
Sebuah klaim viral baru-baru ini menyebar di media sosial mengenai seorang pria asal China yang mengaku "sembuh" dari batu ginjal setelah menaiki tiga wahana roller coaster di Universal Studio Osaka, Jepang. Pria tersebut menceritakan bahwa batu-batu kecil berwarna hitam keluar dari saluran kemihnya setelah mengalami guncangan ekstrem di wahana tersebut.
Menanggapi klaim ini, Dr. Li Tian, seorang dokter urologi, menyatakan bahwa kejadian tersebut kemungkinan besar hanyalah sebuah kebetulan. Meskipun getaran hebat dan perubahan posisi tubuh saat naik roller coaster mungkin secara teoritis dapat membantu batu ginjal kecil terlepas dan keluar, Dr. Tian dengan tegas tidak menyarankan metode ini sebagai pengobatan. Menurutnya, tindakan semacam itu berisiko tinggi menyebabkan batu tersangkut di dinding ureter atau bahkan menimbulkan luka pada mukosa saluran kemih. Ia merekomendasikan penderita batu ginjal untuk berkonsultasi dengan dokter, memperbanyak minum air putih, dan melakukan olahraga ringan seperti lompat tali untuk membantu mengatasi kondisi tersebut secara aman.
Namun, fenomena "penyembuhan" batu ginjal melalui roller coaster sebenarnya bukan hal baru dalam dunia medis dan telah menjadi subjek penelitian ilmiah. Dr. David D. Wartinger, seorang profesor emeritus urologi dari Michigan State University College of Osteopathic Medicine, Amerika Serikat, mulai menyelidiki klaim anekdot serupa dari pasiennya yang melaporkan batu ginjal mereka keluar setelah menaiki roller coaster tertentu di Walt Disney World, Florida, bertahun-tahun yang lalu.
Studi yang dipimpin oleh Dr. Wartinger menggunakan model ginjal cetak 3D berbahan silikon yang diisi dengan urine dan batu ginjal asli dengan berbagai ukuran (hingga 4 milimeter). Model tersebut ditempatkan dalam ransel dan dibawa menaiki wahana roller coaster "Big Thunder Mountain Railroad" sebanyak 20 kali dalam studi awal, dan berlanjut dengan studi yang lebih luas menggunakan 174 batu ginjal dari berbagai bentuk dan ukuran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa duduk di bagian belakang gerbong roller coaster memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi dalam mendorong keluar batu ginjal, yaitu sekitar 64% dalam studi percontohan dan hampir 70% dalam studi yang diperluas. Sementara itu, duduk di bagian depan hanya menghasilkan tingkat keberhasilan sekitar 16% hingga 17%. Bahkan, jika batu ginjal berada di bagian atas ginjal, tingkat keluarnya mencapai 100% saat duduk di belakang.
Dr. Wartinger menemukan bahwa hanya "Big Thunder Mountain" yang efektif di antara roller coaster yang diuji, sementara wahana lain seperti Space Mountain dan Aerosmith's Rock 'n' Roller Coaster tidak menunjukkan hasil serupa. Menurutnya, roller coaster yang ideal untuk tujuan ini adalah yang "kasar dan cepat dengan beberapa putaran dan belokan, tetapi tanpa gerakan terbalik atau terbalik," dan kecepatannya tidak melebihi 65 kilometer per jam (40 mil per jam). Getaran dan gerakan naik-turun serta ke samping inilah yang dipercaya dapat "mengguncang" batu ginjal hingga terlepas.
Penelitian Dr. Wartinger, yang bahkan dianugerahi Ig Nobel Prize pada tahun 2018 sebagai pengakuan atas penelitian ilmiah yang tidak biasa namun nyata, menyimpulkan bahwa menaiki roller coaster intensitas sedang dapat bermanfaat bagi pasien dengan batu ginjal kecil (kurang dari 5 milimeter) untuk memfasilitasi perjalanan batu atau bahkan sebagai tindakan pencegahan setelah pengobatan seperti litotripsi.
Namun, penting untuk dicatat bahwa batu ginjal dapat bervariasi dalam ukuran, dan meskipun batu kecil dapat keluar secara spontan sekitar 50% hingga 70% kasus, batu yang lebih besar sering kali memerlukan intervensi medis. Pasien disarankan untuk tidak menjadikan roller coaster sebagai satu-satunya metode pengobatan dan selalu berkonsultasi dengan profesional medis untuk diagnosis dan rencana perawatan yang tepat.