:strip_icc()/kly-media-production/medias/1903119/original/018210900_1518697892-Bubur_Ayam.jpg)
Pengamat kuliner dan masyarakat luas mengakui bahwa bubur ayam bukan sekadar hidangan sarapan di Bandung, melainkan telah menjadi penanda identitas gastronomi kota, dengan puluhan tempat makan legendaris yang mempertahankan tradisi cita rasa autentik selama puluhan tahun. Popularitas bubur ayam Bandung, yang dikenal dengan teksturnya yang kental dan kaya akan topping, terus menarik wisatawan dan pelanggan setia, menopang sektor ekonomi kreatif di tengah gempuran modernisasi kuliner.
Sejarah bubur ayam di Indonesia berakar dari tradisi Tiongkok, dibawa oleh pedagang migran sekitar abad ke-16 hingga ke-17, yang kemudian berasimilasi dengan kearifan lokal Nusantara. Di Bandung, bubur ayam berkembang dengan ciri khasnya sendiri: bubur yang dimasak hingga pekat dan padat, seringkali disajikan tanpa siraman kuah kuning, namun diperkaya dengan kaldu gurih serta beragam topping mulai dari suwiran ayam, cakwe, ati ampela, hingga telur rebus. Adaptasi ini menjadikan bubur ayam Bandung sebuah fenomena kuliner jalanan yang mudah diakses dan dicintai oleh semua kalangan.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam "Kota Bandung Dalam Angka 2025", sektor ekonomi kreatif, termasuk kuliner, merupakan salah satu penyumbang utama pertumbuhan ekonomi kota, menegaskan peran hidangan tradisional seperti bubur ayam dalam melestarikan sekaligus menggerakkan perekonomian lokal. Para pelaku usaha bubur ayam legendaris ini menghadapi tantangan untuk menjaga kualitas dan konsistensi rasa di tengah persaingan ketat dan perubahan selera pasar, namun mereka tetap bertahan dengan resep turun-temurun.
Dari deretan panjang penjaja bubur ayam di Kota Kembang, sepuluh di antaranya secara konsisten disebut sebagai yang paling legendaris, enak, dan wajib dicoba:
Bubur Ayam Mang H. Oyo, yang beroperasi sejak tahun 1976, terkenal dengan tekstur buburnya yang padat dan kental, bahkan diklaim tidak akan tumpah saat mangkuknya dibalik. Berlokasi di Jalan Sultan Tirtayasa No.49b, Citarum, Bandung Wetan, hidangan ini dilengkapi irisan ayam, cakwe, ati ampela, sate usus, emping, serta pilihan telur rebus atau telur pindang, dengan kisaran harga mulai dari Rp20.000 per porsi.
Bubur Ayam H. Amid, eksis sejak tahun 1970-an, juga dikenal dengan kekentalannya yang serupa dengan Mang H. Oyo. Keunikan lain dari Bubur Ayam H. Amid adalah penawaran topping telur ayam mentah atau setengah matang, menjadikannya pilihan favorit bagi banyak pelanggan. Outlet utamanya dapat ditemukan di Jalan Pajajaran No.105, Pamoyanan, Cicendo.
Bubur Ayam Gibbas, yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kuliner Bandung sejak 1998, mendunia karena porsi ayam suwirnya yang sangat melimpah, bahkan dikatakan seperti "ayam dikasih bubur". Dengan 26 pilihan topping dan penggunaan kaldu khusus, Bubur Ayam Gibbas yang terletak di Jalan Kebon Jati No.187, Kebon Jeruk, Andir, seringkali membuat antrean panjang.
Bubur Ayam Pak Otong, merupakan salah satu yang tertua dan paling legendaris, dengan sejarah usaha turun-temurun yang telah eksis lebih dari 70 tahun, atau sejak 1947. Terletak di Jalan Jenderal Sudirman No.451, Ciroyom, Bojongloa Kaler, bubur ini terkenal dengan rasa gurih asin dan topping suwiran ayam yang besar-besar, cakwe, serta ati ampela. Bubur Ayam Pak Otong merupakan pilihan populer untuk disantap malam hari hingga dini hari.
Bubur Bareto, yang dikelola oleh Mang Anwar sebagai generasi kedua, juga telah menjajakan buburnya sejak tahun 1947. Konsistensi rasa dan penggunaan arang dalam proses memasaknya menjadi andalan, memberikan aroma khas pada bubur yang juga dikenal "anti tumpah" ini. Bubur Bareto dapat ditemukan di Jalan Durman, Kota Bandung.
Bubur Ayam Bejo, populer sebagai tempat makan bubur yang buka 24 jam di Jalan Jenderal Ahmad Yani No.173, Kosambi, Lengkong. Bubur ini menyajikan bubur hangat dengan suwiran ayam dan jeroan melimpah, serta sambal pedas yang menggugah selera, menjadikannya pilihan ideal kapan saja.
Bubur Ayam Kang Dedi, yang telah berjualan selama 26 tahun, menawarkan bubur tanpa siraman kuah kuning, namun diperkaya dengan kecap asin dan bubuk merica. Toppingnya meliputi suwiran ayam, ati ampela, telur rebus, dan potongan kulit ayam yang gurih, serta cakwe berukuran besar. Lokasinya berada di Jalan Jenderal Sudirman, Karanganyar, Astanaanyar.
Bubur Ayam Alkateri, berdiri sejak tahun 1987, menjadi salah satu ikon kuliner legendaris di kawasan Braga, tepatnya di Jalan Alkateri No.7. Ciri khasnya adalah bubur pekat dengan topping melimpah yang diperkaya kecap asin dan merica, menjamin kepuasan pelanggan dengan porsi yang mengenyangkan.
Bubur Ayam Pak Sopian, yang berada di Jalan Maskumambang No.41, Turangga, di belakang Hotel Horison, dikenal dengan porsinya yang besar dan topping melimpah. Tekstur buburnya kental dan gurih lembut, dengan tambahan kacang kedelai goreng, daun bawang, cakwe, dan ati ampela.
Bubur Ayam 66 H. Abah, berlokasi di Jalan Terusan Jakarta No.130, Antapani, menyajikan bubur dengan rasa gurih kompleks dan porsi yang mengenyangkan. Selain topping standar, tempat ini juga menyediakan pilihan unik yang melengkapi kelezatan bubur, dan beroperasi dari siang hingga dini hari.
Keberadaan tempat-tempat bubur ayam legendaris ini tidak hanya memenuhi kebutuhan kuliner, tetapi juga menjadi penjaga warisan rasa yang penting bagi Bandung. Tantangan regenerasi dan adaptasi tanpa menghilangkan esensi tradisi menjadi krusial untuk memastikan kelestarian hidangan ini bagi generasi mendatang. "Kami percaya bahwa masa depan kuliner Indonesia justru terletak pada akar-akar lokal yang dirawat dengan cinta dan kreativitas," ungkap Asoka, seorang pengamat kuliner. Ini menggarisbawahi pentingnya inovasi dalam kemasan dan narasi agar kuliner tradisional tetap relevan dan kompetitif di pasar digital yang didominasi tren makanan instan.