Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Jepang Mati-matian Berjuang Dapatkan Panda dari China

2025-12-30 | 23:14 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-30T16:14:47Z
Ruang Iklan

Jepang Mati-matian Berjuang Dapatkan Panda dari China

Tokyo akan kehilangan panda raksasa terakhirnya pada Januari 2026, mengakhiri lebih dari lima dekade "diplomasi panda" yang telah menjadi simbol penting persahabatan bilateral dengan Beijing. Pemerintah Metropolitan Tokyo dan pemerintah pusat telah berulang kali mengajukan permohonan untuk memperpanjang masa pinjaman atau mendapatkan panda baru, namun permohonan tersebut tidak disetujui, menyusul memburuknya hubungan diplomatik antara kedua negara.

Anak kembar Xiao Xiao dan Lei Lei, panda terakhir yang tersisa di Kebun Binatang Ueno, dijadwalkan kembali ke Tiongkok pada akhir Januari, sebulan lebih awal dari tenggat waktu pinjaman mereka di bulan Februari. Kepergian mereka akan menjadikan Jepang tanpa panda untuk pertama kalinya sejak tahun 1972, ketika Tiongkok pertama kali mengirimkan panda sebagai isyarat persahabatan setelah normalisasi hubungan diplomatik pasca-Perang Dunia II.

Penyebab utama dari kebuntuan ini diyakini adalah meningkatnya ketegangan diplomatik, khususnya setelah pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. Pada bulan lalu, Perdana Menteri Takaichi mengisyaratkan bahwa Tokyo dapat melakukan intervensi militer jika Beijing berupaya mengambil kendali atas Taiwan. Pernyataan tersebut "membuat Tiongkok marah" dan "menyelimuti prospek panda baru," menurut beberapa laporan. Duta Besar Tiongkok Fukong dilaporkan menyebut komentar Takaichi "sama sekali tidak dapat diterima" dan mendesak Jepang untuk menarik kembali pernyataannya, memperingatkan adanya risiko serius terhadap perdamaian di Asia dan dunia.

Minoru Kihara, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, menyatakan pada Desember 2025 bahwa rakyat Jepang mencintai panda dan "pertukaran melalui panda telah berkontribusi untuk meningkatkan sentimen publik antara Jepang dan Tiongkok." Namun, permintaan pemerintah Tokyo untuk mempertahankan panda-panda yang sangat populer tersebut, yang menarik banyak pengunjung ke kebun binatang, tidak disetujui oleh Tiongkok.

Dampak dari penarikan ini terasa mendalam di Jepang. Ribuan penggemar panda berbondong-bondong memadati Kebun Binatang Ueno untuk melihat Xiao Xiao dan Lei Lei untuk terakhir kalinya, dengan antrean panjang dan waktu melihat yang dibatasi hanya sekitar satu menit per orang. Mikako Kaneko, Wakil Direktur Kebun Binatang Ueno, menyatakan kesedihan namun menerima kenyataan tersebut, menegaskan misi mereka adalah mengembalikan panda dalam kondisi sehat. Para pengunjung menyatakan kesedihan dan kekosongan, merasa "seolah-olah ada sesuatu yang besar hilang" dari kehidupan mereka. Hilangnya daya tarik utama ini juga diperkirakan memiliki konsekuensi ekonomi. Pameran publik Xiao Xiao dan Lei Lei sendiri diperkirakan menghasilkan efek ekonomi sekitar 30,8 miliar yen (sekitar 320 miliar won) selama satu tahun.

Sejak tahun 1972, lebih dari 30 panda telah dipelihara di Jepang melalui perjanjian pinjaman penelitian bersama. Namun, praktik "diplomasi panda" ini, di mana Tiongkok meminjamkan panda raksasa sebagai simbol niat baik dan untuk memperkuat hubungan diplomatik, kini dipertanyakan dalam konteks hubungan Jepang-Tiongkok yang memburuk. Beberapa pengamat bahkan menyebut situasi ini sebagai "sanksi panda." Kontrasnya, negara lain seperti Prancis baru-baru ini berhasil mengamankan pinjaman panda baru setelah kunjungan Presiden Emmanuel Macron ke Beijing pada awal Desember, dan Australia juga menerima panda baru setelah hubungan diplomatiknya dengan Tiongkok membaik. Pergeseran ini menunjukkan bahwa sementara "diplomasi panda" tetap menjadi alat kebijakan luar negeri Beijing, penerapannya semakin selektif dan secara langsung mencerminkan kondisi hubungan bilateral. Ketidakpastian mengenai apakah Jepang akan kembali menerima panda di masa depan menjadi indikator signifikan bagi arah hubungan Jepang-Tiongkok yang kompleks.