:strip_icc()/kly-media-production/medias/5417901/original/044374400_1763551396-20251119_180618.jpg)
Sebuah toko kue legendaris di Tokyo, Jepang, menghadapi masalah pemborosan signifikan yang disebabkan oleh perilaku turis asing. Kobikicho Yoshiya, sebuah toko berusia 103 tahun yang terletak di kawasan elit Ginza, melaporkan bahwa banyak kue dorayaki legendaris mereka terbuang sia-sia karena pesanan yang tidak diambil.
Permasalahan ini mulai mencuat ke publik setelah pihak toko menyuarakan keluhannya melalui media sosial X (sebelumnya Twitter) pada 11 November 2025. Menurut unggahan tersebut, hampir semua turis asing yang melakukan reservasi dorayaki tidak muncul untuk mengambil pesanan mereka. Kejadian ini dilaporkan terjadi hampir setiap hari, kadang-kadang melibatkan dua hingga tiga kelompok turis dalam sehari.
Kobikicho Yoshiya dikenal dengan dorayaki berbentuk setengah lingkaran yang unik, dirancang khusus agar aktor Kabuki dapat menyantapnya tanpa merusak riasan tebal mereka. Toko ini berkomitmen untuk memproduksi dorayaki sepenuhnya dengan tangan dan tanpa menggunakan bahan pengawet sedikit pun, sebuah dedikasi yang telah membuat mereka bertahan lebih dari satu abad. Namun, resep tradisional ini berarti dorayaki tidak tahan lama dan direkomendasikan untuk segera dikonsumsi, idealnya tidak lebih dari satu hari setelah dibuat. Pihak toko menolak untuk menjual kembali dorayaki yang telah disimpan seharian menunggu pelanggan, sehingga kue yang tidak diambil akan dibuang saat toko tutup.
Fenomena ini menimbulkan kerugian ganda bagi Yoshiya. Tidak hanya bahan baku dan tenaga kerja terbuang percuma, toko juga tidak menerima pembayaran untuk pesanan yang tidak diambil, karena sistem pembayaran dilakukan saat pengambilan. Meskipun menghadapi kesulitan ini, pemilik Yoshiya menegaskan bahwa mereka tidak berniat menolak reservasi dari pelanggan asing. Mereka berharap turis asing dapat menunjukkan pertimbangan dan tanggung jawab yang lebih baik terhadap pesanan yang telah dibuat. Beberapa pihak menyarankan sistem pembayaran di muka untuk reservasi, namun Yoshiya belum siap mengambil langkah tersebut, mengingat biaya untuk menyiapkan sistem semacam itu. Situasi ini menyoroti tantangan yang dihadapi bisnis tradisional Jepang di tengah lonjakan pariwisata internasional.