
Gelombang bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh pada akhir November 2025 telah menimbulkan duka mendalam dan kerusakan luas di berbagai wilayah. Korban jiwa terus bertambah, dengan data terbaru hingga 1 Desember 2025, mencatat 156 orang meninggal dunia dan 1.838 jiwa terdampak. Data lain menyebutkan 80 orang meninggal, 330 luka berat, 1.284 luka ringan, dan 71 orang masih dinyatakan hilang, dengan total 441.842 jiwa terdampak bencana hidrometeorologi. Kabupaten Nagan Raya sendiri mencatat 14.537 jiwa terdampak banjir bandang. Situasi ini mendesak peran vital para tenaga medis, termasuk dokter anak, yang berjuang tanpa henti di tengah kesulitan.
Di balik upaya penanganan korban, terkuak kisah-kisah heroik para dokter yang turut menjadi bagian dari dampak bencana. Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso Sp.A(K), mengungkapkan keprihatinan mendalamnya atas kondisi di lapangan dan menegaskan bahwa bahkan sejumlah dokter anak juga menjadi korban, dengan rumah mereka terdampak banjir. Meskipun demikian, para dokter anak ini tetap menunjukkan dedikasi luar biasa dengan terus memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Banjir dan longsor yang terjadi akibat hujan deras pemicu siklon tropis serta kerusakan ekosistem hutan di hulu daerah aliran sungai (DAS) telah menyebabkan ratusan desa terendam dan infrastruktur vital terputus. Kondisi ini menciptakan tantangan besar bagi tim medis, terutama dalam menjangkau wilayah terisolir. Pemerintah Aceh dan berbagai pihak, termasuk bantuan dari Malaysia yang tiba dengan obat-obatan dan tim dokter, bahu-membahu menyalurkan bantuan dan layanan kesehatan. Universitas Hasanuddin juga telah memberangkatkan tim bantuan medis, termasuk dokter anak, ke Kabupaten Pidie.
Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan dalam situasi bencana ini, baik secara fisik maupun emosional. IDAI menyoroti pentingnya pendampingan psikologis untuk mengatasi trauma, ketakutan, dan kecemasan yang umum terjadi pada anak-anak. Selain itu, risiko penyakit menular di lokasi pengungsian seperti diare, ISPA, dan campak juga menjadi perhatian serius, sehingga imunisasi dan kebersihan menjadi prioritas. Ketersediaan posko kesehatan ramah anak, ruang laktasi, area bermain aman, serta fasilitas kebersihan dasar sangat ditekankan. Kisah para dokter anak yang berjuang melayani di tengah kondisi personal yang terdampak menjadi cerminan nyata dari semangat kemanusiaan dan profesionalisme yang tak tergoyahkan dalam menghadapi bencana.