
Fenomena Air Susu Ibu (ASI) keluar dari ketiak seorang ibu menyusui belakangan ini menjadi viral di media sosial, memicu pertanyaan dan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Dokter spesialis menegaskan bahwa kondisi ini memang tidak normal, namun sebenarnya cukup sering terjadi dan memiliki penjelasan medis.
Secara medis, kondisi keluarnya ASI dari ketiak dikenal dengan beberapa istilah seperti "pitties", "mammae aberans", "polymastia" atau jaringan payudara ektopik (accessory breast tissue). Jaringan payudara ektopik adalah keberadaan jaringan payudara yang tumbuh di luar lokasi normalnya, dengan ketiak (aksila) menjadi lokasi paling umum.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Niken Pudji Pangastuti, Sp.OG, KFER, dari Brawijaya Hospital Antasari, menjelaskan bahwa mammae aberans adalah kondisi genetik yang disebabkan oleh kegagalan sebagian kelenjar payudara untuk turun ke tempat seharusnya. Jaringan payudara ini berkembang dari "garis susu" embrionik yang membentang dari ketiak hingga paha bagian dalam. Umumnya, sebagian besar jaringan ini akan diserap kembali oleh tubuh janin, namun pada beberapa individu, sisa jaringan ini tetap ada dan dapat berkembang menjadi payudara tambahan.
Konsultan laktasi, Andrea Tran, IBCLC, menambahkan bahwa ada struktur yang disebut Tail of Spence yang merupakan jaringan payudara yang memanjang hingga ke area ketiak. Karena terhubung dengan saluran susu utama yang menghasilkan ASI di payudara, jaringan di ketiak ini juga bisa mengalami pembengkakan dan memproduksi ASI saat ada stimulasi hormonal. Pembengkakan yang terjadi di ketiak ini seringkali terlihat seperti benjolan berbentuk telur.
Peningkatan hormon selama kehamilan, seperti progesteron, estrogen, dan prolaktin, memicu perkembangan saluran susu dan produksi ASI, tidak hanya di payudara utama tetapi juga di jaringan payudara aksesori ini. Banyak wanita tidak menyadari memiliki jaringan payudara tambahan ini sampai mereka hamil atau mulai menyusui.
Meskipun fenomena ASI keluar dari ketiak terkesan langka, prevalensinya sebenarnya tidak terlalu jarang. Menurut jurnal Mayo Clinic Proceedings yang diterbitkan pada tahun 1999, hingga 6 persen wanita dilahirkan dengan jaringan payudara ekstra semacam ini. Beberapa laporan lain menyebutkan angka sekitar 2-6% pada wanita dan 1-3% pada pria.
Dalam kebanyakan kasus, kondisi ini tidak berbahaya. Pembengkakan di ketiak paling sering terjadi di awal masa menyusui ketika produksi ASI mulai terbentuk atau ketika produksi ASI melebihi kebutuhan bayi (oversupply), yang dapat menyebabkan penyumbatan. Benjolan ini umumnya akan mereda dalam waktu 24 hingga 48 jam dengan sendirinya.
Untuk mengatasi ketidaknyamanan, beberapa cara yang dapat dilakukan meliputi kompres dingin, mandi air hangat, pijatan lembut, dan terus menyusui secara teratur untuk mengurangi pembengkakan.
Namun, penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter jika benjolan di ketiak tidak kunjung mereda atau terasa semakin parah. Terlebih jika disertai dengan demam, nyeri terus-menerus, atau adanya garis-garis merah, karena ini bisa menjadi tanda infeksi seperti mastitis atau abses payudara. Dalam kasus yang sangat jarang, benjolan di payudara atau ketiak bahkan dapat mengindikasikan kanker payudara. Oleh karena itu, konsultan laktasi Emily Brittingham, IBCLC, BHSc, menekankan pentingnya pemeriksaan kanker payudara rutin juga mencakup jaringan payudara tambahan ini.
Meskipun umumnya jinak, operasi pengangkatan jaringan payudara tambahan dapat menjadi pilihan jika menyebabkan ketidaknyamanan estetika atau masalah kesehatan. Namun, seperti yang terjadi pada kasus seorang ibu di Filipina, pasien seringkali menolak operasi karena benjolan akan mengecil dengan sendirinya setelah berhenti menyusui.