:strip_icc()/kly-media-production/medias/5410618/original/095370600_1762938623-udang_bakwan.jpg)
Fenomena masakan rumahan yang merujuk pada keotentikan rasa jajanan kaki lima semakin mengemuka di tengah masyarakat Indonesia, dengan ote-ote sebagai salah satu penganan yang paling dicari untuk direplikasi dengan standar pedagang. Tren ini, yang terutama menguat sejak pandemi COVID-19 mendorong lebih banyak aktivitas di rumah, mencerminkan pergeseran preferensi konsumen yang mendambakan kerenyahan dan cita rasa mengenyangkan khas pedagang, namun dengan kendali penuh atas kualitas dan kebersihan bahan. Para pegiat kuliner rumahan secara aktif mencari cara untuk meniru tekstur garing di luar dan lembut di dalam, serta isian yang beragam, sebagaimana yang disajikan oleh penjual di pinggir jalan.
Ote-ote, atau yang dikenal dengan nama lain seperti bakwan, bala-bala, atau weci di berbagai daerah, memiliki akar sejarah yang dalam dalam lanskap kuliner Nusantara. Kudapan gurih ini diperkenalkan ke Indonesia, khususnya Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, oleh imigran Tionghoa bernama Kwee Le Kin dari Fuzhou pada abad ke-1923. Resep awalnya bahkan menyertakan tiram dan rumput laut, dan seiring waktu beradaptasi dengan bahan-bahan lokal seperti sayuran, udang, bahkan daging ayam atau babi, meskipun varian sayuran tetap menjadi yang paling populer. Ote-ote Porong yang legendaris, misalnya, dikenal dengan ukurannya yang lebih besar dan isian yang lebih variatif dibandingkan bakwan pada umumnya, seringkali dengan tambahan udang utuh atau potongan tiram yang oleh warga lokal disebut "kupang".
Pencarian "6 resep ote-ote rumahan ala pedagang, renyah dan mengenyangkan" mengindikasikan keinginan kuat konsumen untuk membawa pengalaman rasa otentik jajanan kaki lima ke dapur mereka. Aspek kerenyahan menjadi krusial, sebuah karakteristik yang menurut Technical Chef Lukman Hakim, bergantung pada tahapan pembuatan dan kualitas bahan yang digunakan, termasuk campuran sayuran segar seperti wortel, tauge, kubis, serta bumbu putih dasar seperti bawang merah, bawang putih, kemiri, dan merica. Selain itu, bentuk ote-ote yang unik berkat penggunaan centong sayur sebagai cetakan juga menjadi ciri khas yang membedakannya.
Perkembangan ini tidak lepas dari dampak pandemi COVID-19 yang mendorong peningkatan signifikan dalam aktivitas memasak di rumah. Survei menunjukkan bahwa hampir 70 persen responden menjadi lebih sering memasak selama pandemi, mengubah hobi menjadi potensi bisnis rumahan. Fildzah Karunia Putri, Dosen Ilmu Gizi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, menyoroti bahwa kebiasaan memasak sendiri memungkinkan kontrol gizi yang lebih baik dan dapat meningkatkan status kesehatan keluarga. Fenomena ini juga membuka peluang ekonomi mikro baru, di mana usaha kuliner rumahan menjadi alternatif menjanjikan tanpa memerlukan modal besar atau sewa tempat, bahkan dapat dipasarkan secara daring.
Implikasi jangka panjang dari tren ini mencakup pelestarian resep-resep tradisional yang mungkin terancam oleh modernisasi. Dengan semakin banyaknya individu yang menguasai seni membuat jajanan kaki lima di rumah, warisan kuliner Nusantara dapat terus hidup dan berinovasi. Jajanan kaki lima sendiri telah lama menjadi tulang punggung ekonomi kreatif Indonesia, menawarkan kuliner otentik yang terjangkau dan digemari lintas generasi. Para pedagang kaki lima terus berinovasi untuk mempertahankan keunggulan bersaing di tengah persaingan yang ketat. Replikasi resep pedagang di rumah bukan hanya tentang makanan, melainkan juga tentang upaya menjaga identitas kuliner dan mendukung keberlanjutan tradisi di tengah perubahan zaman.