Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Waspada Kanker Usus Besar: Gejala Tersembunyi yang Kini Mengincar Usia Muda

2026-01-23 | 23:33 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-23T16:33:37Z
Ruang Iklan

Waspada Kanker Usus Besar: Gejala Tersembunyi yang Kini Mengincar Usia Muda

Peningkatan kasus kanker kolorektal secara global menunjukkan tren mengkhawatirkan dengan kelompok usia muda menjadi sorotan utama, di mana gejala awal seringkali terabaikan atau salah didiagnosis sebagai kondisi lain yang kurang serius. Sejak tahun 2023, kanker kolorektal telah menjadi penyebab kematian akibat kanker nomor satu pada orang berusia di bawah 50 tahun di Amerika Serikat, menggeser posisi kelima pada awal 1990-an. Data American Cancer Society (ACS) memperkirakan pada tahun 2024, terdapat 152.810 kasus baru kanker kolorektal di AS, dengan 106.590 kasus kanker usus besar dan 46.220 kasus kanker rektum. Insiden pada kelompok usia di bawah 55 tahun terus meningkat antara 1% hingga 2% setiap tahunnya sejak pertengahan 1990-an. Di Indonesia, pada tahun 2022, tercatat 25.997 kasus kanker kolorektal, menempatkannya sebagai kanker ketiga terbanyak. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.400 pasien berusia di bawah 40 tahun, dengan 968 kasus pada usia 30-39 tahun, dan 446 kasus pada usia 20-29 tahun.

Gejala kanker kolorektal pada individu muda seringkali tidak spesifik dan mirip dengan kondisi umum saluran pencernaan. Gejala-gejala yang patut diwaspadai meliputi sakit perut, pendarahan pada area dubur, perubahan pola buang air besar seperti diare atau sembelit yang persisten, feses berdarah atau perubahan konsistensi feses, anemia defisiensi besi, perut terasa tidak nyaman, mudah merasa lelah, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan. Kasus seperti Jenna Scott, yang didiagnosis kanker usus besar stadium 4 pada usia 31 tahun setelah keluhan nyeri perut hebatnya diabaikan sebagai bagian dari kehamilan, menyoroti tantangan diagnosis dini pada usia muda. Satu dari lima pasien yang didiagnosis kanker kolorektal kini berusia di bawah 55 tahun. Hampir 10% kasus kanker kolorektal di seluruh dunia terjadi pada individu di bawah usia 50 tahun.

Dokter dan ahli kesehatan masih berupaya memahami sepenuhnya penyebab pasti peningkatan kasus pada usia muda. Namun, beberapa faktor risiko dan dugaan telah teridentifikasi. Gaya hidup tidak sehat, termasuk pola makan tinggi lemak dan rendah serat, konsumsi daging olahan berlebihan, kurangnya aktivitas fisik atau gaya hidup sedenter, merokok, dan konsumsi alkohol, secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan risiko. Obesitas juga menjadi faktor risiko signifikan karena jumlah lemak tubuh yang tinggi dapat memicu inflamasi, yang meningkatkan risiko kanker. Selain itu, faktor genetik memegang peranan penting. Sekitar 20% pasien di bawah usia 50 tahun memiliki mutasi genetik yang diwariskan, dan riwayat keluarga dengan kanker kolorektal atau polip usus besar meningkatkan risiko. Perubahan mikrobioma usus dan penggunaan antibiotik juga diduga berkontribusi. Penelitian terbaru dari UT Southwestern bahkan menemukan bahwa usus besar pasien muda dengan kanker kolorektal menjadi sangat kaku dan keras akibat peradangan kronis, yang mengubah kolagen dan memicu pertumbuhan sel kanker.

Implikasi dari peningkatan kasus pada usia muda ini sangat serius. Banyak pasien muda didiagnosis pada stadium lanjut (stadium III dan IV), yang secara signifikan menurunkan peluang kesembuhan dibandingkan deteksi dini. Penundaan diagnosis sering terjadi karena gejala dianggap kurang serius atau tidak sesuai dengan usia, baik oleh pasien maupun kadang tenaga medis. Beban pengobatan kanker juga menjadi tantangan besar, dengan pembiayaan kesehatan akibat kanker mencapai sekitar Rp 5,9 triliun pada tahun 2022 di Indonesia. Diagnosis pada usia muda juga menimbulkan tantangan jangka panjang unik, seperti risiko kekambuhan yang lebih tinggi, kelelahan kronis, dan dampak pada karier, pendidikan, serta kehidupan sosial.

Menanggapi tren ini, para ahli menekankan urgensi peningkatan kesadaran gejala dan perlunya penyesuaian pedoman skrining. American Cancer Society merekomendasikan skrining kanker kolorektal dimulai pada usia 45 tahun untuk orang dengan risiko rata-rata, lima tahun lebih awal dari rekomendasi sebelumnya. Namun, individu dengan riwayat keluarga atau faktor risiko tertentu mungkin perlu memulai skrining lebih awal lagi. Rebecca Siegel, Direktur Ilmiah Senior untuk penelitian surveilans di American Cancer Society, menekankan bahwa meskipun penyebab peningkatan kasus masih diselidiki, kesadaran gejala, penghilangan stigma, dan peningkatan partisipasi skrining dapat menyelamatkan nyawa. Kementerian Kesehatan RI sendiri menargetkan 33 juta warga Indonesia dalam kategori berisiko tinggi akan diskrining selambatnya tahun 2025 untuk mendeteksi kasus lebih dini. Upaya ini sangat penting untuk mencegah metastasis dan meningkatkan tingkat kesintasan.