Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

IDAI Peringatkan Dampak Mi Instan pada Gizi Anak Pengungsi

2025-12-23 | 01:23 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-22T18:23:23Z
Ruang Iklan

IDAI Peringatkan Dampak Mi Instan pada Gizi Anak Pengungsi

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara tegas memperingatkan bahaya konsumsi mi instan berlebihan bagi anak-anak, khususnya bayi dan balita, di lokasi pengungsian bencana, dengan toleransi maksimal hanya tiga hari dalam kondisi darurat ekstrem. Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Umum IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA, pada Senin (22/12/2025) di Jakarta, menyusul temuan meluasnya konsumsi mi instan di kalangan anak korban bencana di berbagai wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang dilanda banjir sejak November 2025. Keterbatasan akses pangan bergizi di tenda-tenda darurat seringkali menjadikan mi instan sebagai pilihan utama bantuan logistik, namun praktik ini berisiko merusak status gizi anak secara signifikan.

Kebutuhan nutrisi bayi dan balita sangat berbeda dengan orang dewasa, bahkan dalam situasi krisis sekalipun. Mi instan, dengan kandungan karbohidrat dan garam yang tinggi namun rendah protein dan serat, tidak mampu memenuhi asupan gizi esensial yang diperlukan untuk tumbuh kembang optimal anak. Konsumsi jangka panjang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan, memicu kondisi seperti malnutrisi dan stunting. IDAI Aceh melaporkan adanya kasus stunting di antara anak-anak korban bencana di wilayah tersebut, di mana mi instan menjadi salah satu makanan yang sering dikonsumsi sebagai bantuan.

Indonesia sendiri masih menghadapi beban ganda malnutrisi, termasuk stunting yang dialami lebih dari 4,5 juta balita. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 menunjukkan angka stunting nasional sebesar 21,6%, dengan beberapa provinsi seperti Sumatera Barat masih di atas rata-rata nasional. Krisis bencana memperparah kerentanan ini, menjadikan anak-anak kelompok paling rentan terhadap masalah kesehatan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), diare, penyakit kulit, serta gangguan gizi.

Dr. Piprim mendesak agar prioritas penyediaan pangan di lokasi bencana segera beralih dari mi instan ke alternatif yang lebih bergizi. Idealnya, dapur umum harus didirikan secepatnya untuk menyediakan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) yang sesuai dengan kebutuhan gizi anak. Jika dapur umum belum memungkinkan, IDAI merekomendasikan penggunaan makanan dengan teknologi retort. Pangan retort adalah makanan siap saji seperti opor ayam, rendang, atau bubur kacang hijau yang telah melalui proses sterilisasi suhu tinggi dan dikemas kedap udara, menjadikannya praktis namun tetap bergizi. Selain itu, IDAI juga menekankan pentingnya mempertahankan pemberian Air Susu Ibu (ASI) sebagai prioritas utama bagi bayi di tengah bencana, dengan memastikan lingkungan yang mendukung dan privasi bagi ibu menyusui. Upaya komprehensif penanganan bencana harus mencakup aspek gizi darurat, layanan medis, serta dukungan kesehatan mental dan psikososial untuk anak-anak.