Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Fenomena Jepang: Serangan Beruang Meningkat, Daging Panggangnya Laris Diburu

2025-12-28 | 08:14 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-28T01:14:05Z
Ruang Iklan

Fenomena Jepang: Serangan Beruang Meningkat, Daging Panggangnya Laris Diburu

Serangan beruang yang mematikan di Jepang melonjak hingga mencapai rekor tertinggi, mendorong pihak berwenang melakukan pembasmian massal hewan liar tersebut, yang secara tak terduga berdampak pada peningkatan signifikan permintaan daging beruang di pasar kuliner negara itu. Sebanyak 230 orang telah diserang beruang dengan 13 korban jiwa hingga November 2025, angka tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2006, memicu restoran-restoran dan mesin penjual otomatis kesulitan memenuhi lonjakan minat konsumen terhadap daging buruan tersebut.

Fenomena peningkatan interaksi beruang dengan manusia, terutama di wilayah utara dan tengah Jepang seperti Prefektur Akita, Iwate, dan Fukushima, merupakan dampak kompleks dari perubahan lingkungan dan demografi. Populasi beruang hitam Asia dan beruang coklat Ussuri telah meningkat signifikan, dengan populasi beruang secara keseluruhan melebihi 54.000 ekor pada saat ini. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh upaya konservasi jangka panjang dan penurunan tekanan perburuan yang diakibatkan oleh menuanya populasi pedesaan dan berkurangnya jumlah pemburu terampil.

Para ahli menyoroti kelangkaan sumber makanan alami beruang di hutan, seperti biji ek, biji beech, dan buah-buahan liar, sebagai pendorong utama beruang mencari makan hingga ke permukiman manusia. Panen buruk yang diperparah oleh perubahan iklim, yang memengaruhi pola berbunga tanaman dan aktivitas serangga, memaksa hewan-hewan ini mendekati wilayah berpenduduk. Perluasan permukiman dan infrastruktur manusia juga mengganggu rute migrasi dan area jelajah beruang, semakin memperparah konflik.

Menanggapi krisis ini, pemerintah Jepang telah mengambil langkah drastis. Lebih dari 9.100 ekor beruang telah dibasmi pada paruh pertama tahun fiskal ini, melebihi total jumlah pembasmian sepanjang tahun fiskal 2023-2024. Undang-undang terkait telah direvisi untuk mengizinkan pemerintah daerah mengeluarkan izin "penembakan darurat" bagi pemburu saat hewan liar berbahaya memasuki area permukiman, serta memungkinkan polisi menggunakan senapan untuk menembak mati beruang dalam situasi darurat. Upaya merekrut pemburu baru, termasuk pensiunan polisi dan personel militer, juga tengah digalakkan untuk mengatasi kekurangan tenaga terampil.

Di tengah upaya pengendalian populasi, permintaan daging beruang sebagai komoditas kuliner justru terdongkrak. Koji Suzuki (71), seorang pemburu sekaligus pemilik restoran di Kota Chichibu, Prefektur Saitama, mengungkapkan bahwa restorannya kewalahan memenuhi pesanan daging beruang panggang. Istrinya, Chieko (64), seringkali terpaksa menolak pelanggan karena pasokan yang terbatas. "Dengan semakin banyaknya berita tentang beruang, jumlah pelanggan yang ingin mencicipi dagingnya meningkat pesat," kata Suzuki. Ia melihat pemanfaatan daging dari beruang yang dibasmi sebagai bentuk penghormatan terhadap kehidupan hewan tersebut.

Tren ini tidak hanya terbatas pada restoran. Mesin penjual otomatis di Prefektur Akita yang mulai menjual daging beruang segar pada akhir 2022 mencatat penjualan stabil dan tinggi, bahkan menerima permintaan pengiriman dari Tokyo. Harga daging beruang dipatok sekitar 2.200 yen atau sekitar Rp250.000 per 250 gram. Kementerian Pertanian Jepang mendukung tren ini, menyatakan pentingnya "mengubah satwa liar yang mengganggu menjadi sesuatu yang positif" dan mengalokasikan subsidi sebesar 18,4 miliar yen untuk mengendalikan populasi serta mendorong konsumsi daging buruan berkelanjutan.

Implikasi jangka panjang dari situasi ini multifaset. Secara ekologis, meskipun populasi beruang meningkat di Jepang, klasifikasi beruang hitam Asia sebagai spesies rentan secara global menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan praktik perburuan dalam jangka panjang. Pengelolaan populasi yang tidak cermat dapat berdampak pada keseimbangan ekosistem. Secara ekonomi, peningkatan permintaan daging beruang berpotensi menciptakan industri kuliner baru dan memberikan pendapatan tambahan bagi masyarakat pedesaan. Namun, ini juga dapat memicu perburuan ilegal atau eksploitasi jika tidak diatur secara ketat.

Secara sosial, ketakutan publik terhadap serangan beruang telah mengubah persepsi terhadap hewan liar ini, dari simbol alam menjadi ancaman langsung, seperti yang terlihat dari peringatan perjalanan yang dikeluarkan oleh beberapa negara termasuk Amerika Serikat dan Inggris Raya. Dilema antara melindungi manusia dan melestarikan satwa liar memerlukan solusi komprehensif, termasuk restorasi habitat, pengembangan sistem peringatan dini menggunakan teknologi seperti GPS dan drone, serta edukasi masyarakat untuk hidup berdampingan dengan satwa liar. Tanpa pendekatan terpadu, konflik antara manusia dan beruang di Jepang kemungkinan akan terus berlanjut, dengan konsekuensi yang belum sepenuhnya terungkap.