Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

4 Orangutan Terjebak Perdagangan Gelap Thailand Kembali ke Indonesia

2025-12-24 | 16:05 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-24T09:05:51Z
Ruang Iklan

4 Orangutan Terjebak Perdagangan Gelap Thailand Kembali ke Indonesia

Empat individu orangutan yang menjadi korban perdagangan satwa liar ilegal di Thailand akhirnya kembali ke Indonesia pada Selasa, 23 Desember 2025, menandai sebuah upaya kolaboratif internasional yang berkelanjutan dalam memerangi kejahatan transnasional. Dua jantan dan dua betina, yang diidentifikasi oleh otoritas Thailand dengan nama J, Raikhing, Noon, dan Bow, diterbangkan menggunakan maskapai Garuda Indonesia setelah menjalani pemeriksaan kesehatan terakhir di Pusat Penyelamatan Satwa Liar No. 3 di Provinsi Ratchaburi, Thailand. Upaya repatriasi ini menggarisbawahi komitmen kedua negara dalam menjaga kelestarian spesies yang terancam punah.

Keempat orangutan tersebut disita dalam operasi terpisah oleh pihak berwenang Thailand sepanjang tahun 2025. Tiga di antaranya diselamatkan di Provinsi Chumphon pada Januari, sementara satu orangutan lainnya ditemukan dalam operasi penyamaran di distrik Lat Phrao, Bangkok, pada Mei. Satu orangutan lain yang terlibat dalam kasus Bangkok tersebut dilaporkan tidak selamat. Orangutan adalah spesies asli Indonesia dan Malaysia, dan ketiga spesies yang diketahui – orangutan Sumatera, Kalimantan, dan Tapanuli – terdaftar sebagai sangat terancam punah dalam Daftar Merah IUCN. Perdagangan ilegal satwa liar global, yang diperkirakan bernilai antara 10 miliar hingga 150 miliar dolar AS setiap tahunnya, menjadi ancaman serius keempat terbesar bagi kelangsungan hidup mereka.

Direktur Divisi Perlindungan Konvensi Satwa dan Tumbuhan Liar Thailand, Saduedee Panbhakdee, menyatakan bahwa repatriasi ini mencerminkan kerja sama erat antara Thailand dan Indonesia di bawah Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar Terancam Punah (CITES). Orangutan terdaftar dalam Apendiks I CITES, yang secara ketat melarang semua perdagangan internasional untuk tujuan komersial. Thailand tercatat telah menyita orangutan sebanyak enam kali antara tahun 2016 hingga 2025, merawat total 74 individu. Repatriasi terakhir dilakukan pada Desember 2023, melibatkan tiga orangutan.

Fuad Adriansyah, Wakil Duta Besar Indonesia untuk Thailand, turut memimpin delegasi Indonesia dalam proses observasi dan finalisasi persiapan kepulangan orangutan tersebut di Pusat Penyelamatan Satwa Liar No. 3 Ratchaburi. Dokter hewan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia melakukan evaluasi kesehatan menyeluruh untuk memastikan kondisi fisik para orangutan siap untuk perjalanan dan meminimalkan stres selama transportasi. Direkomendasikan bahwa dua jantan akan ditempatkan di kandang terpisah, sementara dua betina akan berbagi satu kandang untuk mengurangi tekanan.

Perdagangan ilegal seringkali menyasar orangutan muda untuk dijadikan hewan peliharaan. Data TRAFFIC menunjukkan, antara Januari 2013 hingga Juli 2023, setidaknya 161 individu orangutan hidup disita di Indonesia, Malaysia, dan Thailand, dengan lebih dari separuhnya adalah individu remaja. Praktik kejam ini sering kali melibatkan pembunuhan induk orangutan untuk mengambil bayinya, dan diperkirakan satu hingga enam orangutan dewasa mati untuk setiap bayi yang berhasil dijual di pasar gelap.

Selain perdagangan ilegal, penyebab utama penurunan populasi orangutan adalah hilangnya habitat akibat deforestasi, terutama untuk perkebunan kelapa sawit. Hal ini mendorong orangutan keluar dari hutan dan lebih dekat ke permukiman manusia, meningkatkan risiko konflik dan penangkapan. Populasi orangutan Kalimantan telah menurun lebih dari 60% dalam 60 tahun terakhir, sementara orangutan Sumatera mengalami penurunan 80% dalam 75 tahun. Para ahli memprediksi jika laju kehilangan hutan, perburuan, dan perdagangan ilegal terus berlanjut, populasi orangutan dapat terus menurun drastis.

Setelah tiba di Indonesia, keempat orangutan tersebut akan menjalani proses rehabilitasi intensif di pusat penyelamatan, di mana mereka akan dilatih kembali untuk mengembangkan keterampilan penting yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di alam liar, seperti memanjat pohon, membangun sarang, dan mencari makan. Proses ini krusial mengingat banyak orangutan korban perdagangan kehilangan kemampuan alami yang seharusnya mereka pelajari dari induknya. Insiden repatriasi ini, meski menjadi berita baik, sekaligus menjadi pengingat pahit tentang tantangan besar dalam melindungi spesies endemik yang rentan ini dari ancaman kepunahan yang terus-menerus.