat menyebabkan kenaikan berat badan karena mengganggu metabolisme, mengubah nafsu makan, dan memicu kelelahan sehingga mengurangi aktivitas.
8. Penyakit atau Kondisi Medis yang Mendasari
Beberapa kondisi medis dapat membuat penurunan berat badan menjadi lebih sulit. Misalnya, hipotiroidisme dapat mengganggu metabolisme, membuat proses pembakaran kalori di tubuh menjadi kurang efektif. Sindrom ovarium polikistik (PCOS) juga memengaruhi tingkat metabolisme dan kadar hormon, menyulitkan pengelolaan berat badan. Resistensi insulin adalah kondisi lain yang dapat menjadi penyebab berat badan susah turun.