Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Malaysia Salurkan 2 Ton Pasokan Medis Mendesak untuk Korban Banjir Aceh

2025-12-01 | 07:13 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-01T00:13:55Z
Ruang Iklan

Malaysia Salurkan 2 Ton Pasokan Medis Mendesak untuk Korban Banjir Aceh

Bantuan medis berskala besar dari Malaysia telah tiba di Aceh untuk membantu korban bencana hidrometeorologi yang melanda provinsi tersebut. Sebanyak dua ton obat-obatan dan alat kesehatan, setara dengan dua juta unit, mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, pada Sabtu, 29 November 2025, pukul 19.00 WIB. Pengiriman ini menjadi bantuan medis internasional pertama yang berhasil mencapai Aceh sejak diterjang Badai Siklon Senyar pada 22 November 2025.

Badai Siklon Senyar memicu hujan ekstrem dengan intensitas lebih dari 400 mm dalam dua hari, menyebabkan banjir bandang dan longsor besar di berbagai wilayah Aceh. Posko Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi Aceh melaporkan bahwa bencana ini telah menyebabkan kerusakan parah.

Data terbaru hingga Minggu, 30 November 2025, pukul 20.30 WIB, mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat banjir dan longsor di Aceh bertambah menjadi 102 orang, dengan 116 orang dilaporkan hilang dan 326 orang mengalami luka berat. Bencana ini berdampak pada 18 kabupaten/kota, 224 kecamatan, dan 1.652 gampong, dengan total 104.901 kepala keluarga atau 526.098 jiwa terdampak. Sebanyak 292.806 jiwa dari 62.141 kepala keluarga saat ini mengungsi di 403 titik pengungsian. Sebelumnya, data sementara pada 29 November 2025 mencatat 47 orang meninggal dunia, 19 orang hilang, dan puluhan ribu warga mengungsi.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf telah menetapkan status tanggap darurat bencana provinsi selama 14 hari, terhitung mulai 28 November hingga 11 Desember 2025. Penetapan status darurat ini diharapkan dapat mempercepat mobilisasi logistik, upaya evakuasi, dan dukungan lintas lembaga untuk menangani bencana yang meluas.

Bantuan kemanusiaan dari Malaysia ini disalurkan melalui kolaborasi antara Gomez Medical Services dan tim kemanusiaan Blue Sky Rescue Malaysia. Kedatangan bantuan ini sangat krusial untuk memenuhi kebutuhan darurat di posko-posko pengungsian dan fasilitas kesehatan yang terdampak.

Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA), Bang Jack Libya, menyampaikan apresiasi atas dukungan medis dari Malaysia dan meminta Pemerintah Pusat Republik Indonesia untuk memastikan seluruh jalur bantuan, baik dari dalam maupun luar negeri, tidak mengalami hambatan birokrasi, bea cukai, maupun izin penerbangan. Bang Jack menekankan bahwa dalam kondisi darurat, kecepatan adalah faktor penyelamat nyawa. Laporan juga menunjukkan bahwa beberapa daerah terisolasi menghadapi krisis logistik dan kemanusiaan yang mendesak, dengan persediaan makanan yang menipis dan akses bahan bakar yang habis, menghambat upaya mobilisasi tim penolong.