
Pria berusia 48 tahun, Budi Santoso, mengalami serangkaian gejala yang awalnya ia dan dokter umum kira sebagai flu biasa. Sakit kepala persisten, kelelahan, serta gangguan keseimbangan yang semakin memburuk selama beberapa bulan terakhir, akhirnya terdiagnosis sebagai tumor otak stadium lanjut. Kasus Budi menyoroti tantangan krusial dalam diagnosis dini tumor otak, di mana gejala awal yang tidak spesifik seringkali menyerupai penyakit umum, menyebabkan keterlambatan penanganan yang berpotensi fatal.
Diagnosis tumor otak seringkali terhambat oleh sifat gejalanya yang tumpang tindih dengan kondisi kesehatan lain yang lebih ringan, seperti migrain, stres, atau infeksi virus. Menurut Dr. Anurag Saxena, Kepala Klaster Delhi/NCR untuk Departemen Bedah Saraf di Manipal Hospital, Dwarka, New Delhi, gejala tumor otak bersifat progresif dan sering tersamar sebagai akibat stres, perubahan hormon, gangguan tidur, atau gaya hidup tidak sehat. Otak kerap kali mampu beradaptasi dengan pertumbuhan tumor yang lambat, menoleransi gejala hingga kondisi menjadi sangat berat dan tidak dapat diabaikan lagi. Gejala umum yang sering muncul meliputi sakit kepala yang memburuk di pagi hari, mual, muntah, gangguan penglihatan, kejang, serta perubahan perilaku atau kepribadian. Sakit kepala akibat tumor otak biasanya tidak mereda dengan obat pereda nyeri biasa dan bisa memburuk saat batuk atau mengejan.
Data Global Cancer Observatory tahun 2020 mencatat sekitar 308.102 kasus baru tumor otak di seluruh dunia, dengan 241.037 kematian terkait. Di Indonesia, pada tahun yang sama, terdapat 5.964 kasus baru tumor otak, menyumbang 1,5% dari total kasus kanker di Indonesia, dengan 5.298 kematian. Angka kematian akibat tumor otak di Indonesia berada di urutan setelah ginjal, diabetes, stroke, dan hipertensi. Kurangnya data epidemiologi yang memadai di Indonesia, serta kurangnya literasi masyarakat tentang gejala awal tumor otak, menjadi hambatan besar dalam upaya deteksi dini.
Keterlambatan diagnosis dapat berdampak signifikan pada tingkat kelangsungan hidup pasien. Tingkat kelangsungan hidup lima tahun untuk penderita kanker otak adalah sekitar 36% secara global, meskipun angka ini bervariasi tergantung pada jenis tumor, usia pasien, dan lokasi tumor. Sebagai contoh, glioblastoma, jenis tumor otak ganas paling umum, memiliki tingkat kelangsungan hidup rata-rata hanya sekitar 15 bulan setelah diagnosis pertama. Di sisi lain, tumor jinak seperti meningioma, yang merupakan jenis tumor otak primer paling umum dan mayoritas berjenis grade 1 (90%), memiliki peluang kesembuhan lebih tinggi jika dapat diangkat seluruhnya melalui operasi. Namun, pada pria, meningioma kerap ditemukan sudah di grade 2 dan 3, yang lebih ganas.
Pentingnya deteksi dini tidak dapat dilebih-lebihkan. Spesialis bedah saraf Bethsaida Hospital Gading Serpong, Tangerang Selatan, Wienorman Gunawan, menegaskan bahwa deteksi dini sangat penting untuk memberikan kesempatan hidup yang lebih baik pada pasien kanker otak. Proses diagnosis melibatkan tanya jawab mendalam mengenai gejala dan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik neurologis, serta pemeriksaan penunjang seperti CT scan atau MRI kepala, PET scan, dan biopsi. MRI, terutama dengan kontras, memberikan gambaran yang lebih detail mengenai ukuran dan posisi tumor, serta membantu mengidentifikasi area peningkatan pembuluh darah yang sering terjadi pada jaringan neoplastik.
Meningkatnya kesadaran masyarakat akan gejala tumor otak dan perlunya segera mencari pertolongan medis untuk keluhan yang persisten dan memburuk adalah kunci. Selain itu, pengembangan teknologi deteksi dini seperti sistem berbasis pembelajaran mendalam (deep learning) dengan citra MRI menunjukkan potensi besar untuk meningkatkan akurasi diagnosis dan membuatnya lebih terjangkau. Dengan kolaborasi antara tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, dan masyarakat, diharapkan kasus seperti Budi Santoso dapat dideteksi lebih awal, memperbesar peluang keberhasilan pengobatan dan meningkatkan kualitas hidup pasien tumor otak di masa depan.