Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kemenkes Konfirmasi: 'Super Flu' Subclade K Terdeteksi di Indonesia Sejak 25 Desember

2025-12-31 | 10:30 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-31T03:30:44Z
Ruang Iklan

Kemenkes Konfirmasi: 'Super Flu' Subclade K Terdeteksi di Indonesia Sejak 25 Desember

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mengonfirmasi deteksi subclade K, varian baru dari virus influenza A H3N2 yang dijuluki "Super Flu", di wilayah Indonesia sejak 25 Desember 2025. Meskipun varian tersebut telah teridentifikasi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, dr. Prima, menyatakan bahwa kondisi epidemi influenza di Indonesia relatif terkendali. Hasil surveilans hingga 27 Desember 2025 menunjukkan tren kasus influenza secara nasional justru mengalami penurunan, dengan proporsi kasus influenza menurun menjadi 12 persen pada minggu ke-51 dibandingkan minggu sebelumnya, dengan proporsi tertinggi pada kelompok usia 18-59 tahun mencapai 40 persen.

Identifikasi subclade K ini muncul di tengah kekhawatiran global menyusul lonjakan kasus influenza yang signifikan di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Kanada, dan Australia, yang disebut-sebut didominasi oleh varian ini. Istilah "Super Flu" sendiri, menurut para ahli, bukanlah terminologi ilmiah, melainkan sebutan populer untuk menggambarkan peningkatan kasus flu yang cepat dan gejala yang berpotensi lebih berat. Subclade K merupakan subkelompok baru dari virus H3N2 yang telah beredar selama beberapa dekade, namun mutasinya membuatnya mampu menghindari kekebalan yang ada dari infeksi sebelumnya atau vaksin, serta diduga menyebar lebih cepat.

Di sisi lain, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, pada 27 Desember 2025 dan 30 Desember 2025, menyatakan bahwa hingga November 2025 dan data minggu lalu, belum ditemukan kasus flu akibat infeksi subclade K di Indonesia. Ia menyebut sirkulasi influenza di Indonesia didominasi subtipe H3N2 dan H1N1pdm09, dengan hasil genomik menunjukkan dominasi H3N2 clade 3C.2a yang masih sesuai dengan strain vaksin rekomendasi WHO. Kontradiksi dalam pernyataan resmi ini menggarisbawahi tantangan dalam komunikasi dan kecepatan data epidemiologis di tengah kemunculan varian virus baru. Namun, diskusi mengenai potensi masuknya subclade K ke Indonesia telah menjadi perhatian serius di kalangan ahli dan pembuat kebijakan.

Indonesia telah memiliki sistem surveilans influenza yang terintegrasi melalui Global Influenza Surveillance and Response System (GISRS) WHO, dengan dukungan surveilans Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di 31 pusat kesehatan masyarakat dan 14 rumah sakit di berbagai provinsi. Sistem ini dirancang untuk deteksi dini dan respons terhadap ancaman penyakit pernapasan. Namun, beberapa pakar, seperti Epidemiolog dari Griffith University Australia, Prof. Dicky Budiman, sempat menyoroti perlunya penguatan sistem surveilans penyakit baru di Indonesia yang dinilai masih lemah, termasuk ketergantungan pada rujukan luar negeri untuk identifikasi virus baru.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, mengingatkan bahwa meskipun kajian mendalam tentang subclade K masih berlangsung, prinsip pencegahan penyakit menular seperti perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), penggunaan masker saat sakit, dan menghindari kerumunan, harus diperkuat. Ia juga menyoroti risiko tinggi pada kelompok rentan, terutama anak-anak dengan penyakit penyerta seperti asma, penyakit paru kronis, atau kelainan jantung bawaan, di mana infeksi influenza dapat memicu komplikasi serius. Senada, dr. Nastiti dari IDAI menegaskan bahwa keparahan subclade K belum terbukti lebih tinggi dari varian flu A lainnya, namun menekankan pentingnya kewaspadaan pada kelompok balita, lansia, dan individu dengan komorbid.

Mengenai efektivitas vaksin, para ahli mengindikasikan bahwa meskipun vaksin influenza musiman saat ini mungkin tidak secara spesifik menargetkan subclade K karena formulasi dilakukan sebelum varian ini dominan, vaksinasi tetap krusial dalam melindungi dari keparahan penyakit dan risiko rawat inap. Data awal dari Inggris menunjukkan efektivitas vaksin sekitar 70-75 persen dalam mencegah rawat inap pada anak-anak, dan 30-40 persen pada orang dewasa. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh, mendesak Kemenkes untuk melakukan uji ulang efektivitas vaksin yang tersedia dan bersikap transparan terhadap hasilnya, serta menyiapkan vaksin alternatif jika diperlukan.

Deteksi dini subclade K di Indonesia menggarisbawahi realitas evolusi virus influenza yang konstan melalui mekanisme antigenic drift dan shift, yang berpotensi menurunkan efektivitas kekebalan populasi. Selain itu, peningkatan mobilitas masyarakat pasca-pandemi COVID-19 dan faktor lingkungan seperti cuaca ekstrem dan bencana alam, yang sedang melanda beberapa wilayah di Indonesia, dinilai dapat mempercepat penyebaran penyakit menular, termasuk influenza. Potensi dampak ekonomi dan sosial dari wabah influenza yang parah, seperti yang terlihat pada pandemi sebelumnya, dapat mencakup pembatasan mobilitas, penurunan pariwisata, gangguan rantai pasok, dan pelemahan daya beli masyarakat. Oleh karena itu, penguatan surveilans, edukasi masyarakat, dan percepatan pengembangan serta pengadaan vaksin influenza yang relevan menjadi imperatif untuk mitigasi risiko jangka panjang di Indonesia.