Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Skandal Perselingkuhan Jule Kembali Viral: Studi Psikologi Ungkap Akar Perilaku Tidak Jujur

2025-12-15 | 16:57 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-15T09:57:11Z
Ruang Iklan

Skandal Perselingkuhan Jule Kembali Viral: Studi Psikologi Ungkap Akar Perilaku Tidak Jujur

Selebgram Julia Prastini, yang dikenal sebagai Jule, kembali menjadi sorotan publik setelah dugaan perselingkuhan yang kedua kalinya mencuat ke permukaan. Jule diduga menjalin hubungan terlarang dengan Yusman Kusuma, yang akrab disapa Yuka, suami dari sahabat dekatnya sendiri, Aliyah Balqis atau Aya. Dugaan ini diungkapkan langsung oleh Aya melalui akun TikTok pribadinya, @ayiyaaaaaaaa, pada Senin, 15 Desember 2025. Aya menunjukkan bukti tangkapan layar dari ponsel Yuka yang memperlihatkan nomor kontak Jule disimpan dengan nama samaran "Zakie". Pengungkapan ini membuat Aya merasa terpukul dan dikhianati, mengingat kedekatan persahabatannya dengan Jule.

Kasus ini menambah daftar panjang kontroversi seputar Jule, yang sebelumnya juga pernah diterpa isu perselingkuhan dengan Safrie Ramadhan dan baru saja resmi bercerai dari mantan suaminya, Na Daehoon.

Fenomena perselingkuhan yang berulang ini memicu kembali diskusi mengenai kaitan antara perselingkuhan dan perilaku tidak jujur dari sudut pandang kesehatan mental dan psikologi. Studi menunjukkan bahwa seseorang yang cenderung melakukan kecurangan atau ketidakjujuran memiliki kemungkinan besar untuk mengulanginya. Perilaku ini dapat terjadi karena individu kerap bertujuan untuk mendapatkan keuntungan lebih.

Para ahli psikologi berpendapat bahwa perselingkuhan merupakan manifestasi dari ketidakjujuran itu sendiri. Penelitian terkait konsistensi kecurangan menunjukkan bahwa ketidakjujuran dapat menjadi ciri kepribadian yang khas dan konsisten. Ada beberapa faktor internal yang dapat mendorong seseorang untuk berbohong atau berselingkuh, termasuk kepribadian narsistik dan histrionik, keinginan untuk dikagumi, serta keengganan untuk bertanggung jawab atau menyembunyikan kesalahan. Selain itu, individu yang berselingkuh cenderung tidak memiliki komitmen kuat dalam hubungan pernikahan dan cenderung bertindak irasional, mencari pelarian melalui hubungan lain.

Tanda-tanda ketidakjujuran dalam hubungan, menurut psikologi, meliputi penghindaran kontak mata, cerita yang terlalu berlebihan dengan detail rumit, sikap defensif saat ditanya, serta perubahan nada dan pola bicara yang tidak konsisten. Kebiasaan menghapus riwayat obrolan dan panggilan juga bisa menjadi indikasi adanya hal yang disembunyikan.

Dampak perselingkuhan terhadap kesehatan mental pasangan yang dikhianati sangat signifikan, seringkali menyebabkan gejala depresi, kecemasan, dan rendahnya harga diri. Ketidakpercayaan yang timbul akibat perselingkuhan dapat merusak fondasi hubungan, dan membangun kembali kepercayaan membutuhkan waktu serta usaha yang besar dari kedua belah pihak, dengan komunikasi yang jujur dan perubahan perilaku yang konsisten menjadi faktor kunci.

Beberapa analisis sebelumnya mengaitkan dugaan perselingkuhan Jule dengan potensi kelelahan fisik dan mental. Selain itu, pengalaman masa kecil atau pola asuh seseorang dapat mempengaruhi cara individu menjalin hubungan dan mengatasi konflik di masa dewasa, yang juga dapat berkontribusi pada kecenderungan perselingkuhan. Namun, meskipun masa lalu berpengaruh, individu tetap memiliki kendali untuk memastikan bagaimana mereka terpengaruh dan memperbaiki kualitas hubungan mereka.