:strip_icc()/kly-media-production/medias/5455710/original/092997800_1766726780-zichao-zhang-ojpb6THacpU-unsplash.jpg)
Pakaian tradisional Hanfu telah menjadi fenomena budaya dan motor penggerak signifikan dalam industri pariwisata Tiongkok, dengan jutaan anak muda di seluruh negeri merangkul warisan leluhur mereka melalui eksplorasi destinasi bersejarah. Tren ini tidak hanya merefleksikan kebangkitan kebanggaan budaya di kalangan generasi muda Tiongkok, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang substansial. Penjualan Hanfu tahunan di Tiongkok mencapai 14,47 miliar yuan (sekitar 2,06 miliar dolar AS) pada tahun 2023, dengan proyeksi mencapai 24,18 miliar yuan pada tahun 2027. Beberapa laporan industri bahkan menunjukkan skala pasar pakaian "Tiongkok baru" telah melampaui 100 miliar yuan, dengan penjualan Hanfu diperkirakan mencapai 70,16 miliar yuan pada tahun 2025.
Kebangkitan Hanfu, busana historis kelompok etnis Han, telah terjadi secara nyata pada abad ke-21. Setelah mengalami kemunduran pada masa Dinasti Qing (1644-1912) ketika penguasa Manchu memaksakan gaya berpakaian mereka, minat terhadap Hanfu bangkit kembali, didorong oleh apresiasi yang meningkat terhadap budaya dan warisan tradisional di kalangan generasi muda. Gerakan Hanfu dimulai sekitar tahun 2003, dengan Wang Letian dari Zhengzhou menjadi salah satu tokoh yang secara publik mengenakan Hanfu, menginspirasi orang lain untuk merenungkan identitas budaya Han Tiongkok. Busana ini, yang sejarahnya membentang lebih dari 4.000 tahun, dicirikan oleh jubah panjang, lengan lebar, dan desain rumit yang seringkali mencerminkan status sosial dan nilai-nilai budaya pemakainya.
Saat ini, mengenakan Hanfu saat mengunjungi destinasi wisata telah menjadi tren yang kuat, terutama di kalangan kaum muda. Mereka melihatnya bukan hanya sebagai mode baru, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi dan cara untuk menikmati petualangan budaya yang imersif. Berbagai lokasi di Tiongkok telah menjadi magnet bagi para penggemar Hanfu. Selama liburan Tahun Baru Imlek, misalnya, kota Suzhou di Provinsi Jiangsu menawarkan perjalanan kereta bawah tanah gratis bagi mereka yang mengenakan Hanfu. Quanzhou, sebuah kota kuno di Provinsi Fujian yang dikenal sebagai titik awal Jalur Sutra Maritim, menyaksikan wisatawan membanjiri jalanan dengan dandanan tradisional penduduk setempat, Gadis Xunpu. Bahkan Disneyland Shanghai menjadi lokasi di mana pengunjung memilih untuk mengenakan Hanfu. Situs-situs budaya dan sejarah seperti Tembok Kota Xi'an juga populer untuk sesi fotografi Hanfu.
Pan Lusheng, Ketua Asosiasi Sastra dan Seniman Rakyat Tiongkok, mengamati bahwa tren kaum muda mengenakan Hanfu menandakan kembalinya budaya tradisional menjadi tren. Dia menyatakan bahwa, baik secara sadar maupun tidak, generasi muda saat ini sedang mewarisi budaya tradisional yang unggul. Namun, kebangkitan Hanfu tidak sepenuhnya tanpa kontroversi. Gerakan ini memiliki implikasi terhadap etnik minoritas dan memicu potensi ketegangan etnis jika dinasionalisasi, karena beberapa pihak memandangnya sebagai penegasan supremasi Han secara rasial.
Di sisi ekonomi, industri pariwisata domestik Tiongkok menunjukkan pemulihan yang kuat. Dalam tiga kuartal pertama tahun 2023, pariwisata domestik mencatat 3,67 miliar kunjungan dan menghasilkan pendapatan 3,7 triliun yuan (sekitar 520,47 miliar dolar AS), meningkat 75 persen dalam jumlah kunjungan dan 114 persen dalam pendapatan secara tahunan. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Tiongkok secara aktif mempromosikan produk pariwisata baru dan rute perjalanan bertema, serta merumuskan rencana tiga tahunan untuk meningkatkan perjalanan masuk guna menyediakan produk dan layanan pariwisata berkualitas lebih tinggi. Tren digitalisasi pariwisata dan budaya juga menjadi sorotan. Pergeseran demografi wisatawan juga terjadi, dari sebelumnya didominasi oleh kelompok usia di atas 50 tahun menjadi lebih banyak wisatawan berusia 30 tahun ke atas, didorong oleh biaya yang terjangkau dan beragamnya paket wisata. Dengan tren Hanfu yang terus berkembang, integrasi budaya tradisional ke dalam pengalaman wisata diproyeksikan akan terus memperkuat posisi Tiongkok sebagai tujuan petualangan budaya yang mendalam.