
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengonfirmasi deteksi varian influenza A (H3N2) subclade K, atau yang dikenal masyarakat sebagai 'super flu', di Tanah Air sejak 25 Desember 2025, berdasarkan laporan dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan. Meskipun demikian, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dr. Prima Yosephine, menyatakan bahwa varian ini belum memicu lonjakan kasus signifikan secara nasional maupun tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan varian influenza sebelumnya, menanggapi kekhawatiran publik atas gejala flu berkepanjangan yang dialami sebagian masyarakat.
Kemenkes menekankan pentingnya kewaspadaan dini, terutama mengingat pola peningkatan kasus influenza sering terjadi pada musim penghujan. Hingga minggu ke-51 tahun 2025, data surveilans menunjukkan proporsi Influenza A H3N2 mencapai 100 persen dari total kasus influenza, namun tren kasus influenza nasional justru menunjukkan penurunan 12 persen dibandingkan pekan sebelumnya per 27 Desember 2025. Data ini mengindikasikan bahwa sistem imunitas masyarakat dan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan masih mampu meredam penyebaran virus. Kendati demikian, kelompok usia 18 hingga 59 tahun menyumbang sekitar 40 persen dari total kasus influenza, sementara anak-anak usia 0-4 tahun dan lansia juga termasuk kelompok rentan.
Secara global, subclade K pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan telah dilaporkan di lebih dari 80 negara. Varian ini merupakan cabang mutasi terbaru dari virus Influenza A (H3N2) yang telah bersirkulasi selama puluhan tahun dan sempat menyebabkan pandemi global pada 1968 serta berkontribusi pada peningkatan flu di tahun 2024 hingga 2025, khususnya pada kelompok anak-anak. Meskipun Dr. Thomas Russo, seorang profesor dari Universitas Buffalo di New York, menyebut subclade K memiliki mutasi yang membuatnya lebih menular dengan potensi menginfeksi dua hingga tiga orang dari satu individu, observasi di Eropa antara Mei hingga November 2025 menunjukkan tidak ada perubahan signifikan pada efek keparahan, termasuk angka rawat inap, perawatan intensif, maupun kematian. Namun, dokter spesialis paru Prof. dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), dari Rumah Sakit Persahabatan menyatakan bahwa gejala subclade K cenderung lebih parah dari flu biasa atau COVID-19 yang umumnya bergejala ringan, meliputi demam tinggi antara 39 hingga 41 derajat Celcius, nyeri otot berat, kelelahan ekstrem, dan batuk kering.
Guna mencegah penyebaran dan keparahan infeksi subclade K, Kemenkes menguraikan sejumlah langkah esensial. Prima Yosephine menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh melalui pola makan bergizi dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Imbauan lain mencakup penerapan etika batuk dan bersin, mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun secara teratur, serta menggunakan masker bagi masyarakat yang bergejala atau saat berada di keramaian. Vaksinasi influenza tahunan juga disebut sebagai cara efektif untuk menekan risiko gejala berat dan komplikasi, meskipun efektivitasnya dapat bervariasi. Diperkirakan efektivitas vaksin terhadap subclade ini berkisar antara 64 hingga 78 persen pada anak-anak dan 41 hingga 55 persen pada kelompok dewasa dalam mengurangi keparahan paparan. Masyarakat diimbau segera mencari fasilitas pelayanan kesehatan terdekat jika mengalami gejala flu berat yang tidak membaik dalam hitungan minggu.
Menanggapi situasi ini, Komisi IX DPR RI yang membidangi kesehatan mendesak Kemenkes untuk melakukan uji ulang vaksin influenza yang ada dan menyiapkan rencana antisipasi vaksin alternatif jika terbukti efektivitasnya rendah terhadap varian dominan. Komisi juga menyerukan transparansi data uji klinis dan surveilans virus influenza di Indonesia. Pemerintah menegaskan terus memantau perkembangan melalui sistem surveilans penyakit menular di berbagai daerah dan berkoordinasi dengan fasilitas layanan kesehatan dan laboratorium rujukan untuk deteksi dini. Langkah mitigasi ini vital mengingat mutasi virus influenza yang cepat dan mobilitas internasional yang berpotensi menjadi jalur masuk penyakit menular lintas negara.