
Apa yang dimulai sebagai keluhan sakit perut biasa, mulas, atau gangguan pencernaan, seringkali tanpa disadari bisa menjadi sinyal peringatan dini kanker agresif. Banyak wanita mengabaikan gejala tersebut, mengira itu hanya ketidaknyamanan pencernaan biasa, padahal kondisi di dalam tubuh mereka jauh lebih serius dan mematikan.
Salah satu kasus yang baru-baru ini menjadi sorotan adalah Chloe Stirling, seorang perawat berusia 29 tahun dari Inggris. Awalnya, dia menduga dirinya hanya menderita asam lambung akibat mengonsumsi makanan pedas atau berminyak. Gejala mulas yang semakin sering dan parah, serta kesulitan makan selama 16 bulan, membuatnya menjalani endoskopi. Diagnosis awal menunjukkan tukak kecil dan infeksi bakteri H.pylori. Namun, setelah gejala tak kunjung membaik, Chloe akhirnya didiagnosis mengidap adenokarsinoma agresif di perutnya. Akibat kanker tersebut, lambungnya harus diangkat.
Kisah serupa dialami Georgia-Leigh Gardiner, 28 tahun, juga dari Inggris. Selama berbulan-bulan, dia menderita sakit perut bagian atas yang hebat, penurunan berat badan, dan ketidakmampuan untuk makan, yang sering kali didiagnosis sebagai GERD. Setelah berulang kali kunjungan ke dokter, ia akhirnya menjalani endoskopi yang mengungkapkan diagnosis mengerikan: linitis plastica, jenis kanker lambung langka dan agresif stadium 4, yang telah menyebar ke kelenjar getah bening dan organ lainnya.
Kasus-kasus ini menyoroti tantangan besar dalam mendiagnosis kanker agresif yang menyerang area perut, seperti kanker lambung, ovarium, pankreas, dan usus besar. Gejala awal penyakit ini seringkali tidak spesifik dan menyerupai gangguan pencernaan umum, sehingga mudah diabaikan. Para ahli onkologi, seperti Dr. Paul Mansfield, ahli bedah onkologi yang berspesialisasi dalam kanker lambung dan gastrointestinal lainnya, menyatakan bahwa kebanyakan kanker lambung tidak menimbulkan gejala hingga stadium lanjut, dan gejalanya dapat meniru gangguan pencernaan atau refluks.
Gejala yang seringkali dianggap remeh namun bisa menjadi tanda kanker agresif meliputi:
* Nyeri perut atau ketidaknyamanan persisten: Rasa sakit seperti terbakar, nyeri menusuk, atau kram yang tidak kunjung hilang, bahkan setelah mengonsumsi obat maag.
* Perut kembung atau rasa cepat kenyang: Merasa penuh atau kembung meskipun makan sedikit, atau perut terasa bengkak.
* Mual dan muntah: Mual yang terus-menerus dan muntah, kadang disertai darah.
* Penurunan berat badan yang tidak disengaja: Kehilangan berat badan yang signifikan tanpa perubahan pola makan atau aktivitas fisik.
* Perubahan kebiasaan buang air besar: Sembelit atau diare yang persisten, atau adanya darah dalam tinja.
* Kelelahan ekstrem: Merasa sangat lelah atau tidak bertenaga meskipun sudah cukup istirahat.
* Penyakit kuning (jaundice): Kulit atau mata menguning, seringkali menjadi tanda kanker pankreas atau hati yang sudah lanjut.
Kanker ovarium, misalnya, sering terlambat didiagnosis karena gejala awalnya sangat ringan dan kerap disalahartikan sebagai gangguan pencernaan atau nyeri haid. Sekitar 70% kasus kanker ovarium baru terdeteksi pada stadium lanjut (stadium 3 atau 4) karena gejala awalnya yang tidak khas. Kanker pankreas juga dikenal sebagai "penyakit senyap" karena minimnya gejala di tahap awal.
Para dokter menekankan pentingnya kewaspadaan. Jika gejala-gejala seperti sakit perut, kembung, mual, atau penurunan berat badan berlangsung lebih dari dua atau tiga minggu, memburuk, atau tidak merespons pengobatan biasa, sangat penting untuk segera mencari pemeriksaan medis lebih lanjut. Deteksi dini adalah kunci untuk meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan dan harapan hidup bagi penderita kanker agresif.