
Aktor dan komedian legendaris Eddie Murphy secara blak-blakan mengungkapkan perjuangan seumur hidupnya dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD) dalam film dokumenter Netflix terbarunya, "Being Eddie". Pengakuan ini memberikan wawasan mendalam tentang kondisi yang kerap kali disalahpahami, menyoroti gejala-gejala yang mungkin tidak disadari oleh banyak orang, bahkan oleh penderitanya sendiri.
Murphy, 64 tahun, menceritakan bahwa gejala OCD telah ia alami sejak masa kanak-kanak. Ia tidak menyadari apa yang terjadi padanya saat itu. Ia ingat memiliki ritual rahasia setiap malam, di mana ia akan berulang kali memeriksa kompor di dapur untuk memastikan semua gas telah mati. Kebiasaan ini bisa berlangsung sekitar satu jam setiap malam sebelum ia bisa tidur, dan tidak ada anggota keluarganya yang mengetahuinya. Selain itu, ia juga mengakui sering membuat suara-suara aneh secara berulang saat menonton televisi. Ia hanya menganggapnya sebagai "hal aneh yang saya lakukan".
Titik balik bagi Murphy datang ketika ia dewasa dan secara kebetulan menonton segmen berita tentang OCD. Saat itulah ia akhirnya menyadari bahwa perilaku repetitifnya adalah gejala dari suatu kondisi kesehatan mental. Meskipun awalnya ia menolak label "gangguan mental" dan mencoba menghentikan kompulsinya dengan kekuatan tekad, ia mengakui kebiasaan tersebut tidak pernah sepenuhnya hilang. Hingga kini, ia masih memeriksa kompor setiap malam, namun ia telah belajar untuk mengelolanya dan mencegah dirinya melakukan pemeriksaan berulang kali. Murphy bahkan berspekulasi bahwa perhatiannya yang obsesif terhadap detail mungkin berkontribusi pada kesuksesannya di dunia komedi.
Kisah Eddie Murphy ini menyoroti bagaimana gejala OCD bisa tersembunyi dan tidak disadari, sering kali disalahartikan sebagai kebiasaan aneh atau kecerewetan semata. Gangguan obsesif-kompulsif ditandai oleh pikiran yang terus-menerus dan tidak diinginkan (obsesi) serta perilaku berulang yang terasa terpaksa untuk dilakukan (kompulsi). Obsesi dapat mencakup ketakutan akan kontaminasi atau kuman, keraguan berulang tentang mengunci pintu atau mematikan kompor, kebutuhan akan keteraturan dan simetri, serta pikiran agresif atau mengerikan tentang menyakiti diri sendiri atau orang lain.
Sementara itu, kompulsi sering kali merupakan respons terhadap obsesi tersebut. Selain pemeriksaan berulang dan kebersihan yang berlebihan, kompulsi juga bisa bermanifestasi dalam bentuk seperti menghitung secara kompulsif, menata barang dalam urutan yang sangat spesifik, mengulang doa atau frasa tertentu dalam hati, atau bahkan secara mental mencoba mengganti pikiran buruk dengan pikiran baik.
Banyak penderita OCD, seperti Eddie Murphy, mungkin melakukan ritual ini secara diam-diam dan merasa malu, sehingga menunda pengenalan dan penanganan kondisi tersebut. Penting untuk dipahami bahwa OCD bukanlah sekadar preferensi untuk kebersihan atau keteraturan, melainkan kondisi serius yang dapat mengganggu kehidupan sehari-hari secara signifikan. Jika obsesi atau kompulsi memakan waktu lebih dari satu jam setiap hari, menyebabkan penderitaan yang signifikan, atau mengganggu aktivitas sosial, sekolah, atau pekerjaan, sangat disarankan untuk mencari bantuan profesional. Pengungkapan Eddie Murphy diharapkan dapat membantu mengurangi stigma seputar kesehatan mental dan mendorong lebih banyak orang untuk mencari dukungan yang mereka butuhkan.